"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Setelah Dua Tahun Ditutup, Perbatasan Gaza-Mesir Akhirnya Dibuka Kembali

Pembukaan Perbatasan Rafah: Langkah Kecil Menuju Normalisasi

Pemerintah Israel mengumumkan rencana pembukaan kembali perbatasan Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir mulai Minggu, 1 Februari 2026. Keputusan ini diambil setelah hampai dua tahun penutupan sejak Mei 2024. Pembukaan Rafah merupakan bagian dari fase lanjutan perjanjian gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat.

Meski demikian, akses lintas perbatasan tersebut hanya diperbolehkan secara terbatas dan tetap berada di bawah pengawasan ketat otoritas Israel. Coordinator of Government Activities in the Territories (COGAT), lembaga Israel yang menangani urusan sipil di wilayah Palestina, menyatakan bahwa Rafah hanya akan dibuka untuk pergerakan orang-orang tertentu. Setiap pelintas tetap diwajibkan memperoleh izin keamanan dari Israel serta berkoordinasi dengan otoritas Mesir.

Selain itu, agen Uni Eropa akan turut dilibatkan dalam pengawasan, meskipun proses identifikasi lanjutan tetap dikendalikan oleh militer Israel di koridor perbatasan yang masih berada di bawah kendalinya. Pembatasan tersebut membuat jumlah warga yang dapat menyeberang setiap hari sangat terbatas. Prioritas diberikan kepada pasien medis serta warga Gaza yang mengungsi selama konflik berlangsung.

Namun, ribuan warga lainnya yang membutuhkan perawatan kesehatan di luar Gaza atau ingin kembali ke rumah mereka masih menghadapi prosedur yang dinilai rumit dan sangat selektif. Pengumuman pembukaan Rafah disampaikan setelah Israel menyelesaikan operasi pencarian jenazah sandera terakhir, yang sebelumnya dijadikan syarat untuk membuka kembali perbatasan tersebut.

Meski dipresentasikan sebagai langkah maju dalam implementasi gencatan senjata, aktivitas militer Israel di Jalur Gaza dilaporkan belum sepenuhnya berhenti. Serangan udara masih terjadi dan terus menimbulkan korban di kalangan warga sipil. Krisis kemanusiaan di Gaza pun dinilai belum teratasi. Kekurangan makanan, obat-obatan, serta layanan kesehatan masih menjadi persoalan utama yang tidak serta-merta terselesaikan dengan pembukaan perbatasan secara terbatas.

Selama hampir dua tahun penutupan, Rafah menjadi satu-satunya jalur langsung keluar-masuk Gaza yang tidak melalui wilayah pendudukan Israel. Penutupan tersebut memperparah isolasi serta penderitaan warga sipil di wilayah itu. Organisasi kemanusiaan internasional terus mendesak agar pembukaan Rafah juga mencakup aliran bantuan dan distribusi barang-barang penting. Namun, alasan keamanan yang dikemukakan Israel hingga kini masih menjadi penghalang utama masuknya bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar.

Kembalikan Jenazah

Sementara diberitakan Macaubusiness, Israel telah mengembalikan jenazah 15 warga Palestina, beberapa hari setelah menemukan jenazah sandera Israel terakhir, kata seorang pejabat Kementerian Kesehatan Gaza pada hari Kamis. Peristiwa ini menandai pertukaran sandera terakhir antara Israel dan Hamas yang dilakukan sebagai bagian dari fase pertama gencatan senjata yang dimediasi AS yang dicapai pada bulan Oktober.

Palang Merah mengatakan bahwa mereka membantu memfasilitasi pemulangan jenazah. Jenazah-jenazah tersebut dibawa ke Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, kata juru bicara Kementerian Kesehatan, Zaher al-Wahidi. Pemulangan semua sandera yang tersisa, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, merupakan bagian penting dari fase pertama gencatan senjata yang menghentikan perang.

Israel setuju untuk mengembalikan 15 jenazah warga Palestina untuk setiap sandera yang dibebaskan, sesuai dengan ketentuan gencatan senjata. Belum jelas apakah jenazah yang dirilis pada hari Kamis adalah jenazah tahanan Palestina yang meninggal dalam tahanan Israel atau jenazah yang diambil dari Gaza oleh pasukan Israel selama perang.

Israel telah membebaskan sekitar 2.000 tahanan Palestina berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, banyak di antaranya ditangkap oleh pasukan Israel selama lebih dari dua tahun penghancuran Gaza dan ditahan tanpa didakwa. Pemerintah juga telah mengembalikan jenazah 360 warga Palestina ke Gaza, di mana para pejabat kesulitan untuk mengidentifikasi mereka.

Kementerian Kesehatan Gaza telah mengunggah foto-foto jenazah agar keluarga dapat mengidentifikasinya. Dari jenazah yang dikembalikan oleh Israel, sekitar 100 telah diidentifikasi oleh keluarga, kata al-Wahidi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *