"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Ayah Berteriak Saat Gina Hanyut, Ditemukan Tewas di Bawah Jembatan Cipaku

Kehilangan Seorang Siswa yang Berkepribadian Santun

Seorang siswi SMA Negeri 1 Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, meninggal dunia setelah hanyut terbawa arus Sungai Cibanjaran pada Rabu (15/4/2026). Korban bernama Ginasya Lintang Sari (18) warga Kampung Girang Deukeut, Kecamatan Banjaran. Peristiwa ini terjadi sekira pukul 16.00 dan menimbulkan duka mendalam di kalangan keluarga, guru, serta masyarakat sekitar.

Gina sempat berteriak memanggil ayahnya saat dirinya hanyut. Ia ditemukan meninggal sekira empat kilometer atau di bawah Jembatan Cipaku beberapa jam kemudian. Kepergian Gina meninggalkan kenangan tentang sosok remaja yang santun dan berbakti. Remaja yang baru saja menyelesaikan masa studinya di bangku SMA ini hanyut terbawa arus deras luapan air yang menjebol benteng rapuh di lingkungan rumahnya.

Detik-Detik Menyedihkan Saat Ayah Berusaha Menyelamatkan Anaknya

Hersi Hardiana (43), ayah korban, menceritakan detik-detik memilukan saat dirinya berupaya melawan arus sungai demi menyelamatkan sang buah hati. Peristiwa itu bermula ketika korban sedang membersihkan genangan air di sekitar rumahnya sembari memantau kondisi tetangga. Tanpa diduga, benteng pelindung yang kondisinya sudah retak tak mampu menahan debit air yang meningkat drastis.

“Saya mendengar teriakan warga bahwa ada yang hanyut. Awalnya saya tidak sadar itu anak saya,” ujarnya. “Begitu melihat dua kepala di permukaan air, saya langsung terjun.”

Dalam situasi hidup dan mati tersebut, Hersi sempat mendengar suara terakhir putrinya yang memanggil, “Ayah!” Dia terus berenang mengejar tubuh korban sejauh beberapa meter. Meski sempat dibantu warga untuk menarik tangan korban, derasnya arus membuat genggaman tangan mereka terlepas. Hersi akhirnya terpaksa menepi di area sekitar SMA setempat setelah kelelahan dan hanya bisa bertahan dengan berpegangan pada rerumputan.

Kalimat Gina Jadi Firasat

Kejadian ini menyisakan kepedihan. Mengingat korban baru saja menuntaskan ujian sekolah dan sedang menunggu pengumuman kelulusan yang dijadwalkan pada 4 Mei 2026. Di mata ayahnya, Gina adalah anak yang tidak banyak menuntut dan memiliki keinginan mulia untuk segera bekerja demi meringankan beban ekonomi keluarga.

Sepekan sebelum musibah, sebuah kalimat dari Gina kini dirasakan sebagai firasat. Sambil menunjukkan kondisi benteng yang retak, dia sempat berujar “Cuma tinggal waktu, cuma tunggu waktu.” Karakter baik korban juga diamini oleh pihak sekolah. Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMA Negeri 1 Banjaran, Ismail Kusmayadi mengenang Gina sebagai siswi yang berkepribadian santun meskipun cenderung pendiam di kelas.

“Kami sangat merasa kehilangan. Seharusnya di akhir tahun pelajaran ini dia menerima ijazah untuk melanjutkan masa depannya. Namun Tuhan memiliki ketetapan lain,” kata Ismail.

Musibah yang Terulang

Banjir dengan debit sebesar ini disebut-sebut sebagai siklus yang pernah terjadi pada kurun waktu 2016 atau 2017. Namun lantaran situasi lingkungan yang relatif aman selama hampir satu dekade terakhir, kewaspadaan masyarakat cenderung menurun saat cuaca ekstrem kembali melanda di tahun ini.

Meski diliputi kesedihan, pihak keluarga menyatakan telah ikhlas menerima musibah ini. Hersi juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada personel TNI, para relawan, warga, dan awak media yang telah membantu proses pencarian hingga evakuasi putrinya. Kini, rencana Gina untuk bekerja membantu sang ayah terkubur bersama aliran air yang membawanya pergi, menyisakan duka bagi warga Cipaku atas hilangnya sosok remaja yang dikenal ceria dan disenangi oleh anak-anak di lingkungannya tersebut.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *