Profil Muhammad Suryo, Pengusaha Rokok yang Kembali Jadi Sorotan
Muhammad Suryo dikenal sebagai pengusaha yang membangun bisnisnya dari nol. Ia lahir di Lampung Timur dan memiliki latar belakang pendidikan di UPN Veteran Yogyakarta dengan jurusan Agribisnis. Perjalanan bisnisnya dimulai dari usaha kecil seperti depot air isi ulang, sebelum akhirnya mengembangkan bisnisnya ke berbagai sektor, termasuk konstruksi, migas, properti, hingga industri rokok.
Pada 2024, ia mendirikan pabrik rokok HS di Muntilan, Magelang. Awalnya, pabrik ini hanya mempekerjakan sekitar 30 pekerja linting. Namun, dalam waktu relatif singkat, perusahaan tersebut berkembang pesat dan mampu menyerap ribuan tenaga kerja. Salah satu strategi yang diterapkan adalah perekrutan tenaga kerja secara inklusif, tanpa mempersyaratkan ijazah tinggi, usia tertentu, atau pengalaman kerja, selama calon pekerja memiliki kemauan untuk belajar.
Saat ini, Suryo menjabat sebagai CEO Surya Group Holding Company sekaligus pendiri merek rokok HS. Selain itu, ia juga aktif melakukan ekspansi industri. Salah satu rencana pengembangan yang tengah disiapkan adalah pembangunan pabrik rokok baru di Lampung Timur. Proyek tersebut diproyeksikan mampu menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja lokal, sekaligus memperluas jaringan produksi merek HS di berbagai daerah.
Kembali Jadi Sorotan karena Kasus Korupsi
Meski sukses dalam bisnis, Muhammad Suryo kembali menjadi sorotan publik karena terlibat dalam kasus korupsi yang melibatkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Ditjen Bea Cukai) Kementerian Keuangan. Pada April 2026, ia dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memberikan keterangan terkait dugaan korupsi dan penerimaan gratifikasi. Namun, ia tidak hadir dalam pemanggilan tersebut dan akan dilakukan penjadwalan ulang.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menyatakan bahwa Muhammad Suryo belum memberikan konfirmasi atas pemanggilan tersebut. Ia mengimbau agar Suryo bersikap kooperatif dan memenuhi panggilan penyidik pada jadwal berikutnya. Budi menekankan bahwa setiap keterangan dari saksi diperlukan untuk membuat konstruksi perkara korupsi ini menjadi terang benderang.
Selain Muhammad Suryo, penyidik juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap dua pihak swasta lainnya, yakni Arief Harwanto dan Johan Sugiarto. Ketiganya sedianya akan dimintai keterangan terkait dugaan korupsi dan penerimaan gratifikasi yang telah menyeret sejumlah pejabat Ditjen Bea Cukai.
Kasus Korupsi di Lingkungan Ditjen Bea Cukai
Kasus korupsi di lingkungan Ditjen Bea Cukai bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar KPK pada 4 Februari 2026. Saat ini, KPK telah menetapkan tujuh orang tersangka terkait dugaan suap tersebut. Ketujuh tersangka itu antara lain mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2) Ditjen Bea Cukai periode 2024 hingga Januari 2026 Rizal, serta beberapa pejabat lainnya dari Ditjen Bea Cukai.
Selain itu, dari pihak swasta terdapat pemilik PT Blueray Cargo John Field, Ketua Tim Dokumen Importasi PT Blueray Cargo Andri, dan Manajer Operasional PT Blueray Cargo Dedy Kurniawan. KPK saat ini tidak hanya mengusut kasus dugaan suap terkait importasi, tetapi juga mendalami dugaan korupsi pengurusan cukai.
Berdasarkan hasil penyidikan sementara, KPK menemukan dugaan kecurangan dalam pembayaran cukai rokok. Modus yang digunakan adalah membeli pita cukai dengan tarif rendah yang seharusnya diperuntukkan bagi industri rokok rumahan manual, kemudian pita tersebut digunakan pada rokok produksi mesin yang seharusnya dikenakan tarif lebih tinggi.
Selain manipulasi pita cukai, penyidik juga menemukan dugaan konspirasi yang lebih luas terkait pengaturan jalur impor barang. Untuk mengusut tuntas aliran dana dan mekanisme pengurusan cukai tersebut, KPK juga telah memanggil dan memeriksa sejumlah pengusaha rokok di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Kondisi Terkini dan Tanggung Jawab
Di tengah pertumbuhan bisnisnya, Muhammad Suryo juga dikenal aktif melakukan ekspansi industri. Namun, saat ini, ia sedang menghadapi ujian berat akibat kecelakaan yang merenggut nyawa istrinya. Meskipun begitu, sosoknya kembali menjadi sorotan publik, bukan hanya karena bisnisnya, tetapi juga karena upaya tanggung jawab dan permintaan maaf yang ia sampaikan kepada korban.











