eksplorbanten.com.com – Kepala eksekutif Ford Jim Farley menilai kebijakan tarif impor yang diberlakukan Presiden Donald Trump terhadap industri otomotif kurang tepat. Farley mengusulkan agar tarif yang lebih luas diberlakukan untuk menyamakan posisi dengan merek lain. Hal tersebut diungkapkan Farley saat membahas laporan laba kuartal keempat Ford.
Farley menyoroti fakta bahwa merek seperti Toyota dan Hyundai dapat mengimpor ratusan ribu kendaraan dari Jepang dan Korea Selatan tanpa tarif baru. Menurutnya, hal tersebut tidak adil bagi Ford yang harus membayar tarif yang tinggi. “Kami tidak bisa hanya memilih satu tempat atau yang lain karena ini adalah keuntungan besar bagi pesaing impor kami,” kata Farley.
“Ada jutaan kendaraan yang masuk ke negara kita yang tidak dikenakan tarif tambahan ini. Jadi, jika kita akan memiliki kebijakan tarif, kebijakan itu harus komprehensif untuk industri kita,” tambahnya.
Ford yang merupakan merek Amerika memproduksi beberapa kendaraan di luar negeri seperti di Meksiko dan China, lalu mengimpor ke Amerika Serikat. Hal tersebut membuat Ford terkena dampak tarif yang dikenakan terhadap Meksiko dan China.
Data CNBC menunjukkan bahwa 46,6% kendaraan baru yang terjual di AS tahun lalu diproduksi secara internasional. Meksiko adalah importir terbesar dengan pangsa 16,2%, diikuti oleh Korea Selatan 8,6%, dan Jepang 8,2%. Kendaraan Jepang saat ini dikenakan bea masuk sebesar 2,5%, yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan tarif di negara lain.
Bukan hanya merek Korea Selatan seperti Hyundai Motor Group yang diuntungkan dari kebijakan tarif ini. Saingan utama Ford, GM, membangun beberapa kendaraan di Korea Selatan dan mengimpor ke AS. Hal tersebut membuat Ford merasa menjadi sasaran yang tidak adil. Namun, Farley berharap kebijakan tarif yang lebih komprehensif dapat diterapkan untuk menyamakan posisi dengan merek lain.











