Serangan Iran ke Negara-Negara Teluk Memicu Kekacauan dan Kekhawatiran
Pada hari Sabtu (28/2), kawasan Teluk mengalami serangan besar-besaran dari Iran, yang melibatkan ratusan rudal dan drone. Serangan ini menjadi balasan atas tindakan AS dan Israel yang sebelumnya dilakukan. Dampaknya menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, serta merusak berbagai infrastruktur penting seperti bandara, pangkalan militer, dan permukiman di beberapa negara.
Korban Jiwa dan Kerusakan
Serangan tersebut menewaskan dua orang di Abu Dhabi dan memicu kebakaran di ikonik The Palm di Dubai. Bandara-bandara di Abu Dhabi, Dubai, dan Kuwait menjadi sasaran utama. Di Bandara Internasional Zayed, sedikitnya satu orang tewas dan tujuh lainnya terluka akibat insiden ledakan. Seorang warga sipil asal Pakistan juga dilaporkan meninggal akibat serpihan yang jatuh.
Di Bandara Internasional Dubai, empat orang terluka, dan empat orang lainnya terluka di kawasan mewah Palm Jumeirah. Sementara itu, di Qatar, 65 rudal dan 12 drone diluncurkan oleh Iran. Meskipun sebagian besar berhasil dicegat, delapan orang terluka, salah satunya dalam kondisi kritis.
Target Pangkalan Militer dan Pihak Asing
Pangkalan militer AS di Abu Dhabi dan Manama, ibu kota Bahrain, menjadi target serangan. Saksi mata melaporkan situasi mencekam di sejumlah lokasi. Sebuah drone menghantam Bandara Internasional Kuwait, dan pangkalan yang menampung personel AS juga disasar. Tiga tentara Kuwait dan 12 orang lainnya terluka.
Menurut Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), tidak ada kapal perang AS yang terkena dampak, kerusakan fasilitas AS minimal, dan tidak ada korban dari pihak Amerika. Namun, bangunan permukiman di Manama juga menjadi sasaran. Tim pemadam kebakaran dan pertahanan sipil dikerahkan ke lokasi.
Respons dari Negara-negara Teluk
UEA, Arab Saudi, dan Qatar menyatakan bahwa mereka berhak memberikan respons atas serangan tersebut. Negara-negara monarki Arab kaya minyak dan gas di kawasan Teluk merupakan sekutu lama Amerika Serikat dan menjadi tuan rumah sejumlah pangkalan militer AS.
Bader Al-Saif, profesor di Universitas Kuwait, menilai bahwa serangan Iran ke Teluk hanya akan menjauhkan negara-negara tetangganya. “Negara-negara Teluk terjepit antara Iran dan Israel dan harus menanggung dampak terburuk dari keduanya,” ujarnya.
Penutupan Bandara dan Wilayah Udara
Serangan besar-besaran juga menyasar Pangkalan Al Udeid di Qatar, pangkalan militer terbesar AS di kawasan tersebut, serta wilayah Riyadh dan Arab Saudi bagian timur. Eskalasi ini terjadi di tengah komunikasi pertama antara Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden UEA Mohamed bin Zayed sejak perselisihan terbuka pada akhir Desember lalu.
Keduanya membahas serangan balasan Iran dan menyatakan solidaritas. Di Kuwait, serangan rudal Iran menyebabkan “kerusakan signifikan” pada landasan pacu pangkalan udara yang menampung personel Angkatan Udara Italia, menurut laporan kantor berita ANSA yang mengutip Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani.
Hubungan dengan Pemimpin Dunia
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menerima panggilan telepon dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, lapor Kantor Berita Saudi (SPA). Trump menyampaikan kecaman Washington atas serangan rudal terang-terangan terhadap Kerajaan Arab Saudi, yang berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Saudi. Ia menegaskan dukungan Amerika Serikat kepada Kerajaan serta dukungan terhadap seluruh langkah yang diambil Riyadh untuk menghadapi pelanggaran Iran yang dinilai mengganggu keamanan dan stabilitas kawasan.
Dalam panggilan terpisah, Mohammed bin Salman juga berbicara dengan Presiden Suriah Ahmed Al-Sharaa mengenai eskalasi militer yang sedang berlangsung di kawasan. Al-Sharaa menegaskan dukungan dan solidaritas negaranya terhadap Arab Saudi, menurut laporan SPA lainnya. Presiden Suriah itu juga menekankan penolakan negaranya terhadap setiap pelanggaran kedaulatan Arab Saudi maupun ancaman terhadap keamanan dan stabilitasnya.











