Indonesia Menangguhkan Pembahasan Board of Peace Akibat Ketegangan di Timur Tengah
Pemerintah Indonesia akhirnya mengambil keputusan untuk menangguhkan seluruh pembahasan terkait Board of Peace (BoP) setelah serangan Israel yang didukung Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah dan untuk memastikan keselamatan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di wilayah tersebut.
Penangguhan Pembahasan BoP
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Yvonne Mewengkang, menyatakan bahwa semua diskusi dengan BoP kini ditangguhkan atau dalam status on-hold. Hal ini dilakukan karena pemerintah memprioritaskan pemantauan perkembangan konflik dan dinamika kawasan. Selain itu, pemerintah juga fokus pada upaya melindungi WNI yang tinggal di wilayah Timur Tengah.
“Segala pembahasan dengan BoP saat ini ditangguhkan atau istilahnya on-hold,” ujar Yvonne dalam taklimat media di Jakarta. Ia menambahkan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam BoP akan tetap dipertimbangkan berdasarkan kepentingan nasional, prinsip politik luar negeri bebas-aktif, serta dinamika situasi di lapangan.
Langkah Konkret Pemerintah
Dalam rangka menjaga netralitas dan menjalankan prinsip politik luar negeri bebas-aktif, pemerintah telah melakukan tiga langkah konkret:
- Desakan Gencatan Senjata: Indonesia secara resmi meminta seluruh pihak menghentikan kekerasan sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu.
- Diplomasi Maraton: Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Luar Negeri Sugiono telah melakukan komunikasi telepon intensif dengan pemimpin negara kunci seperti Iran, Arab Saudi, UEA, Qatar, hingga Yordania untuk mendorong dialog damai.
- Siaga Evakuasi WNI: Perlindungan warga negara menjadi prioritas mutlak. Kemlu terus memetakan langkah perlindungan lanjutan, termasuk skenario evakuasi jika situasi semakin memburuk.
Dukungan untuk Palestina Tetap Kuat
Meskipun pembahasan teknis BoP ditangguhkan, Indonesia tetap memastikan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina tetap menjadi garis terdepan kebijakan luar negeri. Pemerintah akan terus mencari celah diplomasi yang paling efektif di forum internasional untuk mendorong perdamaian yang adil bagi rakyat Palestina.
Kritik Publik terhadap BoP
Publik dan kalangan aktivis menilai bahwa BoP tidak lagi menjalankan misinya sebagai organisasi yang bertujuan untuk menjaga perdamaian. Sebaliknya, mereka menilai BoP justru bertindak bertentangan dengan prinsip yang diamanatkan oleh Piagam PBB.
Koalisi masyarakat sipil meluncurkan petisi yang menyoroti sejumlah kebijakan luar negeri pemerintah Indonesia yang dianggap bermasalah. Petisi ini disusun sebagai respons terhadap empat isu yang sedang berkembang, yakni perjanjian dagang Indonesia–Amerika Serikat, keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace, rencana pengiriman TNI ke Gaza, serta serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Dalam petisi tersebut, akronim Board of Peace (BoP) bahkan diubah menjadi Board of War. Mereka menilai serangan AS-Israel terhadap Iran telah melanggar hukum internasional dan merusak perdamaian dunia.
Komitmen Indonesia untuk Perdamaian
Indonesia tetap berkomitmen untuk menjadi penengah yang jujur dalam konflik Timur Tengah. Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu, Santo Darmosumarto, menegaskan bahwa netralitas Indonesia adalah amanat konstitusi untuk menjaga ketertiban dunia.
“Indonesia memilih berperan sebagai penengah yang jujur, bukan sebagai aktor yang mengambil posisi terhadap salah satu pihak,” tegas Santo.
Pemerintah akan terus memantau situasi dan siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga kepentingan nasional dan keselamatan WNI di tengah ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah.











