Doa Perdamaian di Tengah Kekacauan Dunia
Di tengam kecemasan dunia akan masa depan yang tidak menentu akibat peperangan, Paus Leo XIV bersama Gereja Katolik memanjatkan doa khusus di Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada 11 April 2026. Dalam kesempatan ini, para umat dari berbagai belahan dunia berkumpul untuk menyatu dalam doa dan merenungkan pesan perdamaian yang disampaikan oleh Paus.
Romo Markus Solo Kewuta SVD (Padre Marco), pejabat Takhta Suci asal Indonesia, mengajak umat sedunia menyatu dalam doa dan merenungkan seruan Paus tersebut. Ia menekankan bahwa iman dan doa dapat memindahkan gunung. Dengan pesannya melalui kanal YouTube PdM, ia meminta agar pesan ini disebarluaskan kepada semua orang dan ke berbagai tempat, agar dunia segera kembali kepada perdamaian dan kedamaian sejati. Perang, menurutnya, adalah kekalahan, musuh peradaban dan kesejahteraan bersama. Ia juga mengimbau agar masyarakat terus berbagi pesan ini.
Berikut transkrip Padre Marco atas Refleksi renungan Paus Leo XIV pada doa malam untuk perdamaian di Basilika Santo Petrus Vatikan, Sabtu 11 April 2026.
Saudara-saudari terkasih, doa Anda adalah ungkapan iman yang menurut perkataan Yesus dapat memindahkan gunung. Bandingkan Injil Matius pasal 17 ayat 20. Terima kasih telah menerima undangan ini untuk berkumpul di sini di makam Santo Petrus dan di begitu banyak tempat lain di seluruh dunia untuk berdoa bagi perdamaian.
Perang memecah belah, tetapi harapan mempersatukan. Kesombongan menginjak-injak orang lain tetapi kasih mengangkat. Penyembahan berhala membutakan kita, tetapi Allah yang hidup menerangi.
Sahabat-sahabatku terkasih, yang dibutuhkan hanyalah sedikit iman, hanya remah iman untuk menghadapi saat-saat dramatis dalam sejarah ini secara bersama-sama sebagai umat manusia dan bersama umat manusia seluruh dunia.
Doa bukanlah tempat berlindung untuk menghindari tanggung jawab kita. Bukan pula obat bius untuk mematikan rasa sakit yang ditimbulkan oleh begitu banyak ketidakadilan. Sebaliknya doa adalah tanggapan yang paling tanpa pamri universal dan transformatif terhadap kematian.
Kita adalah umat yang telah bangkit di dalam diri kita masing-masing. Di dalam setiap manusia, guru spiritual kita mengajarkan perdamaian, mendorong kita menuju perjumpaan, dan menginspirasi kita untuk memohon.
Marilah kita bangkit dari reruntu Tuhan.
Tidak ada yang dapat membatasi kita pada takdir yang telah ditentukan bahkan di dunia ini di mana tampaknya tidak pernah ada cukup kuburan karena orang terus menyalibkan satu sama lain dan melenyapkan kehidupan tanpa memperhatikan keadilan dan belas kasihan.
Dalam konteks krisis perang Irak tahun 2003, Santo Yohanes Paulus, seorang pembela perdamaian yang tak kena lelah berkata dengan penuh keprihatinan, demikian, “Saya termasuk generasi yang hidup melalui perang dunia kedua dan syukur kepada Tuhan selamat dari perang ini. Saya memiliki kewajiban untuk mengatakan kepada semua generasi muda, kepada mereka yang lebih muda dari saya yang belum mengalami pengalaman peperangan ini, tidak ada lagi perang.”
Kita harus melakukan segala yang mungkin. Kita tahu betul bahwa perdamaian tidak mungkin dicapai dengan harga berapun. Tetapi kita semua tahu betapa besar tanggung jawab ini.
Doa Angelus Paus Yohanes Paulus 16 Maret 2003.
Malam ini kata Paus Leo, saya menjadikan seruan Paus Yohanes Paulus ke-2 ini sebagai seruan saya juga karena relevansinya sangat terasa hingga saat ini. Doa mengajarkan kita bagaimana bertindak.
Dalam doa keterbatasan kemampuan manusia kita disatukan dengan kemungkinan tak terbatas dari Tuhan. Pikiran, kata-kata, dan perbuatan kemudian memutus siklus kejahatan dan ditempatkan untuk melayani kerajaan Allah.
Sebuah kerajaan di mana tidak ada pedang, tidak ada drone, tidak ada pembalasan, tidak ada penyepelehan kejahatan, tidak ada keuntungan yang tidak adil, tetapi hanya martabat, pengertian, dan pengampunan.
Di sinilah kita menemukan benteng melawan ilusi kemahakuasaan yang mengelilingi kita dan menjadi semakin tidak terduga dan agresif.
Keseimbangan dalam keluarga manusia telah sangat terganggu. Bahkan nama kudus Tuhan, Tuhan kehidupan diseret ke dalam wacana kematian.
Dunia saudara dan saudari dengan satu Bapa surgawi lenyap seperti dalam mimpi buruk. Memberi jalan kepada realitas yang dipenuhi musuh.
Kita dihadapkan dengan ancaman ahli-ahli undangan untuk mendengarkan dan bersatu.
Saudara dan saudari, mereka yang berdoa menyadari keterbatasan mereka sendiri, mereka tidak membunuh atau mengancam dengan kematian.
Sebaliknya, kematian memperbudak mereka yang telah membelakangi Allah yang hidup menjadikan diri mereka sendiri dan kekuatan mereka menjadi berhala yang bisu, buta, dan tuli. Bandingkan kitab Mazmur pasal 115 ayat 4 sampai 8.
Yang kepadanya mereka mengorbankan setiap nilai, menuntut agar seluruh dunia bertekuk lutut.
Cukup sudah penyembahan diri dan uang, cukup sudah pameran kekuasaan. Cukup sudah perang. Kekuatan sejati ditunjukkan dalam melayani kehidupan.
Dengan kesederhanaan Injil, Santo Paus Yohanes ke-23 pernah menulis demikian, manfaat perdamaian akan dirasakan di mana-mana oleh individu, oleh keluarga, oleh bangsa, oleh seluruh umat manusia dan menggemahkan kata-kata tajam Paus Pius ke-12. Ia Paus Yohanes ke-23 menambahkan,
“Tidak ada yang hilang oleh perdamaian, tetapi segala sesuatu dapat hilang oleh perang.”
Surat Ensiklik Pacem Interis dari Paus Yohanes 23 nomor 116. Oleh karena itu, marilah kita satukan kekuatan moral dan spiritual jutaan dan miliaran pria dan wanita, muda dan tua yang hari ini memilih untuk percaya pada perdamaian, menyembuhkan luka, dan memperbaiki kerusakan yang ditinggalkan oleh kegilaan perang.











