Peran China dalam Menjaga Keseimbangan Geopolitik di Timur Tengah
Di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, China memainkan peran penting sebagai penyeimbang kekuatan besar. Dukungan China terhadap Iran mencakup kerja sama teknologi pertahanan dan diplomasi internasional, sejalan dengan ambisi Beijing untuk memperluas pengaruh globalnya.
Dukungan Teknologi Pertahanan dan Diplomasi
Menurut analisis pakar Timur Tengah, Nadia Helmy, dukungan China terhadap Iran tidak hanya terbatas pada diplomasi, tetapi juga melibatkan kolaborasi teknologi pertahanan. Langkah ini bertujuan melindungi kepentingan strategis China di kawasan Teluk dan jalur perdagangan utama.
China juga memantau penetrasi intelijen Israel ke sistem keamanan Iran, terutama setelah serangan Israel pada 2025 yang membuka celah besar dalam pertahanan Teheran. Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan Mossad (badan intelijen Israel) menembus lembaga intelijen serta fasilitas sensitif Iran menjadi alarm bagi Beijing tentang kerentanan keamanan mitra strategisnya di kawasan tersebut.
Kerja Sama Teknis dan Pengembangan Sistem Keamanan
Dalam respons terhadap ancaman tersebut, kerja sama teknis antara China dan Iran meningkat signifikan. Laporan menyebut bahwa Iran bekerja sama dengan China dan Rusia untuk menyelidiki bagaimana Israel mampu menembus basis data resmi pemerintah Iran, termasuk sistem kependudukan dan paspor. Kerja sama ini ditujukan untuk menutup celah teknologi yang dimanfaatkan Mossad dalam menyasar fasilitas militer dan nuklir Iran.
Selain itu, China memberikan bantuan dalam bentuk satelit pengawasan kepada Iran. Teheran disebut mengajukan kerja sama dengan perusahaan teknologi China seperti Chang Guang untuk mengembangkan sistem pemantauan jarak jauh dan pengumpulan intelijen guna melacak pergerakan Israel secara lebih presisi.
Peralihan ke Sistem Navigasi China
Di bidang navigasi, Iran mengumumkan rencana beralih sepenuhnya ke sistem navigasi satelit China, BeiDou, sebagai pengganti GPS Amerika dan Barat. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada teknologi Barat yang dianggap rentan terhadap peretasan atau sabotase. Beberapa laporan juga menyebut kesepakatan China membantu Iran membangun kembali arsenal rudal balistiknya pasca-serangan Israel pada 2025.
Kepentingan Strategis China dalam Stabilitas Iran
Dari sisi politik dan diplomatik, China menegaskan penolakannya terhadap intervensi asing dalam urusan domestik Iran. Stabilitas Iran dipandang sebagai kepentingan strategis Beijing, sejalan dengan perjanjian kerja sama strategis komprehensif 25 tahun kedua negara. China secara konsisten menyerukan pengendalian diri untuk mencegah eskalasi konflik yang dapat mengganggu jalur energi dan perdagangan regional.
Strategi untuk Menangkal Infiltrasi Mossad
Laporan intelijen dan pertahanan China pada 2025–2026 mengindikasikan strategi sistematis untuk menangkal infiltrasi Mossad. Salah satu langkahnya adalah penguatan keamanan siber dengan mengganti teknologi dan perangkat lunak Barat di Iran menggunakan sistem tertutup buatan China. Pada Januari 2026, Beijing mendorong Iran menghentikan penggunaan perangkat lunak Amerika dan Israel demi mengurangi risiko penetrasi intelijen.
China juga mendukung konsep kedaulatan digital Iran. Dalam Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030), Beijing menempatkan keamanan siber dan kecerdasan buatan sebagai instrumen penting melindungi ruang siber Iran dari serangan sabotase Israel dan Amerika Serikat.
Bantuan dalam Sektor Pertahanan Udara
Di sektor pertahanan udara, China membantu memperkuat sistem radar Iran dengan teknologi anti-stealth. Iran disebut berupaya memperoleh radar canggih buatan China seperti YLC-8B dan JY-27A, yang diklaim mampu mendeteksi pesawat siluman Israel, termasuk F-35. Upaya ini ditujukan untuk menutup celah yang sebelumnya dimanfaatkan Mossad dalam operasi jauh ke wilayah Iran.
Perundingan AS-Iran di Oman
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa pembicaraan nuklir antara negaranya dan Amerika Serikat akan berlangsung di Oman. Iran menginginkan pertemuan berlangsung di Oman sebagai kelanjutan dari putaran pembicaraan sebelumnya yang diadakan di negara Teluk Arab tersebut, meminta perubahan lokasi dari Turki untuk menghindari perluasan diskusi ke isu-isu seperti rudal balistik Teheran.
Kerangka Negosiasi
Mediator dari Qatar, Turkiye, dan Mesir telah mempresentasikan kerangka prinsip-prinsip utama kepada Iran dan AS untuk dibahas dalam pembicaraan tersebut. Kerangka tersebut meliputi komitmen Iran untuk secara signifikan membatasi pengayaan uraniumnya, pembatasan penggunaan rudal balistik, dan persenjataan sekutu-sekutu Iran di kawasan tersebut.











