"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Kondisi Terkini Siswi SMA Negeri Bengkulu Korban Pengeroyokan Kakak Kelas

Kondisi Siswi SMA Negeri di Bengkulu yang Jadi Korban Pengeroyokan Masih Memprihatinkan

Seorang siswi kelas X di salah satu SMA negeri di Kota Bengkulu diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah kakak kelasnya yang duduk di bangku kelas XI. Peristiwa ini terjadi pada Rabu (4/2/2026), bertepatan dengan jam pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG). Akibat kejadian tersebut, korban dilaporkan mengalami luka fisik serta trauma psikologis hingga enggan kembali bersekolah.

Korban diketahui mengalami beberapa luka akibat dugaan pengeroyokan, antara lain bekas gigitan, cakaran, serta memar di sejumlah bagian tubuh. Tak kuat menahan air mata, ibu korban menangis yang terpukul dengan kondisi anaknya. Dari hasil pemeriksaan medis di rumah sakit, korban diketahui mengalami luka-luka tersebut. Luka-luka itu antara lain bekas gigitan, cakaran, serta memar di sejumlah bagian tubuh.

Meski mengalami luka fisik, keluarga menyebut kondisi mental korban menjadi perhatian utama. Pasca kejadian, korban mengalami trauma berat dan menunjukkan perubahan sikap yang signifikan. Korban menjadi tertutup dan merasa takut berlebihan. Korban disebut tidak mau bertemu dengan teman-temannya, termasuk kakak kelas di sekolah, bahkan korban hanya bersedia ditemui oleh ibunya.

Setiap kali mendengar ada teman sekolah yang hendak berkunjung ke rumah, korban langsung merasa ketakutan dan menolak untuk bertemu. “Anak saya sekarang benar-benar trauma. Dia tidak mau lagi bersekolah di sekolah itu karena takut. Saya khawatir anak saya mengalami stres berkepanjangan,” kata MY, ibu korban.

Atas kondisi tersebut, MY berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah dan pihak berwenang terkait dugaan pengeroyokan siswa SMA Bengkulu ini. Ia meminta agar anaknya mendapatkan pendampingan psikologis demi pemulihan mental.

Kronologi Peristiwa Pengeroyokan

Berdasarkan kronologi yang disampaikan keluarga, peristiwa ini berawal dari hubungan pertemanan korban dengan dua siswa lain berinisial C dan S. Sempat terjadi perselisihan antara korban dan S, dan permasalahan tersebut kemudian diceritakan korban kepada kakak kelasnya. Namun, pada keesokan harinya, korban dan S telah berdamai dan kembali berinteraksi seperti biasa.

Meski demikian, situasi tersebut diduga memicu rasa kesal dari kakak kelas yang sebelumnya mendengar cerita korban. Permasalahan kemudian berlanjut ke media sosial, korban mengunggah foto kebersamaan bersama teman-temannya di akun Instagram. Unggahan tersebut kemudian dikomentari oleh kakak kelas korban dengan kalimat bernada ejekan. Korban membalas komentar tersebut dengan maksud bercanda, namun interaksi tersebut berujung pada adu argumen melalui pesan langsung atau direct message (DM) Instagram.

Adu argumen ini diduga menjadi pemicu utama dugaan pengeroyokan siswa SMA Bengkulu tersebut. Setelah cekcok di media sosial, terduga pelaku sempat mengajak korban untuk bertemu di luar sekolah. Ajakan tersebut ditolak oleh korban, selanjutnya korban diminta bertemu di depan ruang kelasnya. Berdasarkan rekaman CCTV dan video yang beredar di kalangan keluarga, di lokasi tersebut terjadi adu mulut yang berlangsung cukup lama hingga suasana memanas. Setelah itu, diduga terjadi kontak fisik antara korban dan beberapa kakak kelasnya.

Tindakan Pihak Sekolah dan Pihak Berwenang

Terkait hal tersebut, pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Satpol PP, serta DPA3KB Provinsi dan Kota Bengkulu mengunjungi rumah korban pengeroyokan, Jumat (6/2/2026). Setibanya di rumah korban, tampak korban terbaring di atas kasur dengan tatapan kosong, didampingi ibu dan kakak korban.

Kabid SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu, M Syukur, mengajak korban berbicara sembari menghibur korban. Di sela pertemuan itu, M Syukur juga mendengarkan curahan hati ibu korban terkait kondisi anaknya. Tak kuat menahan air mata, ibu korban menangis, M Syukur pun berusaha menenangkan ibu korban yang terpukul dengan kondisi anaknya.

M Syukur mengatakan, kunjungan ke rumah korban ini merupakan salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap korban dan masyarakat. “Kegiatan hari ini kita mengunjungi rumah korban untuk melihat kondisi ananda kita (korban pengeroyokan, red), semoga ananda kita lekas pulih,” ungkap M Syukur saat didampingi Kasubbag Umum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Agung Praja Putra, Jumat (6/2/2026) pukul 10.09 WIB.

Selain itu, pihak DPA3KB Provinsi dan Kota Bengkulu juga ikut mendampingi korban pengeroyokan. Terkait hal tersebut, pihaknya saat ini juga tengah menjalankan kegiatan retret Merah Putih untuk pelajar di Bengkulu.

Penanganan oleh Polresta Bengkulu

Kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang siswi kelas X oleh kakak kelasnya di salah satu SMA negeri di Kota Bengkulu kini resmi masuk tahap penyelidikan kepolisian. Polresta Bengkulu memastikan laporan yang dilayangkan orang tua korban telah ditindaklanjuti dengan memeriksa saksi-saksi, termasuk pihak sekolah, serta mengamankan sejumlah barang bukti yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Kasat Reserse Kriminal Polresta Bengkulu, Kompol Sujud Alif Yulam Lam, membenarkan adanya laporan dugaan pengeroyokan siswi SMA di Bengkulu tersebut. Laporan diterima oleh Satreskrim Polresta Bengkulu pada Selasa, 4 Februari 2026 dan sejak itu proses hukum mulai berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Benar, pada tanggal 4 Februari 2026 kami sudah menerima laporan dari orang tua korban terkait dugaan pengeroyokan terhadap seorang siswi kelas X di salah satu SMA negeri di Kota Bengkulu,” ungkap Sujud, Jumat (6/2/2026).

Setelah laporan diterima, Satreskrim Polresta Bengkulu langsung melakukan langkah awal berupa penyelidikan. Penyelidikan ini bertujuan untuk mengungkap secara jelas kronologi dugaan pengeroyokan siswi SMA di Bengkulu, termasuk siapa saja pihak yang terlibat serta bagaimana peristiwa tersebut terjadi di lingkungan sekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *