"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Bisnis  

Arfianto, Pengrajin Tempe yang Produksi 7 Kuintal Kedelai Harian Meski Harga Naik, Pilih Kecilkan Ukuran

Dampak Kenaikan Harga Kedelai dan Plastik pada Perajin Tempe dan Pedagang

Kenaikan harga kedelai yang disebabkan oleh konflik di kawasan Timur Tengah telah memberikan tantangan berat bagi para perajin tempe dan pedagang kecil. Di tengah situasi ini, banyak pelaku usaha memutar otak untuk tetap menjaga operasional bisnis mereka tanpa harus menaikkan harga jual produk.

Strategi Penyesuaian Ukuran Tempe

Di kawasan Sanan, Kota Malang, Jawa Timur, para perajin tempe menghadapi kenaikan harga kedelai yang signifikan. Sebelumnya, harga kedelai hanya sekitar Rp 9.800 per kilogram, namun kini naik menjadi Rp 10.600 per kilogram sejak akhir Maret 2026. Arfianto, salah satu perajin tempe, menyatakan bahwa kenaikan ini terus berlangsung dan diprediksi akan terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan.

Untuk mengatasi tekanan biaya produksi, para perajin memilih tidak menaikkan harga jual tempe kepada konsumen. Alih-alih, mereka melakukan penyesuaian ukuran tempe. Arfianto menjelaskan bahwa ukuran tempe dikurangi sekitar 1 sentimeter dibandingkan sebelumnya. Meski ukurannya lebih kecil, penjualan tempe tetap stabil dan laku keras di pasar.

Stabilnya Permintaan Pasar

Harga tempe di tingkat pasar saat ini berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per potong, tergantung pada ukuran yang dipilih oleh konsumen. Volume produksi harian para perajin juga tidak mengalami penurunan yang signifikan. Rata-rata produksi harian mencapai 5 hingga 7 kuintal kedelai per hari, yang mampu memenuhi permintaan pelanggan.

“Alhamdulillah, semua produksi habis. Kadang bisa 5 kuintal, kadang sampai 7 kuintal, tergantung permintaan pasar,” ujar Arfianto.

Masalah Kenaikan Harga Plastik

Selain kedelai, para perajin juga menghadapi kenaikan harga plastik pembungkus. Hal ini menambah beban operasional yang harus ditanggung oleh pelaku usaha mikro. Arfianto menyebut bahwa kenaikan harga plastik terjadi karena dampak konflik di Timur Tengah, yang memengaruhi pasokan bahan baku.

Beberapa pedagang UMKM seperti Dede, seorang pedagang es di Stadion Singaperbangsa Karawang, mengeluhkan kenaikan harga plastik yang cukup tinggi. Misalnya, plastik yang awalnya Rp 9.000 tiap bungkus kini naik menjadi Rp 14.000 per bungkus. Dede belum menaikkan harga dagangannya, meskipun keuntungan berkurang, karena khawatir dagangannya sepi.

Ketidakpastian Harga dan Kekhawatiran Pedagang

Didi, pelaku usaha seblak di Telukjambe Barat, juga mengeluhkan kenaikan harga plastik. Ia menyebut harga plastik ukuran 10 x 15 naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 15.000 per bungkus. Selain itu, harga styrofoam juga naik, dari Rp 20.000 menjadi Rp 28.000 per bal untuk bentuk mangkok. Didi mengatakan bahwa kenaikan harga ini membuat pedagang resah, terutama di tengah harga bahan baku yang naik setelah Lebaran Idul Fitri.

Ahmad, pedagang pukis di Majalaya, juga mengalami tekanan serupa. Meskipun harga plastik naik, ia masih mempertahankan harga jual produknya. Ia khawatir pelanggan akan kabur jika harga dinaikkan. Ahmad mengatakan bahwa beralih ke kemasan ramah lingkungan atau kertas tidak menjadi pilihan karena harganya lebih mahal.

Harapan untuk Kembali Normal

Baik Dede, Didi, maupun Ahmad berharap agar konflik di Timur Tengah segera berakhir, sehingga harga plastik dan bahan baku lainnya kembali normal. Mereka berharap dapat bertahan di tengah kenaikan harga bahan baku dan operasional yang terus meningkat.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *