Penolakan terhadap Agresi Militer AS dan Israel terhadap Iran
Free Palestine Network (FPN) secara tegas mengecam tindakan agresi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Menurut organisasi ini, langkah-langkah yang diambil oleh kedua negara tersebut melanggar prinsip-prinsip hukum internasional dan mengancam stabilitas regional.
Pemahaman tentang Kekerasan yang Dilakukan
FPN menyebut tindakan agresi yang dilakukan oleh AS dan Israel sebagai upaya untuk destabilisasi dan ancaman eksplisit terhadap Iran. Berdasarkan catatan FPN, pada bulan Juni 2025, Iran mengalami serangan selama 12 hari. Selain itu, pada akhir Desember 2025, AS dan Israel melakukan upaya destabilisasi di dalam negeri Iran dengan mempersenjatai para perusuh yang mengakibatkan 3.117 orang tewas, termasuk 2.447 warga sipil dan pasukan keamanan.
Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel kembali menyerang Iran. Sekretaris Jenderal FPN, Furqan AMC, menyatakan bahwa setiap serangan militer sepihak terhadap negara berdaulat merupakan pelanggaran berat terhadap Piagam PBB, khususnya larangan penggunaan kekerasan yang tercantum dalam Pasal 2(4). Ia juga menyampaikan keprihatinan terhadap ancaman yang ditujukan kepada kepemimpinan politik Republik Islam Iran.
Prinsip-Prinsip yang Ditegaskan oleh FPN
Sebagai jaringan masyarakat sipil yang berkomitmen pada keadilan dan pembebasan Palestina, FPN menegaskan kembali prinsip-prinsip berikut:
- Penghormatan terhadap kedaulatan nasional tidak dapat dinegosiasikan.
- Nyawa warga sipil tidak boleh dijadikan alat dalam konflik geopolitik.
- Hukum internasional harus diterapkan secara konsisten dan tanpa standar ganda.
- Perjuangan rakyat Palestina melawan pendudukan tetap menjadi inti dari tatanan regional yang adil.
FPN mengutuk keras serangan AS dan Israel terhadap Iran dan menuntut agar dunia internasional memberikan sanksi tegas kepada kedua entitas pelaku kejahatan kemanusiaan tersebut. Organisasi ini juga menyeru dunia internasional untuk bersatu dalam menghentikan kejahatan Israel di Palestina, Lebanon, Suriah, Yaman, maupun Iran.
Kronologi Serangan AS-Israel ke Iran
Serangan terhadap Iran terjadi di tengah eskalasi besar-besaran konflik yang dipicu oleh operasi militer gabungan Israel dan AS yang menarget sejumlah infrastruktur militer Iran, termasuk kawasan strategis di Ibu Kota Teheran dan wilayah selatan, pada 28 Februari 2026. Laporan dari AFP dan Associated Press menyebutkan bahwa serangan ini dilancarkan sebagai upaya untuk menekan kemampuan militer dan ancaman yang dianggap ditimbulkan Iran.
Pada saat serangan dilancarkan, sekolah dasar itu dipenuhi siswa yang sedang memulai hari pembelajaran. Dentuman kuat terdengar di lokasi, disusul kepulan asap dan upaya evakuasi darurat oleh pihak berwenang setempat. Laporan menyebutkan bahwa sedikitnya 45 orang lainnya mengalami luka-luka dan dirawat di fasilitas kesehatan terdekat.
Pemerintah Iran secara tegas mengutuk serangan tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional dan menargetkan warga sipil tak bersalah. Pernyataan otoritas setempat menegaskan solidaritas nasional dan janji akan tindakan balasan terhadap pihak yang mereka anggap bertanggung jawab atas serangan itu.
Serangan Balasan Iran
Iran menembakkan serangkaian misil dan drone ke beberapa basis militer AS di wilayah Teluk Persia sebagai balasan terhadap serangan udara gabungan yang dilancarkan sebelumnya oleh AS dan Israel. Operasi balasan Iran ini merupakan eskalasi signifikan dalam konflik yang melibatkan kekuatan militer besar di kawasan.
Berdasarkan laporan The Economic Times yang mengutip sumber Iran serta pernyataan dari pihak negara-negara yang menjadi tuan rumah basis AS, berikut ini daftar basis militer Amerika yang dilaporkan menjadi target serangan misil Iran:
- Al-Udeid Air Base — Qatar
- Al-Salem Air Base — Kuwait
- Al-Dhafra Air Base — Uni Emirat Arab
- US Navy Fifth Fleet Headquarters — Bahrain
Beberapa negara teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan AS, termasuk Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, mengaktifkan pertahanan udara mereka untuk menghadapi ancaman misil. Qatar melaporkan intercept misil yang mengarah ke pangkalan mereka, sementara Bahrain mencatat serangan yang memengaruhi instalasi US Navy Fifth Fleet.











