Pengalaman Buruk Mengurus Laporan Kehilangan
Jika motor hilang saja sudah membuat kita lemas, maka kehilangan ponsel bisa membuat semakin cemas. Namun, hal yang lebih menguras tenaga justru adalah proses panjang dan tidak efisien saat harus antre di kantor polisi untuk melaporkan kehilangan tersebut.
Tiga cerita dari Faldy, Aya, dan Axel menunjukkan bagaimana laporan kehilangan bisa berubah menjadi pengalaman yang memicu emosi. Dari ruang tunggu yang penuh, proses yang lambat tanpa kepastian, hingga rasa bahwa laporan kehilangan bukanlah prioritas utama.
Barang Hilang, Waktu Juga Hilang
Pagi itu, hidup Faldy (20) berubah cepat. Motor yang ia bawa sehari-hari raib setelah dibegal. Beberapa jam kemudian, ia langsung melapor ke Polsek, berharap kasusnya segera diproses.
Namun yang menyambutnya adalah ruang tunggu yang super padat. “Pada hari itu emang banyak banget sih yang kehilangan barang… Ada motor, ada handphone gitu-gitu sih. Dan emang nunggunya cukup lama banget di situ,” ungkap Faldy.
Dokumen yang diminta sebetulnya simple: KTP, KK, dan surat kendaraan bermotor. Tetapi proses yang seharusnya sebentar berubah menjadi berjam-jam. Bukan karena kasusnya rumit, melainkan karena antre, menunggu giliran, dan menunggu petugas selesai istirahat.
“Gue jam 9 atau 10-an ke Polsek, itu baru diproses gue-nya sekitar jam 1 apa jam 2 gitu… karena mereka ada break makan siang dulu… dan itu jujur gue lagi kerja jadi agak ngeganggu banget.”
Ketika akhirnya dipanggil, prosesnya justru sebentar: ceritakan kronologi, serahkan berkas, tanda tangan. Selesai. Lalu, ia diminta datang lagi dua hari kemudian. “Walaupun enggak ada perkembangan apa-apa… dia cuma bilang, ‘Belum ketemu.’ Kenapa enggak by WhatsApp aja? Itu kan jadi enggak efisien waktu gue.” ujar dia heran.
Dalam dua bulan berikutnya, jawaban dari kepolisian tetap sama: belum ada update. Mendengar hal tersebut, Faldy memilih merelakan motornya dan tak menggubris lagi laporannya.
Ketika Laporan Kehilangan Tidak Dianggap Penting
Aya (19) mengalami hal yang serupa. Motor adiknya hilang tengah malam, dan karena itu kendaraan utama untuk sekolah, mereka langsung melapor keesokan harinya. “Itu benar-benar diperluin banget dan harus diusut tuntas,” ujar dia.
Sayangnya, ekspektasi itu runtuh seketika. “Untuk kasus hilang motor itu kayak enggak terlalu jadi poin penting… agak lambat gitu dan hasilnya motor adik aku enggak balik,” kata Aya.
Hal yang membuatnya lelah bukan hanya lambatnya respon, tetapi ekspresi aparat yang datar, seolah-olah kehilangan kendaraan hanyalah kasus kecil yang tidak perlu dipusingkan. “Kayak… ‘iya, tenang saja kita bakal usut,’ tapi ya udah gitu loh. Ngerti kan?” imbuh dia.
Sebagai pelapor, ia ingin kepastian. Tapi yang terasa justru sebaliknya, laporannya disepelekan.
Panjangnya Prosedur Pelaporan
Jika Faldy dan Aya merasa lambatnya proses menjadi struggle terbesar, cerita Axel (19) memberikan another side, yakni panjangnya prosedur. Ia kehilangan tiga handphone bersama teman-temannya. Beruntung, mereka bisa melacak pelaku lewat fitur Find My Phone.
Polisi kemudian menindaklanjuti. Namun, proses administrasi tetap memakan waktu hingga dini hari. “Dari jam 11 malam sampai sekitar subuh… ceritain kronologi, tanda tangan ini itu, dan menunggu ini itu,” ujar Axel.
Axel mengakui prosesnya transparan, tetapi sangat menguras energi. Tidak semua orang bisa menunggu sampai dini hari hanya untuk serangkaian tanda tangan. “Mungkin karena banyak berkas, surat ini itu, polisi harus lapor ke atasnya… nunggu persetujuan…” kata dia.
Satu hal yang pasti: satu laporan kehilangan bisa menghabiskan satu hari penuh, bahkan lebih.
Apa yang Sebenarnya Ingin Diperbaiki Gen Z?
Meski lelah, ketiganya sepakat bahwa ada hal yang perlu dibenahi dari layanan pelaporan. Bagi Faldy, keadilan dan efisiensi adalah kunci. Ia menilai pelayanan seharusnya tidak bergantung pada siapa yang membawa uang, dan update informasi mestinya bisa dilakukan tanpa harus datang langsung.
“Enggak semua orang punya waktu… update by email atau WhatsApp enggak apa-apa banget,” kata Faldy.
Aya menambahkan bahwa digitalisasi akan sangat membantu agar masyarakat tidak perlu bolak-balik ke kantor polisi. “Bakal membantu… jadi kita enggak harus bolak-balik,” ujar dia.
Axel sependapat, meski memberi notes penting bahwa aplikasi hanya bermanfaat jika benar-benar matang. “Kalau enggak matang, malah tambah ribet,” kata Axel.
Apakah Mereka Kapok Laporkan ke Kantor Polisi?
Reaksi mereka berbeda-beda. Faldy mengaku jadi trust issue karena proses yang panjang dan minim kepastian. Aya memilih bersikap fifty fifty, kesal, tetapi akan melapor kalau situasinya mendesak, sementara Axel justru tidak kapok sama sekali karena handphone miliknya berhasil kembali.
Meski begitu, ada satu hal yang sama dari cerita mereka, yakni mereka datang dengan harapan diproses cepat. Tetapi apa yang terjadi justru sebaliknya, mereka memerlukan proses panjang yang bikin lelah duluan.
Barang hilang mungkin bisa diganti, tapi rasa percaya? Itu yang makin lama makin sulit dipertahankan kalau proses laporannya saja sudah bikin kita mikir dua kali buat balik lagi.









