"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Duit Rp15 M Raib, Caleg Nasdem Putri Dakka: Pencurian Halus, Dibuka Setelah Lebaran

Putri Dakka dan Kekalahan yang Membuatnya Menjadi Sorotan

Putri Dakka, calon anggota DPR RI dari Partai Nasdem nomor urut 7 di daerah pemilihan Sulsel III pada Pemilu 2024, dikenal sebagai sosok yang berani menghabiskan dana hingga Rp 15 miliar untuk memperjuangkan kursi di DPR. Namun, meskipun usaha besar itu dilakukan, ia gagal terpilih. Di dapil tersebut, dua caleg Partai Nasdem berhasil meraih suara cukup signifikan, yaitu Rusdi Masse Mappasessu (nomor urut 1) dengan 161.301 suara dan Eva Stevany Rataba (nomor urut 2) dengan 73.910 suara. Total suara Partai Nasdem di daerah pemilihan ini mencapai 389.947.

Rusdi dan Eva keduanya merupakan petahana. Namun, pada awal 2026, Rusdi mundur dari DPR RI setelah pindah ke Partai PSI. Kepergiannya menimbulkan kekosongan kursi yang kini sedang diperebutkan oleh beberapa calon pengganti antarwaktu (PAW) dalam internal Partai Nasdem.

Mekanisme Penggantian Antarwaktu (PAW)

Mekanisme PAW diatur dalam beberapa peraturan, seperti UU Nomor 7 Tahun 2027 tentang Pemilu, PKPU Nomor 6 Tahun 2019, serta UU Nomor 17 Tahun 2014. Berdasarkan aturan tersebut, calon PAW diambil dari Daftar Calon Pengganti (DCT) Anggota DPR yang sama pada daerah pemilihan yang sama, dengan peringkat suara terbanyak berikutnya.

Jika mengacu pada hasil perolehan suara, Putri Dakka memiliki peluang terbesar menjadi PAW karena mendapatkan 53.700 suara. Disusul oleh Aslam Patonangi (43.580 suara), Hayarna Hakim (29.162 suara), M Judas Amir (12.669 suara), dan Nicodemus Biringkanae (4.908 suara).

Namun, ada kendala yang muncul. Aslam Patonangi telah keluar dari Partai Nasdem, sementara Putri Dakka kini tengah dihadapkan pada isu loyalitas kepada partai. Pada Pilkada 2024, Putri mencalonkan diri sebagai Wali Kota Palopo tanpa dukungan Partai Nasdem, melainkan didukung PDIP dan PAN. Partai Nasdem mengusung pasangan Farid Kasim Judas dan Nurhaeni, yang merupakan putra dari rival Putri.

Isu Loyalitas dan Penyelidikan

Putri Dakka sendiri menegaskan bahwa ia masih tetap sebagai kader Partai Nasdem. Ia juga melalui akun Facebook-nya menyampaikan curhatan mengenai pengeluaran dana sebesar Rp 15 miliar selama kampanye Pemilu, yang dinilainya tidak sebanding dengan hasil yang diraih. Dalam curhatannya, ia menyebut adanya indikasi penipuan dan kecurangan dari oknum tertentu.


Kemarin aku menerima kekalahan dengan ikhlas. Aku sadar, aku masih belajar amatiran, dan itu wajar. Tapi bagiku, panggung ini adalah panggung kejujuran… panggung pengorbanan… panggung pengabdian. Aku tidak main-main. Aku mengorbankan hasil keringatku 15 miliar untuk sebuah perjuangan yang kujalani dengan niat tulus. Aku percaya pada jagoan dan meminta berurusan pada lembaga yang iya tunjuk. Aku serahkan semuanya kepada mereka yang mengaku profesional, yang datang dengan strategi, janji, dan keyakinan bekerja. Namun waktu membuka semuanya… Saat aku hanya meminta satu hal sederhana, cek data di satu wilayah, mereka bahkan tak mampu menjawab. Artinya jelas: tidak pernah dikerjakan. Lebih menyakitkan lagi… timku yang bekerja dengan hati tidak dibayar. Operasional tidak jalan. Dan tim yang mereka bentuk? Hanya dua orang… dengan upah tiga juta per bulan. Sementara komunitasku yang tulus justru difitnah, dibenturkan denganku sendiri. Kerja yang “katanya profesional”… ternyata hanya topeng. Aku rela berkorban agar timku sejahtera, agar mereka bisa menafkahi keluarga mereka saat dng tulus bekerja dilapangan. Tapi untuk menggaji tim selama 3 bulan, Hanya mengeluarkan 18 juta saja. Lalu ke mana 15 miliar itu pergi? Ini bukan lagi kelalaian. Ini adalah perampokan halus yang dibungkus rapi. Selesai lebaran, semuanya akan terbuka. Tim investigasiku sudah bergerak. Dan ternyata… bukan hanya aku korbannya. Data sudah terkumpul. Modusnya seperti operandi gunung es yang terlihat kecil, tapi menyimpan kebusukan besar di dalamnya. Dan satu hal lagi… Selama setahun, kamu bermain di balik layar. Membangun fitnah. Mencoba membunuh karakterku di depan publik. Kenapa? Karena kamu panik. Karena kamu memegang uangku. Dan kamu tahu… 53 ribu suara itu lahir dari hati nurani tanpa kalian bekerja yang kalian sebut profesional. Kamu takut. Takut pada cahaya yang tidak bisa kamu kendalikan. Lalu kamu memilih cara paling kotor menjatuhkan, memutarbalikkan, dan menyerang. Padahal… Lebih baik terlihat keras seperti mafia, tapi punya empati dan kepedulian, daripada terlihat suci, namun sejatinya perampok yang dibungkus kemunafikan. Kamu bangunkan singa yang sdh lama tertidur pulas. Lain kali kalau mau keker calon korban liat liat orang, Terlalu privacy hidupku hingga kau tak mampu mengenali. Nikamati sekarang apa yang kau tanam itu yang kau petik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *