Awal Mula Teror yang Menghiasi Kehidupan Tiyo Ardianto
Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), mulai menghadapi berbagai bentuk intimidasi setelah BEM UGM mengirimkan surat terbuka kepada United Nations Children’s Fund (UNICEF) pada 6 Februari 2026. Surat tersebut menjadi respons atas tragedi seorang siswa di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli alat tulis. Di saat yang sama, negara menggelontorkan dana besar untuk program seperti iuran Board of Peace (BoP) dan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Surat itu disampaikan sebagai bentuk kekecewaan terhadap realitas yang dianggap tidak adil. “Ada satu ironi yang luar biasa yang mendorong teman-teman BEM UGM untuk mengirimkan surat kepada UNICEF,” ujar Tiyo saat ditemui di Bundaran UGM, Jumat (13/2/2026). Ia menilai bahwa kebijakan pemerintah justru membuat rakyat merasa tidak dianggap.
Penerimaan Pesan Berisi Ancaman
Setelah surat tersebut dikirimkan, Tiyo mulai menerima pesan-pesan ancaman melalui WhatsApp dari nomor asing. Nomor tersebut berasal dari Inggris Raya, namun pesannya ditulis dalam Bahasa Indonesia. Beberapa pesan yang masuk antara lain: “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr”, “Banci”, dan “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.
Pesan-pesan ini terus-menerus datang, meskipun Tiyo tidak menjawab. Selain itu, ia juga dikuntit oleh dua orang tidak dikenal dan difoto dari jarak jauh. Sayangnya, kedua orang tersebut hilang ketika dikejar.
Teror yang Menyebar ke Keluarga
Teror tidak hanya menimpa Tiyo, tetapi juga keluarganya. Pada 14 Februari 2026, ibunda Tiyo dikabarkan menerima pesan WhatsApp dari nomor asing. Isi pesan tersebut menyebutkan bahwa Tiyo dituduh hobi menggelapkan dana kampus agar dapat setoran. Tiyo menjelaskan bahwa ibunya adalah perempuan desa yang tidak terbiasa dengan dinamika politik nasional. Dalam kondisi rentan tersebut, pesan-pesan ancaman terus masuk, terutama pada waktu tengah malam, yang dianggap sebagai momen paling rentan bagi ibunya.
“Kami masih melakukan pendataan tentang berapa banyak yang menjadi korban dari teror ini, tapi sekitar 20–30 pengurus BEM—kami masih lakukan pendataan tentang berapa banyak yang menjadi korban dari teror ini, tapi sekitar 20–30 itu menerima teror juga dari nomor tidak dikenal. Yang pesannya juga sama dengan apa yang diterima oleh ibu: bahwa Ketua BEM UGM melakukan penggelapan uang,” tambahnya.
Pengakuan Tentang Bahasa Kekuasaan
Tiyo menilai bahwa teror yang diterimanya merupakan bahasa kekuasaan. Ia menegaskan bahwa ekspresi rakyat yang cinta pada bangsanya harus dilindungi. “Tidak boleh dianggap sebagai ancaman. Ketika orang yang peduli pada bangsa yang dianggap ancaman, maka orang-orang yang akan bertahan adalah mereka yang cenderung menjajah negaranya dengan cara memperbaiki mulutnya supaya Bapak senang, supaya Bapak Presiden senang,” ujarnya.
Ia berharap teror yang ia terima adalah yang terakhir. “Saya harap ini terakhir kalinya, tidak hanya BEM UGM. Tidak boleh lagi ada peristiwa teror, penguntitan kepada orang lain atau lembaga lain. Karena di dalam negara demokrasi, kebebasan bukan diberikan oleh negara, tapi ada dalam sendirinya sebagai warga negara,” imbuhnya.











