Tradisi Peringatan Tsunami di Aceh Besar
Aceh, yang dikenal dengan sejarahnya yang kaya akan budaya dan tradisi, memiliki berbagai cara untuk mengenang peristiwa besar dalam sejarahnya. Salah satu peristiwa yang paling dikenang adalah tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004. Namun, selain tanggal tersebut, masyarakat Aceh juga memiliki kebiasaan unik dalam memperingati bencana ini, yaitu pada tanggal 14 Zulkaidah atau 14 Beurapet, sesuai dengan kalender Aceh.
Pelacakan Kebiasaan Masyarakat Aceh Besar
Untuk mengetahui lebih jauh tentang tradisi ini, T.A. Sakti, seorang peminat manuskrip dan sastra Aceh, melakukan pelacakan langsung ke beberapa daerah di Aceh Besar. Pada 27 Mei 2024, atau 29 Zulkaidah 1446 H, rombongan yang terdiri dari empat orang bertolak ke Krueng Raya, Aceh Besar. Tujuan mereka adalah mencari kepastian apakah warga Aceh Besar benar-benar memperingati tsunami pada tanggal 14 Zulkaidah setiap tahunnya.
Di Gampong Meruek Lam Reudeup, Kecamatan Baitussalam, T.A. Sakti bertemu dengan Keuchik Amiruddin, mantan kepala desa yang sangat lancar berbicara. Dari sini, ia mendapatkan informasi bahwa warga kampung-kampung di Aceh Besar memang secara rutin melaksanakan “kenduri arwah” untuk mengenang tsunami pada tanggal 14 Zulkaidah atau 14 Beurapet.
Buku sebagai Panduan
Rombongan menggunakan buku tipis berjudul Hikayat Aceh – Rawon Gampong Aceh Besar yang ditulis oleh Medya Hus dan diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Besar tahun 2018. Buku ini berisi informasi lengkap mengenai nama-nama kampung di Aceh Besar beserta ciri khasnya. T.A. Sakti hanya memilih kampung-kampung yang terletak sepanjang pantai, mulai dari Krueng Raya hingga Kecamatan Leupueng.
Pengalaman di Pasar Krueng Raya
Setelah wawancara dengan Keuchik Amiruddin, rombongan melanjutkan perjalanan ke Keude (Pasar) Krueng Raya. Di sebuah warung kopi, mereka berbincang dengan pengunjung yang ternyata merupakan adik kandung dari penyair terkenal Syekh Rih Krueng Raya, yaitu Teungku Usman Gadeng. Ia menceritakan pengalaman pribadinya saat tsunami menerjang kawasan Krueng Raya. Saat itu, ia terbawa arus tsunami yang menghanyutkan rumpun bambu, tempat dirinya menyelamatkan diri.
Dua Versi Peringatan Tsunami
Sejauh penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa masyarakat Aceh Besar memperingati tsunami dalam dua versi. Pertama, memperingati pada 26 Desember, serentak dengan peringatan nasional. Kedua, memperingati pada 14 Zulkaidah setiap tahunnya, sesuai dengan almanak Aceh. Ada pula kampung-kampung yang ikut memperingati tsunami pada kedua tanggal tersebut.
Contoh Daerah yang Memperingati
- Kecamatan Leupueng: Dua orang ibu penjual ikan kering di Gampong Pulot menyebutkan bahwa peringatan tsunami dilakukan warga pada 26 Desember.
- Gampong Lam Seunia: Warga memperingati tsunami dengan kenduri pada malam 14 Zulkaidah di meunasah gampong lama.
- Kemukiman Lhoknga: Mengadakan doa bersama pada malam ke-14 Zulkaidah selepas magrib.
- Gampong Mon Ikeuen: Memperingati tsunami pada 26 Desember dengan doa bersama tanpa kenduri.
- Lam Rukam: Memperingati tsunami pada 14 Zulkaidah dengan membawa ‘bukulah’ tiga bungkus per KK.
- Gampong Asoe Nanggroe: Kenduri berlangsung di meunasah setempat dengan doa bersama.
- Gampong Emperom: Memperingati tsunami pada 26 Desember.
Saran untuk Peringatan Tsunami di Aceh
Berdasarkan hasil penelitian, T.A. Sakti menyimpulkan bahwa seimbang antara warga yang memperingati tsunami pada tanggal 26 Desember dengan masyarakat yang mengenang tsunami pada 14 Zulkaidah. Oleh karena itu, ia menyarankan agar peringatan tsunami di Aceh setiap tahun dilaksanakan dalam dua versi. Apakah hal ini mungkin?











