"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Daerah  

Akhirnya Warga Wangurer Minut Sulut Nikmati Air Bersih Lagi, Hasil Swadaya Masyarakat

Warga Desa Wangurer Berhasil Mengakses Air Bersih Setelah Gotong Royong

Warga Desa Wangurer, Kecamatan Likupang Selatan, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) akhirnya bisa menikmati air bersih setelah melakukan inisiatif patungan. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu 28 Maret 2026, setelah sebelumnya warga mengalami kesulitan dalam memperoleh pasokan air bersih.

Perlu diketahui, kebutuhan dasar masyarakat seperti air bersih tidak dapat terpenuhi selama sekitar seminggu. Mulai dari hari Minggu (22/3/2026), aliran air yang biasanya digunakan untuk mandi, mencuci, dan aktivitas lainnya tiba-tiba berhenti. Hal ini menyebabkan banyak warga mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Masalah Awal: Tidak Ada Pasokan Air Bersih

Sebanyak 30 lebih warga di jaga VI mendapat pasokan air bersih dari program Pamsimas. Pamsimas adalah singkatan dari Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat. Namun, saat ini, program tersebut tidak berjalan dengan baik, sehingga warga harus mencari alternatif sumber air.

Lengki Repi, salah satu warga Desa Wangurer, mengungkapkan bahwa kini ia hanya bisa mandi dengan enam hingga tujuh gayung air. Ia juga menyebutkan bahwa kebiasaan mandi malam setelah bekerja sudah tidak dilakukan lagi karena tidak ada air. Sementara itu, air yang tersedia berasal dari pancuran yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya.

Selain Lengki, Bella, warga lainnya, juga merasakan dampak dari tidak adanya air bersih. Menurut Bella, kekurangan air telah membuat aktivitas di rumah menjadi terhenti. Piring dan pakaian kotor menumpuk, bahkan masak dan mandi menjadi sulit dilakukan.

Inisiatif Patungan dan Gotong Royong

Meskipun kondisi ini sangat mengganggu, warga Desa Wangurer tidak menyerah. Mereka melakukan inisiatif patungan untuk membeli mesin air baru dengan harga sekitar 2 juta rupiah. Dalam hal ini, per kepala keluarga (KK) dikenakan biaya sebesar 74 ribu rupiah.

Tidak hanya warga biasa, mantan Hukum Tua Decky Tangka dan mantan Ketua BPD Noldy Tangka turut serta dalam inisiatif ini. Mereka bahkan turun langsung membantu proses pemasangan mesin air agar aliran air kembali normal.

Respons Pemerintah Desa dan Camat

Camat Likupang Selatan David Talumantak menyampaikan bahwa pihaknya telah mendatangi Hukum Tua Desa Wangurer. Menurutnya, pemerintah desa sedang mencari solusi untuk segera menyelesaikan masalah ini.

Dari keterangan Hukum Tua Desa Wangurer, ditemukan beberapa kendala yang menyebabkan perbaikan alat mesin pompa tidak dianggarkan ke Dana Desa Perbaikan tahun 2026. Dana yang dibutuhkan untuk alat mesin pompa diperkirakan sebesar 2 juta rupiah.

Pihak Desa juga telah melakukan penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah desa akan segera melaksanakan musyawarah guna mencari solusi yang tepat.

Solusi yang Diusulkan

Menurut Camat David, pihaknya memberikan masukkan agar masalah ini diselesaikan melalui cara mapalus dan gotong royong. Ia berharap warga dapat tetap bersatu dan saling membantu dalam memperbaiki kondisi yang ada.

Inisiatif patungan yang dilakukan oleh warga Desa Wangurer menjadi contoh bagaimana masyarakat bisa mengambil inisiatif sendiri ketika pemerintah belum merespons secara maksimal. Dengan kerja sama dan kebersamaan, akhirnya warga bisa kembali menikmati akses air bersih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *