Kehadiran Satgas II Preemtif Operasi Madago Raya di Sekolah
Di tengah meningkatnya perhatian nasional terhadap isu perundungan di sekolah, Satgas II Preemfit Operasi Madago Raya kembali turun langsung ke lapangan. Pada Jumat pagi, di aula sederhana SMP Negeri 1 Poso Pesisir Selatan, Kapolsek Poso Pesisir Selatan Iptu Arkam AR berdiri di hadapan ratusan pelajar, menyampaikan pesan tegas: bullying bukan persoalan ringan, dan cinta tanah air harus tumbuh sejak dini.
Dalam paparannya yang berlangsung lebih dari satu jam, Iptu Arkam menggambarkan bullying sebagai ancaman yang sering luput dari perhatian. Ia menekankan bahwa perundungan tidak berhenti pada luka fisik semata. “Dampak psikologisnya jauh lebih dalam dan bisa menetap seumur hidup,” ujarnya, menggugah perhatian para siswa yang menyimak dalam diam.
Perwira polisi itu kemudian mengurai bentuk-bentuk perundungan yang kerap ditemui di lingkungan sekolah: ejekan yang dianggap bercanda, pengucilan yang terjadi secara perlahan, hingga kekerasan verbal dan fisik. Ia meminta para siswa untuk tidak menormalisasi perlakuan semacam itu dan menegaskan pentingnya melapor jika mereka menjadi korban ataupun saksi.
Di hadapan para guru dan siswa, Iptu Arkam juga menyoroti pergaulan bebas di luar sekolah yang, menurutnya, menjadi pintu masuk berbagai bentuk kenakalan remaja. Ia mengingatkan bahwa lemahnya pengawasan orang tua sering membuat remaja mudah terjebak dalam perilaku yang berisiko. “Kalian adalah generasi penerus. Jagalah diri, pilih pergaulan yang sehat,” pesannya.
Suasana sesi edukasi berubah lebih reflektif ketika pembicaraan bergeser ke persoalan nasionalisme. Kapolsek mengajak para siswa memahami nilai dasar kebangsaan, bukan sekadar dalam konteks upacara bendera atau hafalan Pancasila, tetapi dalam tindakan sehari-hari: menghormati perbedaan, menjaga persatuan, dan membangun lingkungan sekolah yang inklusif.
Iptu Arkam menekankan bahwa pembentukan karakter adalah pondasi yang harus dibangun sejak remaja. Ia menautkan isu perundungan dengan potensi munculnya sikap intoleransi jika tidak dicegah sedari awal. “Rasa cinta tanah air dimulai dari cara kita memperlakukan sesama di lingkungan terdekat,” ujarnya, yang disambut anggukan dari sejumlah siswa.
Para guru yang hadir tampak mencatat poin-poin penting yang disampaikan. Bagi pihak sekolah, kehadiran aparat dalam ruang edukasi bukan sekadar simbol kehadiran negara, tetapi bentuk nyata kepedulian terhadap keselamatan dan masa depan pelajar. Mereka menilai pendekatan preventif seperti ini dibutuhkan di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks.
Kegiatan ini, menurut pihak sekolah, bukan kali pertama dilakukan Satgas Madago Raya. Program pembinaan rutin tersebut dianggap berhasil mendorong budaya saling menghormati di antara siswa serta membuka ruang dialog tentang masalah yang sering disembunyikan remaja dari orang dewasa.
Di akhir sesi, sejumlah siswa memberanikan diri bertanya, mulai dari cara menghadapi perundungan hingga bagaimana mencari lingkungan pergaulan yang positif. Iptu Arkam menjawab setiap pertanyaan dengan sabar, menekankan pentingnya keberanian untuk meminta pertolongan dan tidak menanggung tekanan sendirian.
Ketika kegiatan ditutup, para siswa kembali ke kelas dengan membawa pesan yang lebih dari sekadar imbauan. Di Poso Pesisir Selatan, kampanye anti-bullying dan penanaman nasionalisme bukan hanya seremonial—ia menjadi bagian dari upaya lebih luas untuk memastikan generasi muda tumbuh dengan karakter kuat, rasa aman, dan kesadaran akan pentingnya kebersamaan.











