"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Gaji Syifa, Prajurit AS Asal Banten yang Masih 20 Tahun

Syifa, Seorang WNI yang Bergabung sebagai Tentara Amerika Serikat

Seorang perempuan asal Indonesia, Syifa, kini resmi menjadi bagian dari Army National Guard (Garda Nasional) Amerika Serikat. Penampilannya yang tetap mengenakan hijab di balik seragam loreng bertuliskan “US Army” menarik perhatian netizen dan membuat publik penasaran.

Syifa, yang berusia 20 tahun, berasal dari Tangerang, Banten. Ia adalah seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah memiliki Green Card atau izin tinggal tetap di Amerika Serikat. Meskipun tidak memiliki status kependudukan AS, ia memenuhi syarat untuk mendaftar sebagai tentara karena telah menetap di negara tersebut sejak pertengahan 2023. Saat ini, keluarganya tinggal di wilayah Kensington, Maryland, kawasan pinggiran Washington DC.

Media sosial dihebohkan dengan video rekaman ketika Syifa ditemani oleh ibunya di bandara saat akan bertugas sebagai tentara Amerika Serikat. Dalam video tersebut, Syifa terlihat mengenakan seragam loreng US Army lengkap dengan hijab. Penampilan ini kemudian menuai berbagai reaksi warganet Indonesia.

Gaji Tentara US Army

Gaji tentara AS diatur berdasarkan sistem kepangkatan dan masa kerja. Untuk tingkat pemula seperti Syifa yang baru bergabung sebagai prajurit Enlisted (E), gaji yang diterima mencakup seluruh waktu yang dihabiskan dalam pelatihan. Umumnya, anggota Garda Nasional menjalani latihan rutin (drill) sekitar dua hari sebulan, ditambah dua minggu Pelatihan Tahunan (Annual Training) setiap tahunnya.

Selama menjalani pelatihan keterampilan kerja serta Pelatihan Tahunan, anggota dianggap berada dalam status Tugas Aktif (Active Duty) dan dibayar sebagaimana mestinya. Berdasarkan data terbaru per 20 Januari 2026, rata-rata gaji tahunan seorang anggota Garda Nasional di Amerika Serikat mencapai $35.072 (sekitar Rp605 juta dengan kurs asumsi). Angka ini setara dengan:

  • $2.922 (Rp49,5 juta) per bulan
  • $674 (Rp11,4 juta) per minggu
  • $16,86 (Rp285 ribu) per jam

Bagi prajurit seperti Syifa, angka ini merupakan pendapatan dasar yang masih bisa berkembang pesat seiring dengan kenaikan pangkat, tingkat pendidikan, dan masa bakti.

Peluang Kenaikan Gaji

Data dari ZipRecruiter menunjukkan bahwa rentang gaji di Garda Nasional sangat bervariasi. Meski mayoritas berada di angka $30.000 hingga $38.500, prajurit dengan kualifikasi tinggi (persentil ke-90) bisa membawa pulang hingga $45.000 per tahun. Faktor-faktor seperti MOS (Spesialisasi Okupasi Militer), lokasi penempatan, dan pengalaman lapangan menjadi kunci utama dalam mendongkrak pendapatan tersebut.

Selain gaji pokok, menjadi anggota Garda Nasional menawarkan berbagai keuntungan finansial yang signifikan:

  • Tunjangan Perumahan: Bagi mereka yang memiliki tanggungan (keluarga), tersedia tunjangan tempat tinggal tambahan.
  • Keuntungan Pajak: Pajak penghasilan hanya dikenakan pada gaji pokok. Bonus atau pendapatan tambahan saat bertugas di luar negeri seringkali bebas pajak (tax-exempt).
  • Status Tugas Aktif: Setiap kali dikerahkan untuk pelatihan tahunan atau misi khusus, prajurit dibayar penuh dengan standar Active Duty.

Sosok Syifa dan Keluarganya

Safitri, sang ibu, menjelaskan bahwa Syifa saat ini tengah menjalani proses training sebagai militer AS yang akan selesai pada bulan Januari ini. Awalnya, Safitri merasa khawatir karena ia kira Syifa akan disuruh perang. Namun, ternyata posisi yang diambil anaknya adalah di National Guard dan bekerja di bagian office.

Keputusan Syifa untuk bergabung dengan militer AS telah melalui pertimbangan setelah berdiskusi dengan sesama diaspora Indonesia yang juga menjadi tentara di AS. “Awal datang ke sini, ada tetangga dari Indonesia yang juga army. Mereka banyak memberi informasi,” ungkapnya.

Safitri dan keluarga merupakan diaspora yang telah tinggal di Amerika Serikat sejak pertengahan 2023 lalu. Mereka pindah ke Amerika Serikat setelah mendapat visa Green Card, yaitu izin tinggal tetap di AS yang memungkinkan warga negara asing tinggal dan bekerja secara legal di AS dalam jangka panjang.

Penggunaan Hijab dalam Militer AS

Terkait penampilan berhijab yang dikenakan Syifa, Safitri menyebut tidak ada masalah. “Sebelum mendaftar tentu kami juga berdiskusi dengan keluarga dan mencari informasi. Salah satunya dengan penampilan hijab.” Ternyata memang diperbolehkan, dan ada juga anggota dari negara-negara lain yang mengenakan hijab selain dari Indonesia.

Meski begitu, keputusan Syifa yang masih berstatus WNI untuk menjadi anggota militer di AS mendapat berbagai macam respons dari netizen. Ada yang mendukung, ada juga yang menyesalkan. Terkait itu, Safitri dan keluarga tidak terlalu mempermasalahkan. “Mereka yang berkomentar negatif mungkin tidak mengetahui seperti apa kenyataannya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *