Kritik Akademis dan Teror yang Diterima Ketua BEM UGM
Tiyo Ardianto, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), menghadapi teror setelah melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah. Kritik tersebut muncul akibat peristiwa tragis di mana seorang siswa SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur, nekat mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena. Tiyo kemudian menyentil beberapa kebijakan Presiden Prabowo Subianto, termasuk partisipasi dalam Board of Peace serta program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sayangnya, setelah menyampaikan pendapatnya, Tiyo malah menerima ancaman dari nomor asing, bahkan teror tersebut turut menyasar keluarganya.
Sejumlah pihak memberikan tanggapan atas insiden ini, salah satunya adalah Rocky Gerung, pengamat politik sekaligus mantan dosen Universitas Indonesia (UI). Menurut Rocky Gerung, aksi teror yang dialami Tiyo tidak berasal dari lingkaran pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan bahwa tidak mungkin presiden mengancam seseorang seperti itu.
“Jika dia (Tiyo) diancam, saya tidak percaya yang mengancam itu adalah presiden. Itu tidak mungkin,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Rocky Gerung juga menuding pihak yang meneror Tiyo berasal dari kelompok the fifth column atau koloni kelima. Mereka memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan sendiri. Ia menyarankan agar Tiyo tidak takut dengan apa yang dialaminya, karena itu adalah hal biasa dalam upaya menegakkan demokrasi.
Kritik Akademis yang Berdasarkan Data
Rocky Gerung menilai bahwa pernyataan Tiyo Ardianto semata-mata berdasarkan data dan bukan dari kebencian personal terhadap Presiden Prabowo. Ketua BEM UGM ingin menyampaikan pendapatnya dari sudut pandang seorang mahasiswa, tanpa niat makar. Ia hanya menggunakan haknya dalam berdemokrasi, yakni menyampaikan pendapat.
“Sekali lagi, itu adalah pendapat akademis dengan menguji data, memperhatikan opini publik. Teman ini (Tiyo) proporsional untuk mengucapkan itu dalam kapasitasnya sebagai manusia akademis.”
Ia juga menegaskan bahwa pikiran mahasiswa tidak memiliki hubungan dengan makar atau kebencian personal. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah tidak perlu ‘kepanasan’ menghadapi kritik dari Ketua BEM UGM.
Polemik dan Pihak yang Membuat Suasana Keruh
Isu ini menjadi polemik karena ada pihak lain yang membuat suasana semakin keruh. Rocky Gerung menilai bahwa pihak-pihak tertentu ingin memicu konflik agar Ketua BEM UGM ditangkap atau dianiaya, sehingga terjadi krisis politik.
“Jadi pemerintah jangan terlalu tegang menghadapi ini. Dan saya kira yang membuat mereka (pemerintah) tegang justru karena ada pihak lain yang ingin ngomporin supaya ketua BEM ini ditangkap, dianiaya, sehingga terjadi krisis politik.”
Tiyo Ardianto dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV menegaskan bahwa kritik yang dia lontarkan bukan karena benci terhadap pemerintahan Prabowo. Ia menyatakan bahwa tidak ada yang membenci Presiden, tetapi hanya membenci imajinasi terhadap Indonesia yang harus hancur karena apa yang dilakukan oleh Presiden.
“Bapak harus rendah hati untuk belajar. Bapak harus rendah hati untuk sadar. Kerendahan hati itu penting agar telinganya menjadi terbuka.”
Respons Istana Kepresidenan
Istana Kepresidenan merespons kabar adanya tindakan teror yang dialami Tiyo Ardianto setelah melontarkan kritik keras terhadap kasus anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT). Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan bahwa meskipun kritik adalah hal yang konstitusional, penyampaiannya harus tetap mengedepankan etika dan adab.
“Menyampaikan kritik atau masukan itu selalu kami sampaikan bahwa itu sah-sah saja. Nah, tetapi tentu kita mengimbau kepada semuanya untuk menyampaikan segala sesuatu itu dengan penuh tanggung jawab juga, kemudian juga mengedepankan etika, adab, adat-adat ketimuran.”
Sebagai sesama alumni UGM yang pernah aktif di BEM, Prasetyo mengingatkan pentingnya pemilihan diksi dalam berpendapat. Ia meminta para aktivis mahasiswa untuk menghindari kata-kata yang dianggap tidak sopan.
“Penyampaian pendapatnya enggak ada masalah, tapi caranya itu kan juga perlu menjadi pelajaran bagi kita semua. Misalnya, hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik. Ini berlaku untuk siapa pun ya, tidak hanya untuk adik saya yang dari BEM UGM.”
Mengenai ancaman teror, intimidasi pesan singkat, hingga penguntitan yang dialami Ketua BEM UGM dan keluarganya, Prasetyo mengaku belum mengetahui secara pasti siapa pelakunya. Namun, ia menegaskan bahwa konstitusi menjamin kebebasan berpendapat. Ia menyarankan agar pendapat disampaikan dengan cara yang arif dan bijak.
“Ya nanti kita cek lah,” ujarnya terkait desakan agar negara memberikan atensi khusus terhadap keselamatan para aktivis yang diteror.











