"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Pakaistan-Afghanistan Berunding di Tiongkok untuk Selesaikan Perselisihan

Perdamaian di Urumqi: Langkah Penting untuk Menenangkan Konflik Pakistan dan Afganistan

Pertemuan diplomatik tingkat tinggi antara Pakistan dan Afganistan resmi dimulai di Urumqi, China, pada hari Kamis (2/4/2026). Pertemuan ini merupakan langkah penting dalam upaya menghentikan konflik bersenjata yang terjadi di perbatasan kedua negara. Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan antara kedua pihak semakin memburuk, sehingga diperlukan dialog untuk mencari solusi jangka panjang.

Dialog strategis ini fokus pada pencarian jalan keluar permanen untuk menghentikan serangan lintas batas dan membuka kembali jalur perdagangan internasional di sepanjang Durand Line. Meski kedua pihak masih bersikap hati-hati, kehadiran China diharapkan bisa menjadi landasan kuat untuk mencapai gencatan senjata dan memperbaiki hubungan yang tegang akibat isu terorisme serta sengketa wilayah.

China sebagai Penengah dalam Perdamaian

Pertemuan di Urumqi dihadiri oleh delegasi senior dari Pakistan yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri, didampingi pejabat dari Kementerian Pertahanan, Kementerian Dalam Negeri, dan badan intelijen nasional. Di pihak lain, otoritas Taliban Afganistan juga mengirimkan utusan dari lembaga yang sama. Mereka bertemu secara langsung untuk meredakan ketegangan senjata yang telah memakan ratusan korban jiwa.

China turun tangan sebagai mediator karena khawatir konflik ini akan mengganggu keamanan proyek Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC) dan potensi masuknya kelompok militan ke wilayah Xinjiang. Utusan Khusus China, Yue Xiaoyong, aktif membujuk Islamabad dan Kabul agar mau bernegosiasi kembali. Dalam diskusi tertutup tersebut, China menekankan pentingnya membangun rasa percaya dengan membuka kembali jalur perdagangan dan akses bagi warga sipil.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, mengonfirmasi bahwa delegasi mereka hadir sebagai bentuk dukungan terhadap perdamaian dan pemberantasan terorisme lintas batas. Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan komitmen Presiden Xi Jinping untuk mendorong kedua negara agar menahan diri dan lebih mengutamakan jalan diplomasi.

Pakistan Meminta Bukti Nyata dari Afganistan

Dalam perundingan tersebut, Pakistan secara tegas menuntut bukti nyata dari pemerintah Taliban mengenai penindakan kelompok Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) dan militan lainnya yang diduga bersembunyi di Afganistan. Islamabad menekankan bahwa hubungan normal dan pembukaan jalur perdagangan hanya bisa terjadi jika Kabul memberikan jaminan keamanan tertulis yang mengikat. Hal ini dilakukan karena Pakistan belajar dari kegagalan kesepakatan tahun 2021 yang dinilai tidak dipatuhi oleh Taliban.

Meskipun China juga khawatir dengan keberadaan Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM) di Afganistan, Pakistan tetap mendesak agar laporan aktivitas terorisme dari PBB dijadikan acuan utama. Bukti tersebut diperlukan untuk membentuk pengawasan perbatasan yang transparan dan bisa dipantau bersama.

Tahir Andrabi menegaskan bahwa tanggung jawab proses damai ini sekarang berada di tangan Afganistan. Pakistan menolak alasan Kabul yang menyebut masalah militansi sebagai urusan dalam negeri Pakistan. Sebaliknya, Pakistan menuntut penutupan kamp latihan dan pemutusan jalur logistik kelompok bersenjata sebagai syarat untuk melanjutkan dialog.

Usulan Lima Poin Perdamaian dari Pakistan dan China

Konflik yang memuncak pada akhir Februari 2026 memicu Pakistan meluncurkan Operasi “Ghazab-lil Haq”. Operasi ini mencakup serangan udara terhadap markas militan di Kabul dan Kandahar. Meski pihak Taliban mengklaim serangan tersebut mengenai warga sipil di fasilitas umum, Pakistan bersikeras bahwa target mereka adalah infrastruktur pendukung teroris yang sah.

Konflik ini berdampak pada penutupan gerbang perbatasan utama, yang menyebabkan kerugian ekonomi bagi para pedagang dan menghambat pemulangan ribuan pengungsi Afganistan. Untuk meredakan situasi, Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, dan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, telah mengusulkan lima poin perdamaian, termasuk gencatan senjata segera dan pembukaan kembali arus perdagangan.

Pemerintah Pakistan menyatakan bahwa operasi militer akan terus dilakukan untuk membela diri sampai ada jaminan keamanan yang jelas dari Afganistan. Meski begitu, Islamabad tetap membuka diri pada dialog perdamaian yang didukung oleh China, Amerika Serikat, dan Iran. Keberhasilan pertemuan di Urumqi dianggap sebagai penentu masa depan ekonomi di Asia Selatan.

“Kami akan terus mengupayakan jalur diskusi meskipun ada berbagai tantangan. Pakistan sangat menghargai peran penting China sebagai pemain global dalam membantu upaya perdamaian ini,” kata Andrabi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *