"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Pejabat Iran Hina Pernyataan Trump Soal Penyerahan Diri dan Perannya Memilih Pemimpin Baru

Pernyataan Trump dan Tanggapan Iran

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, telah mengeluarkan pernyataan yang menyatakan bahwa satu-satunya kesepakatan yang bisa tercapai dengan Iran adalah melalui penyerahan diri tanpa syarat dari negara tersebut. Pernyataan ini muncul dalam konteks ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan Timur Tengah. Trump juga menyatakan bahwa dirinya ingin terlibat dalam proses pemilihan pemimpin Iran berikutnya, setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan AS-Israel di Iran.

Abas Aslani, seorang peneliti senior di Pusat Studi Strategis Timur Tengah, menyebut bahwa pernyataan Trump tentang penyerahan diri dan perannya dalam memilih pemimpin baru Iran mendapat respons “sikap penolakan mutlak” dari pihak Iran. Menurut Aslani, Iran menilai pernyataan tersebut sebagai upaya intervensi yang tidak pantas dan tidak diinginkan.

Pernyataan Trump ini muncul pada saat Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memberikan indikasi bahwa serangan AS terhadap Iran akan meningkat secara dramatis. Hal ini memperburuk situasi geopolitik di kawasan tersebut.

Iran Menolak Penyerahan Diri dan Intervensi Luar

Para pejabat Iran mengejek pernyataan Trump tentang penyerahan diri dan perannya dalam memilih pemimpin baru. Mereka menegaskan bahwa Majelis Pakar, lembaga yang berwenang memilih pemimpin utama, akan menjadi satu-satunya entitas yang berhak menentukan kepemimpinan negara tersebut. Aslani menambahkan bahwa Iran tampaknya lebih fokus pada keberlanjutan daripada perubahan dalam sikapnya terhadap AS.

“Kita melihat bahwa Iran memberi sinyal keberlanjutan daripada perubahan,” kata Aslani kepada Al Jazeera. “Mereka mengatakan bahwa Majelis Pakar yang berwenang memilih pemimpin utama, dan para pejabat Iran telah mengejek pernyataan-pernyataan Amerika Serikat tersebut.”

Selain itu, Iran masih menunda pengumuman mengenai pemimpin tertinggi yang baru. Namun, beberapa politikus Iran sebelumnya menyatakan bahwa pengumuman tersebut kemungkinan akan segera dilakukan.

Iran Siap Berperang Jangka Panjang

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, menyatakan bahwa Iran siap berperang dalam jangka waktu lama dengan AS-Israel. Naeini menegaskan bahwa Iran sepenuhnya siap untuk “perang berkepanjangan” dan siap memperkenalkan persenjataan canggih yang belum pernah digunakan dalam konflik tersebut.

Dia juga mengatakan bahwa musuh-musuh Iran “harus mengharapkan pukulan yang menyakitkan” dalam gelombang serangan baru yang akan datang. Naeini menyebut bahwa inisiatif dan senjata baru Iran sedang dalam perjalanan, dengan teknologi-teknologi yang belum diterapkan secara luas.

Naeini bahkan menggambarkan konfrontasi militer yang sedang berlangsung sebagai “perang suci dan sah”. Ia juga menyatakan bahwa Iran kini lebih siap dibandingkan perang 12 hari tahun lalu yang dilancarkan oleh AS dan Israel.

Iran Menutup Pintu Damai

Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyatakan bahwa Iran menutup pintu damai atas serangan yang dilakukan AS maupun Israel. Atas dasar itu, Boroujerdi memastikan Iran akan membereskan AS dan Israel di lapangan perang.

“Kali ini Iran akan membereskan pihak musuh di lapangan perang,” katanya dalam acara doa bersama dan penandatanganan petisi Solidaritas Kemanusiaan di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Boroujerdi menjelaskan bahwa keputusan Iran untuk menyelesaikan konflik dengan AS dan Israel di lapangan perang karena sudah tidak percaya dengan negara tersebut. Dalam tiga kali negosiasi yang dilakukan Iran terhadap negara barat, serangan tetap dilakukan.

“Iran sudah tiga kali melakukan negosiasi dan hasilnya Iran tetap diserang,” ucap Boroujerdi.

Perspektif Tentang Mediator Perdamaian

Boroujerdi juga dikonfirmasi perihal Presiden Prabowo Subianto yang siap menjadi mediator perdamaian bagi Iran dan AS-Israel. Dia mengungkapkan bahwa Iran tidak ingin ada negosiasi dalam bentuk apapun dengan pihak AS maupun Israel, karena Iran sudah tidak percaya lagi dengan AS dan Israel, serta menganggapnya musuh.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *