Peristiwa Hanyut di Sungai Karangmalang: Kehilangan Dua Siswa Sekolah
Pada Selasa (10/2/2026) petang, terjadi peristiwa yang sangat mengejutkan di wilayah Semarang. Seorang siswi SMA 12 Semarang, Fahma Chusnun Nida (16), hanyut di Sungai Karangmalang, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. Jenazahnya ditemukan di Sungai Kranji, Kaligetas, Kecamatan Mijen, pada Rabu (11/2/2026). Penemuan jenazah ini dilakukan oleh relawan Banser yang sedang melakukan penyisiran aliran sungai.
Jenazah korban kemudian dibawa ke rumah duka yang berada di Dusun Gares, Desa Kliris, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. Informasi yang didapatkan menyebutkan bahwa Fahma terseret arus Sungai Karangmalang saat hendak pulang dari sekolah. Lokasi kejadian hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumahnya.
Sementara itu, tim SAR masih mencari satu korban lainnya, Nadia Eka Kurniawati (13), siswi SMPN 3 Boja. Nadia juga terseret arus Sungai Karangmalang, di tempat yang sama dengan Fahma. Kasi Operasi Basarnas Kota Semarang, Moel Wahyono menjelaskan, awalnya pihaknya menerima laporan adanya dua orang yang terseret arus Sungai Karangmalang, pada Selasa malam.
Kedua korban merupakan siswi SMPN 3 Boja yang berboncengan dengan Honda Scoopy. Salah satu korban, Alifa (14), warga Pagerwojo, Limbangan, Kendal, selamat setelah melompat dari sepeda motor saat terseret banjir. Namun, Nadia hanyut dan belum diketemukan sampai berita ini diturunkan.
Peristiwa yang menimpa Nadia diketahui dari Alifa, korban selamat dalam peristiwa tersebut. Saat kejadian, Alifa memboncengkan Nadia. Pada saat itu, Sungai Karangmalang meluap. Ada tanggul yang jebol mengakibatkan air sungai meluap menutupi jalan. Arusnya cukup deras sehingga korban terpeleset dan hanyut ke sungai.
Selain Nadia, ada pengendara lain yang terseret arus Sungai Karangmalang. Sementara itu, saat Fahma terseret arus sungai, tidak ada saksi sama sekali sehingga peristiwa itu tidak langsung diketahui. Peristiwa yang menimpa Fahma baru terungkap setelah warga dan relawan yang tengah mencari Nadia menemukan sesosok jenazah di sekitar Jembatan Cepoko.
“Korban dari kejadian yang tidak ada saksinya (Fahma—Red) justru ditemukan lebih dulu,” kata Moel. “Titik lokasi FH (Fahma—Red) hanyut sama dengan NEK (Nadia—Red) di jalan yang digenangi luapan Sungai Karangmalang,” sambungnya.
Rekaman CCTV dan Proses Identifikasi
Dalam kesempatan terpisah, Kapolsek Mijen, Kompol Sutowo menjelaskan, peristiwa yang menimpa Fahma mulanya diketahui saat keluarganya merasa curiga karena korban tidak kunjung pulang ke rumah, hingga Selasa malam. Pihak keluarga kemudian memeriksa CCTV di Pos Keamanan Lingkungan (Poskamling) RT 02 RW 02 Karangmalang, yang berada di sekitar sungai.
“Dicari di sekolah, di rumah mbahnya, kok ndak ada. Akhirnya, (keluarga Fahma) minta buka CCTV,” ujar Sutowo. Dari rekaman CCTV, pada Selasa pukul 18.40, korban terlihat melintas mengendarai sepeda motor. Pihak keluarga mengenali korban dari mantel yang dikenakan.
“Sekitar Rabu pukul 02.00 keluarga buka CCTV. Sekitar pukul 02.30, pihak keluarga mengenali (dari) mantelnya pink, ‘Oh, ini putuku’, kata mbahnya,” ujar Sutowo. Pantauan di lokasi, Sungai Karangmalang yang merupakan titik awal korban hanyut hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah korban.
Sutowo menduga, korban hanyut saat perjalanan pulang sekolah. “Arahnya (sepeda motor) dari titik CCTV ke rumah, dugaannya hanyut ke sungai saat pulang sekolah karena ada arus deras luapan air di jalan samping sungai,” ucap Sutowo.
Evakuasi korban telah dilakukan oleh tim SAR gabungan. Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka. “Sekitar pukul 07.30, TKP penemuan sudah clear. Jenazah dibawa ke rumah duka untuk dimakamkan,” ujarnya.
Pencarian Nadia dan Tantangan yang Dihadapi
Sementara itu, Rabu kemarin, Basarnas melanjutkan pencarian terhadap Nadia, siswi SMPN 3 Boja, yang hilang terseret arus di Sungai Karangmalang. Pencarian kembali dilanjutkan, pada Rabu pagi, setelah upaya evakuasi hingga Selasa malam belum membuahkan hasil.
Moel Wahyono mengatakan, operasi pencarian dimulai sejak Rabu pukul 06.30 dengan melibatkan sejumlah unsur, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, hingga relawan. “Pagi ini (Rabu pagi—Red) kami masih melanjutkan operasi pencarian seorang pelajar yang hanyut di Sungai Karangmalang,” kata Moel.
Metode pencarian dilakukan dengan menyisir sepanjang aliran Sungai Karangmalang, baik di sisi kanan maupun kiri sungai. Sejumlah personel juga diturunkan untuk menelusuri aliran sungai dengan berjalan kaki. Namun, upaya pencarian menghadapi kendala medan. Tim SAR tidak dapat menggunakan perahu karet karena aliran sungai dipenuhi bebatuan serta rintangan alam.
“Peralatan perahu karet atau rafting tidak bisa digunakan karena banyak bebatuan dan rintangan di aliran sungai,” jelasnya. Moel menambahkan, area pencarian akan diperluas mulai dari lokasi kejadian hingga muara sungai di Waduk Jatibarang.
“Rencana pencarian kami dari TKP, kemudian menyisir aliran Sungai Karangmalang sampai ke muara di Waduk Jatibarang,” tandasnya. Namun, ada sejumlah tantangan dalam operasi pencarian ini, yakni kondisi arus sungai yang deras dan cuaca yang tidak bersahabat.
“Kami harap, tim diberi kemudahan dan korban bisa segera tim temukan,” imbuhnya.











