Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Maros-Pangkep: Profil Co-pilot dan Proses Pencarian
Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT yang dilaporkan jatuh di wilayah Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada Sabtu (17/1/2026) menimbulkan kekhawatiran besar. Salah satu anggota kru pesawat tersebut adalah Farhan Gunawan, yang diketahui memiliki latar belakang pendidikan yang cukup menarik.
Farhan Gunawan, co-pilot pesawat tersebut, merupakan alumni dari SMA Islam Athirah Makassar. Ia bahkan pernah menjabat sebagai Ketua OSIS sejak masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Informasi ini dibenarkan oleh Syamsir, mantan Kepala Sekolah Islam Athirah, yang menyatakan bahwa Farhan sempat menjadi Ketua OSIS SMP pada periode 2014-2015 dan SMA pada periode 2016-2017.
Selain itu, Farhan juga tercatat sebagai alumni Taruna Akademi Penerbangan Indonesia. Direktur Sekolah Islam Athirah, Syamril, mengonfirmasi bahwa Farhan adalah mantan ketua OSIS baik di tingkat SMP maupun SMA. Ia menjelaskan bahwa Farhan tamat dari sekolah tersebut pada tahun 2016 dan kemudian melanjutkan studi di akademi penerbangan.
Data Manifest Penerbangan Pesawat
Setelah hilang kontak, data manifest penerbangan pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport (IAT) rute Yogyakarta-Makassar akhirnya dirilis. Dalam manifest tersebut, total penumpang tercatat sebanyak 11 orang, termasuk delapan kru penerbangan dan tiga penumpang.
Delapan kru penerbangan terdiri atas Kapten Andy Dahananto selaku pilot, First Officer Yudha Mahardika, serta enam awak lainnya, yakni Sukardi, Hariadi, Franky D. Tanamal, Junaidi, Florencia Lolita sebagai awak kabin, dan Esther Aprilita S. yang juga bertugas sebagai awak kabin. Sementara itu, tiga penumpang yang tercatat dalam manifest masing-masing bernama Deden, Ferry, dan Yoga.
Penemuan Serpihan Pesawat
Pesawat ATR 42-500 bernomor registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport terakhir kali terlihat oleh petugas gabungan di lokasi. Laporan dari Handy Talky (HT) anggota TNI di Gerbang Desa Tompo Bulu Kabupaten Pangkep Minggu (18/1/2026) menyebutkan bahwa pesawat menabrak gunung dan serpihan terlihat.
Petugas TNI melaporkan bahwa bodi besar pesawat terlihat namun tertutup, sehingga tidak sempat didokumentasikan oleh helikopter. Titik ditemukan heli pencari berada di koordinat 119 derajat, 44 menit, 49,27 second. Pantauan Tribun Timur menunjukkan bahwa petugas mempertimbangkan opsi evakuasi pertama menggunakan helikopter. Jika tidak memungkinkan, akan dilakukan evakuasi lewat jalur darat melalui Desa Tompo Bulu Kabupaten Pangkep.
Pukul 09.23 Wita cuaca di lokasi yang awalnya cerah perlahan mulai mendung dan sedikit gerimis. Prajurit TNI tampak mulai menaikkan kantong mayat.
Pendaki Melihat Api dan Ledakan
Seorang pendaki, Reski (20) dan Muslimin (18), mendengar ledakan saat berada di puncak Gunung Bulusaraung Kabupaten Pangkep Sulsel Sabtu (17/1/2026) siang. Mereka sedang menikmati keindahan alam saat tiba-tiba mendengar ledakan. Ada api dan dinding besi jatuh ke puncak Gunung Bulusaraung.
Reski mengatakan bahwa ia sudah 45-60 menit di puncak gunung, sekitar tugu puncak saat mendengar ada ledakan, melihat api. Setelah itu banyak beterbangan material dari pesawat. Dokumen, ada peta pelastik, seukuran meja tamu. Ternyata itu serpihan Pesawat ATR 42-500 bernomor registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport.
Logo Kementerian Kelautan dan Perikanan bergambar Garuda dia temukan juga dipuncak. Angin saat kejadian itu sangat kencang dan berkabut parah. Jarak pandang hanya 10 hingga 50 meter. Tak ada hujan.
Proses Pencarian dan Penyelidikan
Reski dan Muslimin mengaku tak tahu ada pesawat hilang. Mereka mendaki sekitar pukul 10.00 dari desa Tompobulu. Motor disimpan di basecamp, posko 1 sekitar 810 mdpl. Lama mendaki sekitar 2.5 jam. Mereka melalui jalur pendakian resmi. Tiba di posko 9 sekitar pukul 12.00 wita. Di puncak mereka sempat melihat ada pendaki lain. Jumlahnya sekitar 6 orang. Ada warga Pangkep dan Makassar. Anak muda seusia mereka.
Pukul 14.00 wita mereka kembali tiba ke desa Tompobulu sekitar pukul 16.30 wita. Mereka baru tahu saat ada kabar kejadian dari Info kejadian Pangkep. Mereka lalu kirim dan upload video penemuannya. Lalu naik motor bersama Muslimin, rekannya ke Labakkang, sekitar 1,5 jam. Jarak antara Balocci ke Labakkang sekitar 32 km, ke arah barat.
Untuk memaksimalkan proses pencarian dan penyelidikan, Pemerintah Kabupaten Pangkep bersama tim gabungan membuka Posko Terpadu di Kantor Desa Tompobulu. Posko ini menjadi pusat koordinasi pencarian dari dua arah, yakni dari Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep.











