Dugaan Pelaku Tidak Menargetkan Korban Langsung
Seorang anak dari Dewan Pakar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Cilegon, Banten, yang bernama MAHM (9), diduga bukan menjadi target utama dalam kejadian pembunuhan. Seorang pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, menyampaikan dugaan bahwa korban mungkin hanya menjadi pengganti dari pelaku.
Reza menilai kemungkinan besar pelaku ingin menghabisi orang tua korban, tetapi tidak bisa melakukannya secara langsung. Oleh karena itu, korban dijadikan sebagai objek substitusi. “Boleh jadi pelaku mengincar pihak lain yang punya keterkaitan dengan korban, misalnya orang tua korban,” ujar Reza.
Menurut Reza, pelaku mungkin tidak sungguh-sungguh menjadikan korban sebagai target aslinya. Ia juga menyoroti adanya ketidaksejajaran antara motif dan perilaku pelaku. “Antara perilaku dan motif belum tentu linear, karena belum tentu orang yang menghabisi korban adalah orang yang sungguh-sungguh punya kepentingan bagi meninggalnya korban,” tambahnya.
Alasan Korban Dianggap Target Pengganti
Status korban sebagai seorang anak-anak menjadi alasan mengapa ia dianggap sebagai sasaran empuk. Anak-anak termasuk dalam kelompok rentan yang lemah dalam berbagai aspek. “Anak-anak memang termasuk dalam kelompok yang rentan menjadi korban kejahatan,” jelas Reza.
Korban lemah secara fisik, psikis, dan sosial. Hal ini membuatnya mudah menjadi sasaran bagi pelaku. Selain itu, Reza meyakini bahwa pelaku mungkin memiliki akses masuk ke dalam rumah korban. “Pelaku mungkin sudah mengenal kondisi atau situasi rumah dan keluarga pemilik rumah tersebut,” ujarnya.
Luka Berjumlah 22 Pada Tubuh Korban
Kasi Humas Polres Cilegon, AKP Sigit Darmawan, mengungkapkan bahwa MAHM tewas akibat luka senjata tajam dan benda tumpul. Total ada 22 luka di tubuh korban, terdiri dari 19 luka tusuk dan tiga luka memar. Luka-luka tersebut ditemukan setelah dilakukan pemeriksaan di rumah sakit.
Akibat banyaknya luka tersebut, MAHM mengalami pendarahan hebat yang menyebabkan kematian. Hingga saat ini, polisi masih mencari alat yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban. “Untuk benda-benda tersebut belum ada, itu masih dicari, belum ditemukan,” kata Sigit.
Tidak Ada Barang Berharga Yang Hilang
Meskipun ada narasi yang menyebut kasus ini sebagai perampokan disertai pembunuhan, Sigit mengatakan tidak ada barang berharga yang hilang dari kediaman Haji Maman di kawasan Ciwaduk, Kota Cilegon. “Untuk barang-barang berharga, sampai saat ini belum ditemukan adanya barang yang hilang,” ujarnya.
Polisi telah memeriksa delapan saksi dalam kasus tewasnya MAHM. Saksi-saksi tersebut terdiri dari pihak keluarga dan warga setempat. “Jumlah saksi sementara yang sudah kita lakukan pemeriksaan itu ada delapan orang,” jelas Kasat Reskrim Polres Cilegon, AKP Yoga Tama.
Kronologi Penemuan Korban
Maman Suherman pertama kali mengetahui MAHM terluka ketika mendapat telepon dari anak keduanya, D (8), pada Selasa (16/12/2025). D menelepon sembari berteriak meminta bantuan. Saat kejadian, Haji Maman sedang bekerja dan langsung pulang ke rumah.
Setelah tiba di rumah, Haji Maman menemukan MAHM dalam kondisi bersimbah darah di dalam kamarnya. Meski korban sempat dibawa ke rumah sakit untuk diberi pertolongan medis, nyawa MAHM tidak selamat. “Korban langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis,” bunyi keterangan dari Polsek Cilegon, Polres Cilegon.









