Pemain Muda Persebaya Surabaya Masuk Daftar Debutan Termuda Super League 2025/2026
Dua pemain muda Persebaya Surabaya, Dimas Wicaksono dan Ichsas Baihaqi, resmi masuk dalam daftar lima debutan termuda Super League 2025/2026. Kedua pemain ini menjadi bukti keberanian klub dalam memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk tampil di kompetisi kasta tertinggi nasional.
Persebaya Surabaya akan menghadapi Dewa United pada Minggu (1/2/2026) di Stadion Gelora Bung Tomo. Laga ini tidak hanya menjadi pertandingan perebutan poin, tetapi juga menjadi momen penting dalam menegaskan arah kebijakan klub yang semakin percaya pada pengembangan pemain muda.
Musim 2025/2026 menjadi periode penting bagi regenerasi Persebaya Surabaya. Dua nama dari internal klub, yaitu Dimas Wicaksono dan Ichsas Baihaqi, masuk dalam daftar debutan termuda Super League musim ini. Mereka bersanding dengan tiga pemain muda lain dari klub berbeda, seperti Nazriel Alfaro dari Persib Bandung serta dua pemain Borneo FC, Ousmane Camara dan Dika Nurdiansyah.
Debut Awal Karier
Dimas Wicaksono mencatatkan debutnya bersama Persebaya Surabaya pada 23 Agustus 2025 saat menghadapi Bali United. Saat itu, ia berusia 18 tahun 1 bulan 7 hari. Ia berposisi sebagai sayap kanan, namun juga bisa bermain sebagai bek kanan.
Sementara itu, Ichsas Baihaqi melakoni debutnya pada 2 November 2025 saat menghadapi Persis Solo. Gelandang tengah kelahiran 17 Maret 2007 tersebut tampil perdana di usia 18 tahun 7 bulan 16 hari.
Keduanya berasal dari klub internal Persebaya Surabaya. Dimas Wicaksono adalah produk PS Pelindo yang promosi ke tim utama pada 1 Juli 2025. Sementara Ichsas Baihaqi naik ke tim utama dari PSAL.
Performa di Liga
Pada musim ini, Dimas telah mencatatkan 94 menit bermain di Super League. Nilai pasar pemain berusia 18 tahun tersebut kini berada di angka Rp 434,54 juta.
Sementara itu, Ichsas Baihaqi sudah mengoleksi 199 menit bermain di Super League 2025/2026. Dengan nilai pasar Rp 869,08 juta, potensinya diproyeksikan masih akan terus berkembang.
Persebaya Surabaya juga memberikan menit bermain signifikan kepada sejumlah pemain U-23 dari klub internal. Salah satu yang paling menonjol adalah Toni Firmansyah dengan catatan 1.023 menit bermain. Gelandang tengah kelahiran Surabaya itu kini berusia 21 tahun dan memiliki nilai pasar mencapai Rp 2,17 miliar.
Selain Toni, ada Sadida Nugraha yang berposisi sebagai gelandang bertahan. Pemain berusia 20 tahun ini telah mencatatkan 298 menit bermain sejak bergabung pada 1 Juli 2025. Sadida berasal dari klub internal HBS dan perlahan mulai mendapatkan peran rotasi.
Filosofi Pelatih Bernardo Tavares
Kombinasi pemain muda dan senior menjadi fondasi penting bagi Persebaya Surabaya di putaran kedua Super League. Filosofi ini sejalan dengan pandangan pelatih Bernardo Tavares soal pengembangan tim.
“Di saat ini kita harus mengetahui rumah yang kita miliki. Akademi, pemain muda, tim utama kita,” ujar Bernardo Tavares.
Pelatih asal Portugal itu menegaskan pentingnya menjaga talenta internal klub. Ia melihat akademi sebagai sumber utama pembentukan identitas dan budaya tim.
“Jadi kita harus menjaga pemain yang baik dan mencoba menemukan pemain yang baik. Tapi kita juga harus mencari pemain dari akademi kita,” lanjutnya.
Menurut Bernardo, pemain muda memiliki ambisi besar untuk membuktikan diri. Semangat inilah yang dianggapnya sebagai aset berharga bagi klub dalam jangka panjang.
“Ini penting untuk memiliki pemain jangka panjang tapi juga pemain baru dengan ambisi baru yang ingin menunjukkan karena ini adalah emas dari klub yang datang dari akademi. Begitulah cara kita membuat budaya,” tegasnya.
Rekor Baru dan Masa Depan
Kehadiran Dimas Wicaksono dan Ichsas Baihaqi dalam daftar debutan termuda menjadi bukti nyata arah kebijakan tersebut. Persebaya Surabaya tak sekadar memberi debut, tetapi juga menit bermain yang nyata.
Di tengah ketatnya persaingan Super League 2025/2026, langkah ini terbilang berani. Namun, Persebaya Surabaya justru menunjukkan identitas kuat sebagai klub yang percaya pada proses pembinaan.
Rekor Baru 2 Wonderkid Persebaya Surabaya menjadi sinyal masa depan yang menjanjikan bagi Green Force. Dengan fondasi akademi yang terus diberi ruang, Persebaya Surabaya tak hanya berbicara soal hari ini, tetapi juga menatap masa depan dengan optimisme tinggi.











