"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Perang AS-Iran Memicu Ancaman Gangguan Impor BBM RI, Ini Data Terbarunya



JAKARTA — Perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang telah memasuki hari ke 3 berpotensi mengganggu rantai pasok energi global, termasuk Indonesia. Apalagi, jika Selat Hormuz, yang menjadi salah satu urat nadi jalur pengiriman minyak ke seluruh dunia, ditutup atau tersendat akibat aksi saling serang dua kubu yang bertikai.

Kekhawatiran juga masih tinggi jika perang antara Iran dan AS plus Israel itu berubah menjadi konflik regional. Proksi militer Iran di wilayah Yaman, yakni Houthi, yang kerap mengganggu dan melakukan aksi sabotase kapal-kapal dagang di Laut Merah, perairan yang menghubungkan Samudra Hindia ke kawasan Mediterania melalui Terusan Suez, juga akan menambah beban baru bagi rantai energi global.

Dalam catatan Bisnis, Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor bahan bakar mineral (BBM) dari sejumlah negara di Timur Tengah, termasuk yang berada di kawasan Teluk Persia. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab adalah dua negara pemasok utama bahan bakar mineral dari kawasan tersebut.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa selama tahun 2021-2025, total importasi BBM dengan kode harmonized system atau HS 27, dari Arab Saudi mencapai 26,87 juta ton atau senilai US$16,9 miliar. Mayoritas bahan bakar mineral dari Arab Saudi mengalir ke Cilacap sebesar 18,75 juta ton atau setara US$11,3 miliar. Selain itu ada juga yang ke Tanjung Leneng, Banten. Volumenya mencapai 5,17 juta ton atau senilai US$3,69 miliar.

Berikut adalah data impor BBM Indonesia dari beberapa negara selama periode 2021-2025:

  • Singapura: 65,24 juta ton atau senilai US$49,22 miliar
  • Malaysia: 34,1 juta ton atau senilai US$25,42 miliar
  • Arab Saudi: 26,87 juta ton atau senilai US$16,9 miliar
  • AS: 29,03 juta ton atau senilai US$13,68 miliar
  • China: 24,42 juta ton atau senilai US$8,25 miliar
  • UEA: 11,06 juta ton atau senilai US$7,04 miliar
  • Qatar: 4,91 juta ton atau senilai US$3,2 miliar
  • Rusia: 21,44 juta ton atau senilai US$4,63 miliar
  • Bahrain: 1,06 juta ton atau senilai US$666 juta
  • Kuwait: 1,84 juta ton atau senilai US$1,02 miliar
  • Oman: 1,64 juta ton atau senilai US$1,2 miliar

Sementara itu, volume importasi BBM Indonesia dari Uni Emirat Arab alias UEA dalam 5 tahun terakhir tercatat menembus angka 11,06 juta ton atau senilai US$7,04 miliar. Aliran BBM impor dari UEA sebagian menuju ke Merak, Balikpapan, Belawan, hingga Kalbut di Situbondo, Jawa Timur.

Selain Arab Saudi dan UEA, negara teluk yang tercatat mengekspor hasil BBM alias bahan bakar mineral ke Indonesia antara lain, Qatar sebesar 4,91 juta ton atau US$3,2 miliar, Bahrain sebanyak 1,06 juta ton (US$666 juta), Kuwait 1,84 juta ton (US$1,02 miliar), dan Oman sebesar 1,64 juta ton atau senilai US$1,2 miliar.

Meski punya peran dalam rantai pasok energi, importasi BBM terbesar Indonesia justru bukan berasal dari negara teluk, melainkan Singapura dan Malaysia. Total impor BBM dari Singapura selama 5 tahun terakhir tercatat sebesar 65,24 juta ton atau setara US$49,22 miliar. Sedangkan dari Malaysia, total importasinya mencapai 34,1 juta ton atau sekitar US$25,42 miliar.

Meski dari sisi pasokan tidak langsung tergantung kepada negara-negara teluk, Indonesia berpotensi mengalami tekanan neraca perdagangan karena lonjakan harga minyak. Apalagi, harga minyak mentah dunia melonjak usai serangan AS-Israel ke Iran menyeret pasar minyak global ke jurang kekacauan dengan penutupan Selat Hormuz secara efektif.

Harga minyak Brent melonjak hingga 13% ke level sekitar US$82 per barel. Menurut laporan Bloomberg pada Senin (2/3/2026), minyak Brent untuk kontrak Mei melompat 12% ke level US$81,37 per barel pada pukul 7.01 pagi waktu Singapura.

Apa Tanggapan Pemerintah?

Sejauh ini, pemerintah sedang menyiapkan sejumlah upaya untuk meredam dampak perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran, terutama pada energi dan pangan nasional.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menyampaikan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat selalu difungsikan sebagai shock absorber, guna meredam transmisi konflik terutama pada energi dan pangan.

“Fokus utama adalah menjaga daya beli masyarakat jika terjadi fluktuasi harga komoditas terutama energi di tingkat global,” kata Haryo kepada Bisnis, Minggu (1/3/2026).

Haryo menuturkan, pemerintah telah mengeluarkan dan mempercepat penyaluran bantuan pangan 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng kepada 35,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Pemerintah juga akan mengeluarkan kebijakan-kebijakan lanjutan dalam momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H/2026 M. Dia mengharapkan, langkah ini menjadi bantalan ekonomi yang kuat untuk menggerakkan roda konsumsi domestik di tengah ketidakpastian global.

Tidak hanya dengan Kemenkeu, pihaknya juga terus berkoordinasi erat dengan Bank Indonesia (BI). Sesuai wewenangnya BI akan berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. “Posisi cadangan devisa per Januari 2026 di angka US$154,6 miliar juga dirasa aman sebagai instrumen menjaga nilai tukar rupiah,” ungkapnya.

Haryo menambahkan, Pertamina juga telah memberikan jaminan bahwa stok BBM dan LPG nasional dalam kondisi aman untuk kebutuhan selama periode Ramadan dan Idulfitri.

Berdasarkan pengalaman pada 2025, Haryo mengungkapkan bahwa Pertamina telah menyiapkan beberapa alternatif jalur pelayaran lain guna menjaga keberlangsungan rantai pasok minyak dan menjaga kestabilan harga BBM dalam negeri.

Haryo menegaskan, pemerintah terus memantau perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah. Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. “Kami akan terus memonitor situasi dari waktu ke waktu dan mengambil kebijakan yang diperlukan demi kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *