Peristiwa Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terkoordinasi ke sejumlah target strategis di Iran. Operasi militer ini menandai puncak dari kebuntuan panjang dalam negosiasi nuklir dan eskalasi politik kawasan. Serangan tersebut menyasar fasilitas yang diklaim berkaitan dengan program nuklir, sistem rudal balistik, serta pusat komando Garda Revolusi Iran. Washington menggambarkan operasi ini sebagai “Operation Epic Fury”, sementara Israel menyebutnya sebagai “Operation Roaring Lion”.
Namun, peristiwa ini bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ada sejarah panjang, kebuntuan diplomasi nuklir, dan dinamika politik domestik Iran yang menjadi faktor utama dalam konfrontasi terbuka antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv.
Sejarah Hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel
Sebelum Revolusi Islam 1979, hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak selalu bermusuhan. Pada masa Shah Mohammad Reza Pahlavi, Iran dianggap sebagai sekutu strategis Washington dan memiliki hubungan tidak resmi namun erat dengan Israel. Amerika Serikat bahkan berperan dalam pembentukan program nuklir Iran melalui kerja sama Atoms for Peace pada 1957.
Setelah revolusi yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini menggulingkan Shah, situasi berubah drastis. Iran kemudian mendefinisikan diri sebagai republik Islam yang secara ideologis menentang pengaruh Barat dan memusuhi Israel. Sejak saat itu, hubungan ketiga pihak bergerak dalam pola ketegangan permanen.
Pemicu Langsung Serangan 28 Februari 2026
Pemicu langsung serangan 28 Februari 2026 berkaitan dengan runtuhnya negosiasi nuklir di Jenewa. Hingga 26 Februari 2026, mediator internasional masih melaporkan adanya peluang kompromi, termasuk kesediaan Iran mengurangi stok uranium yang diperkaya. Namun, pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump menuntut syarat yang jauh lebih luas.
Tuntutan tersebut mencakup pembongkaran permanen fasilitas nuklir Fordow dan Natanz, penghentian total program rudal balistik, serta pemutusan dukungan Iran terhadap kelompok proksi regional seperti Hezbollah dan Hamas. Iran menolak tuntutan itu dengan alasan pelanggaran kedaulatan nasional. Di sisi lain, Washington menilai penolakan tersebut sebagai indikasi bahwa Iran hanya memperpanjang waktu untuk memperkuat kapasitas militernya.
Alasan Amerika Serang Iran: Faktor Politik dan Keamanan Regional
Selain faktor nuklir, situasi domestik Iran turut memperbesar eskalasi. Sejak akhir Desember 2025, Iran dilanda gelombang protes besar akibat krisis ekonomi dan anjloknya nilai tukar rial. Demonstrasi menyebar luas dan mendapat respons keras aparat keamanan. Sejumlah lembaga hak asasi manusia melaporkan ribuan korban tewas akibat penindakan tersebut.
Pada 13 Januari 2026, Donald Trump secara terbuka menyatakan dukungan kepada para pengunjuk rasa dan memperingatkan kemungkinan respons militer jika kekerasan berlanjut. Dinamika internal ini dinilai semakin memperlebar jurang antara Teheran dan Washington.
Eskalasi Militer Menuju Serangan Terbuka
Ketegangan militer sebenarnya telah meningkat sejak konflik singkat “Perang 12 Hari” pada Juni 2025 antara Iran dan Israel. Konflik tersebut menandai perubahan strategi, di mana serangan terbatas dianggap tidak lagi cukup untuk menekan ancaman. Memasuki Februari 2026, Amerika Serikat mengerahkan dua gugus tugas kapal induk, USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford—ke Teluk Persia.
Langkah ini dipandang sebagai sinyal tekanan sekaligus kesiapan perang. Puncaknya terjadi pada 28 Februari 2026, ketika serangan udara dilancarkan secara terbuka. Israel menyebut serangan itu sebagai langkah pre-emptive untuk menghapus ancaman eksistensial, sementara Iran menilainya sebagai agresi terhadap kedaulatan nasional.
Konflik yang berakar pada perubahan ideologi sejak 1979, kebuntuan nuklir, dan gejolak domestik kini memasuki fase konfrontasi terbuka dengan dampak regional yang luas.











