Presiden Prabowo Siap Jadi Mediator AS dan Iran, Dukungan dari DPR RI
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan kesiapannya untuk berperan sebagai mediator dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang sedang memanas. Langkah ini mendapat dukungan dari Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai NasDem, Amelia Anggraini.
Amelia Anggraini mengungkapkan bahwa keputusan Presiden Prabowo untuk menjadi mediator merupakan langkah diplomatik yang sangat tepat. Ia menilai bahwa sebagai salah satu kepala negara pertama yang menyatakan kesiapan untuk menjadi mediator, Presiden Prabowo telah memberikan peran penting dalam komunitas internasional.
“Kami sangat mendukung langkah yang diambil oleh Bapak Presiden dan saya rasa ini adalah kepala negara, salah satu pertama yang menyatakan kesiapan untuk menjadi mediator bagi negara yang sedang berkonflik dalam hal ini Iran-Israel dan juga di-backup oleh Amerika,” ujarnya.
Amelia menambahkan bahwa Presiden Prabowo juga telah aktif dalam memperjuangkan perdamaian dunia, terutama untuk rakyat Gaza, Palestina. Hal ini dibuktikan dengan bergabungnya Prabowo dalam Board of Peace (BoP) yang dibentuk oleh Presiden AS, Donald Trump.
“Masuk ke dalam BoP itu adalah langkah diplomatik yang menurut saya juga baik. Tetapi ini saya melihatnya pada perspektif ikhtiar ya, sebuah usaha diplomatik begitu. Kalau kita tidak ada di dalam, bagaimana kita bisa memediasi pihak-pihak hasil berkonflik? Paling tidak kalau ada di dalam, kita bisa bersuara, kita bisa bersuara dan positioning kita kan jelas,” papar Amelia.
Profil Amelia Anggraini
Amelia Anggraini adalah anggota Komisi I DPR RI dari fraksi Partai NasDem. Sebelumnya, ia pernah menjadi Anggota DPR RI pada periode 2014-2019. Meski sempat tidak menjabat selama periode 2019-2024, kualitas Amelia Anggraini tetap terjaga.
Ia kembali terpilih untuk periode keduanya menjadi Anggota DPR RI lewat Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024. Amelia mewakili daerah pemilihan Jawa Tengah VII yang meliputi Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Purbalingga.
Perjuangan Amelia Anggraini hingga bisa dua periode menjadi Anggota DPR RI tentu tidak mudah. Ia pernah merasakan berbagai pekerjaan termasuk menjadi Sales Executive For Corporate Hotel Horison Ancol (1994 – 1996). Puluhan tahun bergelut di dunia perhotelan membuat Amelia Anggraini bisa merasakan berbagai jabatan yang lebih tinggi. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk menggeluti politik dengan merapat ke Partai NasDem.
Prabowo Siap ke Teheran Mediasi AS – Iran
Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapannya untuk berperan sebagai mediator dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memanas. Sikap resmi itu disampaikan menyusul serangan udara gabungan yang dilancarkan militer AS dan Israel ke sejumlah wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Melalui pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Pemerintah Indonesia menyerukan agar semua pihak menahan diri dan mengedepankan penyelesaian melalui jalur damai.
“Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan memprioritaskan dialog dan diplomasi,” demikian pernyataan yang disampaikan Kemenlu RI di X.
Pemerintah juga menyatakan kesediaan terlibat langsung dalam upaya mediasi, apabila kedua negara yang berseteru menyepakati langkah tersebut. “Pemerintah Indonesia menyatakan kesediaannya untuk memfasilitasi dialog guna memulihkan kondisi keamanan yang kondusif.”
“Jika disetujui oleh kedua belah pihak, Presiden Indonesia siap melakukan perjalanan ke Teheran untuk melaksanakan mediasi,” tambah pernyataan itu.
Pro Kontra Dalam Negeri
Pernyataan Kemlu RI memicu respons pro kontra di dalam negeri. Mantan Duta Besar RI untuk Iran, Dian Wirengjurit, menilai Iran tidak akan suka jika Indonesia menjadi mediator. Sebab, Indonesia kini sudah berada di pihak AS, apalagi setelah Prabowo memutuskan bergabung dengan Board of Peace (BoP) bentukan Presiden AS, Donald Trump.
“Saya kira mungkin Iran pun dalam hal ini tidak akan happy menerima Indonesia menjadi mediator, karena Indonesia sudah ada di pihak Amerika kok,” jelas Dian.
Sementara itu, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, mengatakan momentum saat ini dinilai belum tepat untuk melakukan diplomasi damai. “Bila Presiden mau jadi juru damai sebaiknya tidak sekarang,” kata Hikmahanto.
Hikmahanto menilai, upaya damai sebaiknya dilakukan ketika konflik sudah berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama karena pada fase tersebut, peran mediator sangat dibutuhkan secara psikologis oleh negara-negara yang bertikai.











