"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Hukum  

Wawancara Eksklusif – Refpin: Lebih Baik Dipenjara Daripada Mengakui Cubit Anak Anggota DPRD Bengkulu

Kondisi Refpin Saat Menjalani Persidangan

Refpin, seorang asisten rumah tangga (ART) yang menjadi terdakwa dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap anak majikan yang merupakan anggota DPRD Kota Bengkulu, saat ini sedang menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri Bengkulu. Dalam wawancara eksklusif dengan kuasa hukumnya, Abu Yamin alias Omeng, ia mengungkapkan bahwa kondisi psikologis kliennya sempat mengalami tekanan berat sejak kasus tersebut mencuat ke publik.

“Dapat saya sampaikan bahwa kondisi klien saya secara psikologis cukup tertekan, dan merasa tertekan luar biasa atas tudingan kepada dia,” ujar Abu Yamin saat memberikan keterangan kepada wartawan. Meski demikian, ia menjelaskan bahwa berdasarkan informasi dari pihak lembaga pemasyarakatan (lapas) serta tim kuasa hukum, kondisi Refpin saat ini mulai berangsur membaik. “Namun keterangan dari pihak lapas dan tim saya, perkembangan terakhir kondisi Refpin sudah berangsur membaik. Alhamdulillah karena banyak pihak yang sudah mengetahui permasalahan Refpin dan kriminalisasi Refpin ini, Refpin di dalam lapas itu dijaga banyak orang,” jelasnya.

Proses Hukum yang Dijalani

Hingga saat ini, Refpin telah menjalani tiga kali persidangan dalam perkara dugaan penganiayaan tersebut. Persidangan terakhir digelar pada 5 Maret 2025 dengan agenda mendengarkan tanggapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap nota keberatan atau eksepsi yang sebelumnya diajukan oleh pihak terdakwa. Sidang lanjutan dijadwalkan kembali berlangsung pada 12 Maret 2026 mendatang dengan agenda pembacaan putusan sela oleh majelis hakim.

Latar Belakang Refpin

Berdasarkan data dari Yayasan Peduli Kerja Mandiri (PKM) yang menyalurkan tenaga kerja tersebut, Refpin berasal dari Desa Pangkalan, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan. Awal bekerja sebagai ART di rumah pelapor setelah disalurkan oleh yayasan PKM melalui seorang penyalur bernama Siska. Namun, menurut pengakuan Refpin kepada kuasa hukumnya, ia sebenarnya sudah merasa tidak nyaman sejak awal bekerja di rumah tersebut.

“Jadi sebelum kejadian tanggal 20 Agustus 2025 itu dia baru bekerja 1 bulan 8 hari. Tapi sekitar satu minggu bekerja, Refpin sudah tidak tahan. Sekitar satu sampai dua minggu dia berupaya berkoordinasi dengan yayasan untuk tidak bekerja di situ lagi,” jelas Abu Yamin. Ia menuturkan, berdasarkan cerita Refpin, dirinya sering menjadi sasaran kemarahan majikan meskipun kesalahan dilakukan oleh orang lain. “Kadang dia marah pada ART yang lain, tapi Refpin yang kena sasaran,” tambahnya.

Refpin sebagai Tulang Punggung Keluarga

Menurut cerita klien Anda, apa harapannya ketika menerima pekerjaan tersebut? Menurut Abu Yamin, Refpin merupakan tulang punggung keluarga di kampung halamannya. Sebagian besar gaji yang diperoleh selalu dikirimkan untuk membantu orang tua di Muratara. “Dia ini sebenarnya tulang punggung keluarga. Setiap gajian itu selalu diberikan pada keluarganya di kampung. Bahkan kadang kala dia tidak sempat lagi membeli baju untuk dirinya sendiri,” ungkapnya.

Riwayat Pekerjaan Refpin

Sebelum bekerja di Bengkulu, Refpin juga pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang Wakil Bupati di Provinsi Jambi. Pengalaman kerja tersebut disebut berjalan baik tanpa adanya persoalan. “Dengan mengetahui berita viralnya Refpin ini, bahkan tetangganya juga mengatakan bahwa Refpin ini anak yang baik dan tidak memiliki jejak pribadi yang buruk,” ujarnya.

Bantahan atas Tuduhan Penganiayaan

Terkait dugaan penganiayaan terhadap anak majikan, Abu Yamin menegaskan bahwa kliennya membantah keras tuduhan tersebut. Menurutnya, Refpin bahkan berani bersumpah bahwa dirinya tidak pernah melakukan tindakan seperti yang dilaporkan oleh pelapor. “Refpin ini jujur dan bahkan berani bersumpah demi Allah bahwa dia tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan oleh pelapor,” tegas Abu Yamin. Ia menambahkan, Refpin juga pernah menyampaikan bahwa jika dirinya benar melakukan perbuatan tersebut, ia pasti sudah mengaku saat menjalani pemeriksaan di kepolisian. “Dia bilang kepada kami, ‘Saya bersumpah demi Allah, saya tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan kepada saya’. Dari situ kami memiliki keyakinan bahwa dia bukan pelaku,” jelasnya.

Tuduhan Pencurian Uang Rp5 Juta

Pelapor sempat menyebut bahwa terlapor ini mencuri uang Rp5 juta dari pelapor. Kejadian yang sebenarnya menurut versi Refpin seperti apa? Selain dugaan penganiayaan, Refpin juga sempat dituduh mencuri uang sebesar Rp5 juta milik majikannya. Namun tuduhan tersebut juga dibantah oleh pihak kuasa hukum. Menurut Abu Yamin, pihaknya bahkan memiliki rekaman yang menunjukkan adanya tuduhan lain dari majikan terhadap Refpin. “Kita punya rekaman bahwa majikannya itu menuduh Refpin mencuri emas dan mencuri uang, tetapi kenapa tidak dilaporkan. Justru yang dilaporkan adalah tuduhan mencubit itu,” katanya.

Respons Refpin Saat Dilaporkan

Bagaimana respons klien Anda ketika mengetahui dirinya dilaporkan ke pihak kepolisian? Dia bingung harus ke mana, harus berbuat apa, dan apa yang akan terjadi dengan dirinya setelah adanya laporan tersebut. Dia hanya pasrah. Namun dia sempat mengatakan kepada saya dan asisten saya bahwa dirinya minta ditolong, agar dijelaskan kepada majikannya bahwa dia tidak pernah mencubit anak mereka. “Dia bahkan berkata, ‘Sumpah Pak, demi Allah saya tidak pernah mencubit seperti yang dituduhkan.’ Saat itu kondisinya benar-benar kebingungan. Begitu juga saat berada di Kejaksaan. Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana pilunya dia saat itu.”

Pernyataan Kuasa Hukum

Terkait keseluruhan fakta ini, adakah hal yang ingin disampaikan? Pertama, menurut kami JPU Kejari Bengkulu hanya fokus pada Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang disajikan penyidik, tanpa melakukan investigasi dan pendalaman lebih lanjut terhadap kasus tersebut. Sehingga nampak jelas bahwa kerja JPU tidak maksimal. Seharusnya JPU menggali fakta hukum yang sebenarnya agar dapat mengetahui siapa yang benar-benar bersalah dalam perkara ini. Menurut kami, Refpin menjadi korban kriminalisasi dari oknum aparat penegak hukum yang menjalankan pesanan dari pihak tertentu yang memiliki kepentingan terhadap dirinya. Padahal Refpin bukanlah pelaku seperti yang disangkakan. Kami berharap hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas, agar semua tahu bahwa inilah harapan rakyat Indonesia terhadap keadilan.

Harapan atas Kasus Refpin

Bagaimana Harapan atas Kasas Refpin? Atas kasus ini, saya selaku kuasa hukum Refpin memohon doa dan dukungan agar majelis hakim yang menangani perkara ini benar-benar membuka mata hati dan melihat fakta yang sebenarnya. Kami berharap majelis hakim dapat menilai perkara ini secara objektif berdasarkan fakta persidangan. Harapan kami, Refpin dapat dibebaskan secara murni serta nama baiknya dapat dipulihkan kembali.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *