Kembali Berbicara tentang Hubungan dengan Roy Suryo dan Rismon Sianipar
Tifauzia Tyassuma yang akrab disapa dr Tifa kembali menyampaikan pernyataannya mengenai hubungan antara dirinya dengan Roy Suryo dan Rismon Sianipar. Dalam wawancara terbaru, dr Tifa menegaskan bahwa dukungan masyarakat terhadap ketiganya (RRT) semakin besar sejak mereka ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
“Sejak tanggal 7 November 2025, saat kami ditetapkan sebagai tersangka, dukungan masyarakat semakin deras seperti banjir,” ujar dr Tifa melalui akun media sosialnya.
Ia juga menyebut adanya pihak yang mencoba memecah belah RRT. Namun, ia tidak merinci siapa pihak tersebut. Menurutnya, hal itu dilakukan karena pihak tertentu merasa panik.
Persoalan Tim Kuasa Hukum
Selain itu, dr Tifa menjelaskan perubahan dalam tim kuasa hukum yang mendampingi. Ia menyatakan bahwa dirinya sudah tidak lagi didampingi oleh pengacara Ahmad Khozinudin sejak bulan Juni 2025. Hal ini membuat dirinya tidak lagi menjadi klien dari Tim Adovaksi Anti Kriminalisasi Akademisi dan Aktivis (TAAKAA).
Namun, Roy Suryo dan Rismon Sianipar tetap menjadi klien dari tim tersebut. “Pada bulan yang sama, saya membentuk Tim Kuasa Hukum Pribadi yang disebut Tim Pembela dr Tifa, terdiri atas 34 Lawyers,” jelasnya.
Pada Juli 2025, saat status mereka dinaikkan menjadi terlapor, Roy Suryo dan Rismon Sianipar bergabung dengan tim tersebut. Maka, nama tim berubah menjadi Tim Pembela Penegak Keadilan (Tim PPK). “Roy Suryo dan Rismon punya dua tim pembela, yaitu Tim TAAKAA dan Tim PPK. Sedangkan dr Tifa hanya punya satu tim pembela, yaitu Tim PPK,” tambah dr Tifa.
Rismon Sianipar kemudian mencabut kuasa hukum kepada Tim TAAKAA sejak November 2025. Hal ini dilakukan setelah Rismon menjalani pemeriksaan penyidik Polda Metro Jaya serta pertimbangan matang. “Sejak itu, klien Tim TAAKAA tinggal Roy Suryo. Tim PPK tetap dengan klien RRT,” katanya.
Klaim Anaknya Diteror
Selain itu, dr Tifa juga mengklaim bahwa anaknya pernah menerima ancaman. Menurutnya, kartu tanda mahasiswa milik anaknya pernah disebar. “Saya langsung viralkan dan sampaikan di podcast maupun TV. Dengan itu, ancaman berhenti dan saya ke Komnas HAM serta minta LPSK,” ujarnya.
Menurut Tifa, ancaman itu kini telah berhenti. Namun, ketika terjadi, ancaman tersebut sangat luar biasa. “Anak saya tinggal di apartemen, akses untuk naik terbatas, tapi kamarnya bisa dipotret. ‘Ini kamarnya anakmu ya, yang ini,’ tertanda juru tikam. Seram sekali, kan?” kata Tifa.
Analisis Wajah Jokowi
Dr Tifa juga menjelaskan bahwa saat diperiksa, penyidik mempertanyakan kompetensinya dalam melakukan analisis wajah Jokowi. Menurutnya, ia mampu melakukan analisis karena memiliki dasar ilmu kedokteran, yakni anatomi, fisiologi, dan perilaku.
“Saya analisis dari jarak antarmata dan bentuk hidung. Itu adalah kompetensi dasar seorang dokter,” ujarnya.
Selain itu, Tifa menyebut dirinya sebagai kandidat dua gelar doktor, yaitu bidang ilmu kedokteran dan ilmu sosial politik. Dengan menggunakan ilmu perilaku, ia mengklaim telah meneliti perilaku Jokowi dan hasilnya dimasukkan ke dalam buku Jokowi’s White Paper.
Metode Analisis yang Digunakan
Tifa menjelaskan tiga metode utama yang digunakannya dalam pengujian:
-
Assessment at Distance
Metode ini menguji objek kajian dalam jarak jauh. Teknologi ini sudah ada dan telah dituangkan dalam bukunya. -
Facial Action Coding System
Ilmu ini digunakan untuk meng-capture apakah seseorang sedang jujur atau berbohong. Metode ini sudah ada aplikasinya. -
Leadership Trait Analysis
Metode ini menguji kebiasaan dan pola seorang pemimpin. Menurut Tifa, jika metode ini digunakan, tidak akan ada pemimpin yang bisa berbohong dalam hal apa pun.











