"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Dedi Mulyadi Terkejut Dengan Pengakuan Pedagang Es Gabus Viral

Pengakuan Pedagang Es Gabus yang Menggegerkan

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengaku kaget setelah mendengar berbagai pengakuan dari seorang pedagang es gabus. Ia bahkan memastikan berkali-kali bahwa pedagang tersebut tidak sedang berbohong. Dedi menyampaikan bahwa dirinya masih merasa kesulitan dan belum menerima bantuan apapun. Padahal, banyak pihak yang telah memberikan bantuan kepadanya.

Ajat, yang juga dikenal sebagai Suderajat, mengklaim bahwa ia pernah dianiaya oleh aparat. Selain itu, ia dituduh menjual es yang mengandung bahan spons. Namun, hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa es yang dijualnya aman untuk dikonsumsi. Hal ini membuat banyak orang iba terhadap Ajat dan akhirnya memberikan bantuan kepadanya.

Namun, Dedi kaget ketika mengetahui ada kebohongan dalam pengakuan Ajat. Selain itu, Ajat tampak tidak merasa bersyukur atas bantuan yang diterimanya. Dedi merasa geram karena Ajat terkesan masih merasa kurang dengan apa yang diberikan.

Dalam pertemuan yang diunggah di akun YouTube Dedi Mulyadi, ia mempertanyakan kondisi ekonomi Suderajat yang masih mengaku kekurangan meski sudah menerima bantuan seperti uang, renovasi rumah, umrah hingga motor. Dedi mencoba melucuti suasana dengan berkata, “Pasti babe banyak duit sekarang,” namun jawaban Suderajat membuat Dedi heran. “Boro-boro, sekarang masih nganggur,” kata Suderajat.

Dedi pun mulai menjelaskan berbagai bantuan yang seharusnya disyukuri oleh Suderajat. Mulai dari motor, uang hingga tambahan dana untuk perbaikan rumah. Ia juga menyarankan agar Suderajat mengubah cara berdagangnya dengan membeli gerobak bukan lagi memikul dagangannya.

Masih Bertanya Soal Modal

Suderajat masih mengaku belum bisa memulai usaha dan merasa kekurangan modal. Ia menanyakan soal modal jika diminta beralih menjual gorengan. “Kalau kita mau dagang goreng-gorengan modalnya gitu apa duitnya dari mana? Kompornya? Apanya?” tanya Suderajat lagi.

Sikap ini membuat Dedi heran dan menilai Suderajat tidak memiliki pendirian sebagai kepala keluarga. “Kan duitnya udah cukup yang jual gorengan. Cukup dong Rp 5 juta? Bukan urusan maaf, kan cukup,” katanya.

Dedi menasehati Suderajat yang hidupnya saat ini susah. Untuk keluar dari jurang kemiskinan, kata Dedi, Suderajat harus mengubah hidupnya sendiri. “Karena gini be, babe ini kan hidupnya susah. Tapi babe harus merubah hidup babe agar tidak susah. Iya. Caranya gimana? Jujur dan benar,” ungkapnya.

Perasaan Dedi Tak Enak

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menemui langsung Ajat Suderajat, penjual es gabus yang sempat menjadi korban dugaan penganiayaan aparat setelah dituduh menjual es berbahan spons. Dedi membagikan momen pertemuan itu melalui akun Instagram pribadinya. Dalam video tersebut, Dedi terlihat memberikan uang segepok kepada Suderajat. Namun, setelah memberikan uang itu, Dedi mengambil sebagian lantaran dikhawatirkan uang itu malah dipakai sendiri oleh Suderajat tanpa membayar kewajibannya.

“Mau buat apa itu?” tanya Dedi Mulyadi. “Buat bayar sekolah pak,” kata Suderajat. Mendengar jawaban itu, Dedi justru mengambil kembali uang tersebut. Ia lalu mengatur sendiri peruntukkan bantuan itu agar benar-benar digunakan tepat sasaran.

Dianiaya dan Difitnah

Perhatian publik terhadap Suderajat bermula dari peristiwa yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) saat ia berjualan di Kemayoran, Jakarta Pusat. Suderajat mengaku mengalami penganiayaan fisik dan intimidasi oleh oknum aparat TNI dan Polri. “Saya (diperlakukan) kayak anjing. Kaki disuruh diangkat-angkat. Saya disabet, pakai selang air. Ada 10 orang yang menganiaya saya,” kata Suderajat, Selasa (27/1/2026).

Ia menambahkan, hingga kini sebagian aparat yang melakukan kekerasan tersebut belum menyampaikan permintaan maaf secara langsung. “Polisi sama TNI yang mukulin saya belum minta maaf sama saya. Kayak (seperti) anjing, saya diseret-seret, disabet apa semuanya. Trauma. Pusing pala saya pak,” ujarnya.

Suderajat sempat ditahan sebelum akhirnya dilepaskan. Ia menyebut pihak kepolisian memberikan permintaan maaf serta kompensasi sebesar Rp 300.000. Namun, menurutnya, kerugian yang dialami jauh lebih besar karena dagangan rusak dan ia mengalami kekerasan fisik.

Kontroversi Es Gabus

Kasus ini bermula dari laporan seorang warga ke call center 110 terkait dugaan es gabus yang dijual Suderajat mengandung Polyurethane Foam (PU Foam), bahan yang biasa digunakan sebagai busa kasur atau spons cuci. Video interogasi Suderajat kemudian viral di media sosial. Dalam video tersebut, Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan Mulyadi dan Babinsa Serda Heri Purnomo menuding es gabus berbahaya bagi kesehatan meski belum ada hasil uji laboratorium.

“Kenapa kamu jual?” tanya Heri kepada Suderajat dalam video tersebut. “Kalau berhenti (jualan) anak bini makan apa?” jawab Suderajat. “Ya kamu gimana, ini kalau dimakan sama anak-anak kecil ini bikin penyakit,” kata Heri dengan nada keras.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya memeriksa seluruh barang dagangan Suderajat. Hasil pemeriksaan menyatakan seluruh sampel es gabus, es kue, agar-agar, dan coklat meses aman dan layak dikonsumsi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *