"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Hamas Ingatkan Indonesia Soal Pengiriman Pasukan ke Gaza

Pernyataan Hamas Mengenai Pasukan Perdamaian Internasional di Gaza



Pejabat senior Hamas, Osama Hamdan, pada Rabu menegaskan kembali bahwa Palestina menolak segala bentuk perwalian asing atas wilayah Gaza. Ia menyatakan bahwa setiap pasukan perdamaian internasional yang dikerahkan ke wilayah tersebut harus dibatasi pada tugas-tugas perbatasan dan mencegah serangan Israel tanpa campur tangan dalam pemerintahan internal.

Hamdan berbicara kepada Al Jazeera seperti dikutip Jordan Daily, merespons pengumuman Indonesia mengenai rencana pengiriman ribuan pasukan sebagai bagian dari pasukan stabilisasi di Gaza. Ia menjelaskan bahwa Hamas telah berkomunikasi langsung dengan Jakarta, menekankan bahwa setiap pasukan asing harus tetap netral dan tidak bertindak dengan cara yang bertentangan dengan kehendak Palestina atau berfungsi sebagai pengganti pendudukan Israel.

Ia juga menolak laporan tentang pelucutan senjata Hamas, dengan mengatakan bahwa senjata Palestina terkait dengan berakhirnya pendudukan Israel dan tidak akan diserahkan sebelum pembentukan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.

Persiapan Pengiriman Pasukan oleh Indonesia

Sehari sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyampaikan bahwa Indonesia tengah mempersiapkan pengiriman pasukan keamanan ke Gaza, Palestina, melalui International Stabilization Force (ISF). Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela mengatakan bahwa proses persiapan sedang dilakukan, meskipun belum ada informasi pasti mengenai timeline dan jumlah pasukan.

Menurutnya, pengiriman pasukan keamanan ke Gaza memerlukan koordinasi antara pihak dalam negeri dan luar negeri. “Sehingga Kementerian Luar Negeri dan seluruh kementerian dan lembaga terkait melakukan koordinasi untuk mengawal instruksi Presiden tersebut,” katanya.

Jubir Kemlu itu juga menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam ISF lebih berfokus pada aspek kemanusiaan dan tidak terlibat dalam pelucutan senjata.

Persiapan Lapangan oleh Media Israel

Sebelumnya, media Israel melaporkan bahwa persiapan lapangan telah dimulai untuk pengerahan pasukan Indonesia di Gaza, Palestina, sebagai bagian dari ISF. Media Israel itu mengatakan bahwa mereka mengutip sumber-sumber yang mengetahui informasi tersebut, yang memperkirakan pengerahan pasukan dapat melibatkan beberapa ribu tentara, termasuk perencanaan awal dan persiapan logistik.

Resolusi PBB Mengenai Pasukan Stabilisasi Internasional

Pada 17 November 2025, Dewan Keamanan PBB mengadopsi sebuah resolusi untuk mendukung pembentukan pasukan stabilisasi internasional (ISF) di Gaza, Palestina. Resolusi 2803 yang dirancang Amerika Serikat (AS) itu mendapat dukungan dari 13 anggota dewan. Rusia, yang mengajukan rancangan resolusi tandingan, memilih abstain, begitu pula Cina.

Resolusi tersebut memberi wewenang kepada negara anggota PBB dan Board of Peace (BoP) untuk membentuk ISF sementara di Gaza di bawah komando terpadu, dengan kontribusi pasukan dari negara peserta, serta kewenangan mengambil langkah yang diperlukan sesuai hukum internasional.

Menurut resolusi tersebut, ISF bertugas antara lain membantu mengamankan wilayah perbatasan, menstabilkan lingkungan keamanan di Gaza dengan memastikan proses demiliterisasi di Jalur Gaza, melindungi warga sipil, serta berkoordinasi dengan negara-negara terkait untuk mengamankan koridor kemanusiaan.

ISF beroperasi di bawah panduan strategis BoP dan akan didanai melalui kontribusi sukarela dari para donor serta sumber pendanaan BoP dan pemerintah.

Kriteria Pasukan TNI yang Dikirim ke Gaza

Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang akan dikirim ke Gaza bakal diambil dari pasukan yang pernah bertugas di wilayah konflik. Hal ini disampaikan oleh Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita. “Kami sudah punya pengalaman, ada United Nations Interim Force in Lebanon yang pernah ke sana,” kata dia usai menghadiri rapat bersama Komisi I DPR, di kompleks DPR, Jakarta, pada Selasa.

Adapun United Nations Interim Force in Lebanon (Unifil) merupakan pasukan perdamaian Tanah Air yang dikirim ke Lebanon untuk menjalankan misi kemanusiaan. “Orang-orang inilah yang akan kami kirim ke sana. Jadi bukan satuan-satuan yang belum pernah tugas ke sana (wilayah konflik),” ucapnya.

Jenderal bintang empat ini menjelaskan bahwa pasukan yang pernah bertugas di wilayah konflik lebih siap ketimbang yang belum. Sebab, dia berujar pasukan yang tergabung dalam Unifil itu memiliki pengalaman. “Dari sisi (pemahaman) medan dan bagaimana dia berkomunikasi dengan masyarakat setempat,” kata Tandyo.

Penyiapan pasukan perdamaian ini seiring dengan keputusan Presiden Prabowo Subianto bergabung ke Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Salah satu matra yang mulai bersiap ialah TNI Angkatan Darat.

Estimasi Jumlah Pasukan yang Dikirim

Dalam keterangan terpisah, Kepala Staf TNI AD Jenderal Maruli Simanjuntak memperkirakan akan ada sekitar 8 ribu personel militer yang dikerahkan Indonesia untuk membantu perdamaian. “Bisa satu brigade, 5.000-8.000 mungkin. Tapi masih bernegosiasi semua, belum pasti. Jadi enggak ada, belum ada kepastian angka sampai sekarang,” kata Maruli seusai rapat pimpinan TNI dan Polri di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin, 9 Februari 2026.

Saat ini, kata Maruli, koordinasi penugasan pasukan perdamaian ke wilayah konflik masih berlangsung. Maruli berujar, pihak yang mengkoordinasikan misi perdamaian itu nantinya akan memberikan arahan mengenai kebutuhan prajurit ke Markas Besar TNI. Kemudian arahan itu akan diteruskan ke Markas Besar TNI Angkatan Darat.

“Kami menunggu hasil koordinasi ke yang mengkoordinasi di Gaza, nanti ke Mabes TNI, Mabes TNI nanti ke Mabes AD, memerlukan personel yang berkarakter apa. Nanti kami siapkan,” kata Maruli.

Maruli menyampaikan bahwa internal TNI AD mulai melakukan persiapan awal, berupa pelatihan, meskipun penugasan pasukan perdamaian itu belum bisa dipastikan. Pelatihan para prajurit itu difokuskan pada pengembangan karakter hingga persiapan kesehatan.

Novali Panji Nugroho dan Ervana Trikarinaputri turut berkontribusi dalam artikel ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *