Donald Trump kembali membuat pernyataan yang mengejutkan. Presiden Amerika Serikat tersebut mengancam akan merebut minyak Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka. Batas waktu yang diberikan adalah hingga Selasa, 7 April 2026. Apakah Iran akan bersedia berunding?
Peringatan Trump terhadap Iran
Pada hari Minggu, 5 April 2026, Donald Trump melakukan wawancara dengan Fox News. Di dalam wawancara tersebut, ia menyampaikan bahwa batas waktu yang telah diberikan kepada Iran untuk mencapai kesepakatan dan membuka Selat Hormuz adalah Senin. Namun, akhirnya tenggat waktu tersebut direvisi menjadi Selasa.
Trump menegaskan bahwa jika Iran tidak segera mencapai kesepakatan, AS akan mengambil langkah tegas terhadap infrastruktur energi mereka. Ia juga menyatakan bahwa pihak Iran yang bersedia bernegosiasi akan diberi amnesti terbatas. Namun, jika kesepakatan tidak tercapai, AS akan mengambil alih minyak Iran.
“Jika mereka tidak mencapai kesepakatan, dan secepatnya, saya mempertimbangkan untuk meledakkan semuanya dan mengambil alih minyak,” ujar Trump, seperti dilansir Al Jazeera. “Kalian akan melihat jembatan dan pembangkit listrik runtuh di seluruh negeri mereka.”
Perspektif Iran
Trump juga menyebut bahwa Iran sedang mencoba menunda jangka waktu negosiasi, yang kemudian memicu serangan di jembatan pekan lalu. Ia menambahkan bahwa beberapa pejabat Iran sedang bernegosiasi dan yakin ada peluang bagus untuk mencapai kesepakatan pada hari Senin.
Namun, Iran membantah klaim Trump bahwa Teheran sedang berupaya mencapai kesepakatan. Mereka menilai ancaman Trump sebagai bentuk kekerasan dan tidak ingin terlibat dalam konflik yang lebih besar.
Tenggat Waktu yang Diperpanjang
Awalnya, Trump memberi tenggat waktu 6 April 2026 bagi Iran untuk mencapai kesepakatan atau menghadapi ancaman serangan terhadap infrastruktur penting. Jadwal ini merupakan tambahan perpanjangan waktu selama 10 hari dari tenggat waktu sebelumnya.
Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal yang dipublikasikan Minggu, Trump menekankan bahwa Iran harus segera bertindak sebelum tenggat berakhir. “Jika mereka tidak melakukan sesuatu hingga Selasa malam, mereka tidak akan memiliki pembangkit listrik dan tidak akan ada jembatan yang tersisa,” ujarnya.
Trump juga mengunggah pesan singkat di media sosialnya dengan menuliskan, “Tuesday, 8:00 P.M. Eastern Time!”, tanpa menyebut Iran secara langsung maupun memberikan rincian tambahan.
Konflik Timur Tengah
Konflik Timur Tengah kali ini dimulai ketika AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari 2026. Serangan tersebut bukan hanya menewaskan warga sipil tapi juga sejumlah tokoh penting, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan yang menargetkan infrastruktur AS-Israel termasuk di wilayah teluk.
Cadangan Minyak Terbesar di Dunia
Iran adalah salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Berikut daftar negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia sebagaimana dilansir Wolrdometers pada 2025:
- Venezuela
-
Cadangan: sekitar 303 miliar barel (17,17% dari total cadangan global)
-
Arab Saudi
-
Cadangan: sekitar 267,23 miliar barel (15,14% dari total cadangan global)
-
Iran
-
Cadangan: sekitar 208,6 miliar barel (11,82% dari total cadangan global)
-
Kanada
-
Cadangan: sekitar 163,1 miliar barel (9,24% dari total cadangan global)
-
Irak
-
Cadangan: sekitar 145,01 miliar barel (8,22% dari total cadangan global)
-
Uni Emirat Arab (UEA)
-
Cadangan: sekitar 113 miliar barel (6,40% dari total cadangan global)
-
Kuwait
-
Cadangan: sekitar 101,5 miliar barel (5,75% dari total cadangan global)
-
Amerika Serikat
-
Cadangan: sekitar 83,7 miliar barel (4,74% dari total cadangan global)
-
Rusia
-
Cadangan: sekitar 80 miliar barel (4,53% dari total cadangan global)
-
Libya
- Cadangan: sekitar 48,36 miliar barel (2,74% dari total cadangan global)
Indonesia sendiri tercatat memiliki cadangan minyak sekitar 2,4 miliar barel (0,14% dari total cadangan minyak global). Jumlah tersebut masih berada di bawah sejumlah negara di kawasan Asia.
China, misalnya, memiliki cadangan minyak sekitar 28 miliar barel, sementara India sekitar 4,98 miliar barel. Di kawasan Asia Tenggara, cadangan minyak Vietnam tercatat sekitar 4,4 miliar barel, sedangkan Malaysia memiliki sekitar 2,7 miliar barel.
Dengan jumlah tersebut, cadangan minyak Indonesia tergolong relatif kecil dibandingkan beberapa negara lain di kawasan maupun negara produsen minyak besar di dunia.











