Pentingnya Niat Puasa Ramadhan dalam Ibadah
Sebelum menjalankan ibadah puasa, umat Muslim dianjurkan untuk membaca atau mengucap niat puasa. Hal ini merupakan salah satu rukun dari ibadah puasa itu sendiri. Niat puasa Ramadhan biasanya dianjurkan untuk dibaca pada malam hari atau setelah sahur, dan sebelum waktu fajar. Karena membaca niat adalah rukun puasa, maka hal ini harus dilakukan. Jika tidak dilakukan, maka puasa yang dikerjakan dianggap tidak sah.
Puasa Ramadhan 1447 Hijriyah jatuh pada Kamis, 19 Oktober 2026. Sebelum menjalankan ibadah puasa, umat Muslim dianjurkan membaca niat puasa. Dengan membaca atau mengucap niat merupakan salah satu rukun dari ibadah puasa itu sendiri. Niat puasa Ramadhan umumnya dianjurkan untuk dibaca pada saat malam hari atau setelah sahur, dan sebelum waktu fajar. Karena membaca niat adalah rukun puasa, maka hal ini harus dilakukan. Jadi apabila hal ini tidak dilakukan, maka puasa yang dikerjakan dianggap tidak sah.
Hal ini sesuai dengan hadits niat puasa Ramadan, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.” (HR. An-Nasa i dan Abu Dawud).
Solusi Lupa Membaca Niat Puasa
Jika umat Muslim lupa membaca niat puasa Ramadan hingga tiba waktu Imsakiyah, ada solusi yang dapat dilakukan. Keabsahan puasa Ramadhan tidak luput dari niat di malam hari, mulai tenggelamnya matahari hingga sebelum terbitnya fajar. Maka dapat disimpulkan bahwa orang yang tidak melakukan niat puasa fardhu pada malam hari maka puasanya tidak sah.
Kalangan ulama fiqih mazhab Syafii memberikan solusi bagi orang yang lupa belum berniat puasa Ramadhan di malam hari, namun puasanya tetap terhitung sah. Solusinya adalah dengan cara membaca atau mengucap niat puasa di pagi hari hingga pertengahan siang hari seraya bertaqlid atau mengikuti Imam Abu Hanifah.
Syekh Dr Muhammad bin Ali athiyah dalam kitabnya Ghayatul Muna menjelaskan bahwa apabila seseorang berniat dari terbitnya fajar maka puasanya tidak sah karena hadis yang telah lewat. Namun menurut satu pendapat hukumnya puasa ini tetap sah, sebagaimana pelaksanaan ibadah lainnya sekira waktunya merupakan permulaan ibadah. Maka diperbolehkan bagi seseorang tersebut untuk berniat di awal masuknya hari dimana ia lupa berniat di malam harinya.
Dengan begitu puasanya tetap dinilai sah menurut pendapat Imam Abu Hanifah jika ia bertaqlid kepadanya. Intinya dapat disimpulkan, bahwa seseorang yang lupa berniat puasa pada malam hari maka ia masih memiliki kesempatan untuk berniat di pagi hari hingga sebelum masuk separuh siang, dengan harus bertaqlid kepada Imam Abu Hanifah agar tidak terjadi talfiq dalam beribadah.
Jika ia tidak bertaqlid, maka kewajiban puasanya tetap harus dilanjutkan pada siang harinya, serta berkewajiban untuk mengqadhanya di kemudian hari. Meski begitu perlu ditegaskan, langkah solutif ini hanya berlaku bagi mereka yang lupa tidak berniat, bukan karena faktor sengaja tidak berniat di malam hari.
Bacaan Niat Puasa Ramadhan
Berikut bacaan niat puasa Ramadhan untuk sebulan penuh dan untuk setiap harinya:
-
Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma jami’i syahri ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti pendapat Imam Malik, wajib karena Allah Ta’ala.” -
Niat Puasa Ramadhan Setiap Hari
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى
“Nawaitu shauma ghodin ‘an adaa’i fardhi syahri romadhoona hadihis-sanati lillahi ta’aalaa.”
Artinya: “Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu di Bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta’aala.”
Rukun Puasa
Menurut buku Pintar Panduan Lengkap Ibadah oleh Muhammad Syukron Maksum, terdapat rukun berpuasa sebagai berikut:
- Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
- Berniat agar setiap manusia dapat memperoleh apa yang diniatkan, niat berpuasa biasanya dilakukan sebelum fajar dengan mengucapkannya.
Syarat Sah Berpuasa
Adapun syarat sah menjalankan ibadah puasa adalah:
-
Islam, baligh (dewasa)
Hanya umat yang beragama Islam dan sudah dewasa yang diwajibkan melaksanakan puasa Ramadhan. -
Berakal
Orang yang gila atau penyandang epilepsi tidak diwajibkan melaksanakan puasa Ramadhan. -
Mampu secara fisik
Orang yang tidak mampu melaksanakan puasa dikarenakan sakit atau lemah fisik tidak diwajibkan melaksanakan puasa. -
Suci dari haid dan nifas
Bagi wanita yang sedang datang bulan atau menstruasi dan yang sedang dalam keadaan nifas tidak diwajibkan melaksanakan puasa, tetapi wajib qadha. -
Mumayyiz
Bagi mereka yang sudah dapat membedakan antara yang baik dan buruk.











