Kehidupan dan Perjalanan Arsyah, dari Kombatan hingga Ketua Komisi III DPRK Aceh Utara
Nama Hanafiah mungkin lebih dikenal dengan julukan “Arsyah”, sebuah gelar yang melekat sejak masa konflik. Julukan ini bukan hanya sekadar panggilan, melainkan simbol perjalanan panjangnya sebagai kombatan hingga kini menjadi Ketua Komisi III DPRK Aceh Utara.
Julukan “Arsyah” disematkan kepadanya karena keberaniannya memegang senapan mesin ringan, saat orang lain menolak memanggulnya. Senjata itu bukan sembarang alat tempur, panjangnya hampir setinggi tubuhnya dan beratnya mencapai sekitar 7 kilogram. Namun, selama bertahun-tahun, ia tetap memanggulnya dalam berbagai operasi gerilya di Rimba Pase.
“Senjata meublet” begitu sepenggal kisah yang kerap dikenang, menggambarkan sosoknya yang identik dengan senjata panjang dan berat, tetapi tetap setia dalam perjuangan.
Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan
Hanafiah lahir di Tanah Luas pada Oktober 1976. Ia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara, pasangan M Kaoy dan Siti Aisyah. Setelah menamatkan pendidikan di SDN Blang Bidok, SMP Yayasan Ruhul Islam, dan SMA di Kecamatan Samudera, ia sempat merantau ke Malaysia.
Namun, di negeri jiran itulah ia justru mendengar kabar tentang perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Tanpa ragu, ia kembali ke tanah kelahirannya pada 1998 dan langsung bergabung dalam barisan perjuangan. Kariernya di GAM terbilang panjang.
Karier di GAM
Ia pernah tergabung dalam Pasukan Piranha, yang dikenal sebagai pasukan terlatih dengan mobilitas gerilya tinggi, menjabat sebagai Ulee Kompi, hingga dipercaya mengelola keuangan wilayah III Tgk Chik Paya Bakong. Selain itu, ia juga menjadi bagian dari tim ekonomi wilayah serta pengawal Panglima Wilayah Pase Tgk Zulkarnaini bin Hamzah (almarhum/eks Tripoli, Libya).
Tak hanya itu, Arsyah juga pernah menjadi “mualimin” atau pelatih bagi anggota GAM di Universitas Abeuk Supat, tempat atau camp latihan dalam mencetak kader-kader perjuangan saat masa konflik.
Interaksi dengan Tokoh Penting
Dalam perjalanannya, ia sering berinteraksi langsung untuk belajar dengan sejumlah tokoh penting GAM, seperti Muzakir Manaf yang dikenal dengan sapaan Mualem, serta Sofyan Dawood (Jurubicara GAM), dan sejumlah petinggi lainnya. “Lebih kurang ada 800 pasukan yang berada di bawah komando saya saat itu,” kenangnya.
Jalur Politik Pasca Konflik
Pasca konflik, Hanafiah memilih jalur politik sebagai bentuk pengabdian lanjutan. Ia bergabung dengan Partai Aceh dan mendapat kepercayaan untuk duduk di DPRK Aceh Utara. Kini, ia menjabat sebagai Ketua Komisi III DPRK Aceh Utara yang membidangi keuangan, aset, serta sektor strategis seperti migas.
Kepercayaan tersebut diberikan langsung oleh pimpinan Partai Aceh (PA), melihat rekam jejak dan pengalamannya di lapangan. Bagi suami Fatimah, perpindahan dari medan konflik ke parlemen bukanlah perubahan prinsip, melainkan kelanjutan perjuangan dengan cara berbeda, dari mengangkat senjata menjadi memperjuangkan kebijakan.
Komitmen untuk Pengembangan Diri
Di tengah kesibukannya sebagai pimpinan komisi, ia tetap berkomitmen meningkatkan kapasitas diri. Saat ini, ayah lima anak tersebut tengah menempuh pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim, Bireuen.











