"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Sering Dikira Porang, Ini Suweg: Cerita Kebun di Madiun

Di kebun belakang rumah kakak saya di Madiun, di antara pohon pisang dan tanaman liar yang tumbuh secara alami, saya menemukan sebuah tanaman yang tumbuh subur. Batangnya besar, daunnya lebar seperti payung, dan tampak mencolok di tengah kerimbunan vegetasi. Saat pertama kali melihatnya, saya spontan menyebutnya sebagai porang. Namun setelah diamati lebih dekat, saya sadar bahwa tanaman itu bukan porang, melainkan suweg.

Kesalahan penyebutan ini tidak hanya terjadi pada saya. Banyak orang, termasuk tetangga atau teman, sering menyebut tanaman berdaun besar seperti ini sebagai porang. Seolah-olah, sejak porang menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi, semua tanaman yang mirip otomatis mendapat nama yang sama. Padahal, meskipun suweg dan porang masih satu marga, ada perbedaan yang cukup mendasar antara keduanya.

Suweg (Amorphophallus paeoniifolius) memiliki batang yang lebih tebal dan kokoh, dengan bercak putih kehijauan yang tidak terlalu kontras. Daunnya besar dan menjari lebar, tumbuh seperti payung raksasa. Yang paling penting, suweg tidak memiliki katak atau bulbil di ketiak daun, ciri khas porang yang berfungsi sebagai alat perbanyakan vegetatif.

Tanaman suweg yang saya temui ini tumbuh alami, tanpa pernah ditanam atau dirawat secara khusus. Ia hadir begitu saja, mengikuti siklus alam, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kebun keluarga. Justru dari situ, saya mulai bertanya-tanya: jika suweg hanya dianggap tanaman liar, lalu apa sebenarnya nilai dan potensinya?

Pertanyaan itu membawa saya pada penelusuran sederhana tentang suweg. Ternyata, suweg bukanlah tanaman sembarangan. Umbinya berukuran besar dan sejak lama dikenal sebagai bahan pangan alternatif. Di masa lalu, terutama saat saya masih kecil di wilayah desa, suweg banyak tumbuh dan pernah menjadi salah satu sumber pangan alternatif ketika kondisi sulit.

Umbi ini memang tidak dapat dikonsumsi secara langsung karena mengandung getah serta senyawa tertentu yang dapat menimbulkan rasa gatal jika tidak diolah dengan benar. Pengolahan suweg pada masa itu dilakukan dengan cara sederhana, tetapi membutuhkan ketelatenan. Umbi suweg terlebih dahulu dikupas dan diiris, kemudian direndam dalam air bersih selama beberapa jam, bahkan ada yang semalaman, untuk mengurangi getahnya. Setelah itu, irisan suweg direbus, air rebusannya dibuang, lalu direbus kembali hingga teksturnya lunak dan rasa gatalnya hilang. Proses ini kadang diulang lebih dari satu kali, tergantung kondisi umbi.

Setelah melalui tahapan tersebut, suweg biasanya dimasak sebagai sayur, dicampur dengan bumbu dapur sederhana, atau digoreng sebagai lauk pendamping nasi. Meski rasanya tidak istimewa, olahan suweg cukup mengenyangkan dan menjadi penolong di masa-masa sulit. Dari pengalaman inilah, suweg dikenal bukan sebagai makanan pilihan, melainkan makanan bertahan hidup yang pernah berjasa bagi banyak keluarga di desa.

Namun, dengan pengolahan yang tepat—seperti perendaman, perebusan berulang, atau pengeringan—suweg sebenarnya dapat dikonsumsi dengan aman. Di beberapa daerah, suweg bahkan diolah menjadi beragam sajian, mulai dari sayur, lauk rebus, hingga keripik. Prosesnya memang tidak sederhana dan membutuhkan pengetahuan serta kesabaran.

Barangkali inilah salah satu alasan mengapa suweg perlahan ditinggalkan. Ketika bahan pangan instan dan mudah diperoleh semakin mendominasi, tanaman yang memerlukan proses panjang pun kehilangan tempat dalam pola konsumsi masyarakat.

Selain sebagai pangan, suweg juga dikenal dalam pengobatan tradisional. Umbinya dipercaya memiliki manfaat tertentu bagi pencernaan dan kesehatan tubuh, meski pemanfaatan ini tentu harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak sembarangan. Pengetahuan semacam ini biasanya diwariskan secara turun-temurun, namun kini semakin jarang dibicarakan.

Menariknya, suweg termasuk tanaman yang tangguh. Ia tidak membutuhkan lahan khusus, pupuk intensif, atau perawatan rumit. Seperti yang saya lihat di kebun kakak di Madiun, suweg mampu tumbuh di bawah naungan pohon pisang dan tanaman lain, memanfaatkan ruang yang sering kali dianggap tidak produktif. Dari sudut pandang ketahanan pangan, karakter ini sebenarnya sangat potensial.

Namun, potensi tersebut sering kali kalah oleh daya tarik ekonomi. Porang menjadi primadona karena nilai jualnya tinggi dan pasarnya jelas. Sementara suweg, yang tidak menawarkan keuntungan instan, cenderung dipinggirkan. Akibatnya, banyak orang mengenal porang, tetapi tidak lagi mengenal suweg, meski tanaman ini tumbuh di sekitar mereka.

Fenomena ini membuat saya berpikir bahwa kesalahan menyebut suweg sebagai porang bukan sekadar kekeliruan istilah. Ini mencerminkan cara pandang kita terhadap alam dan tanaman. Kita lebih mudah mengingat sesuatu yang viral, bernilai ekspor, dan sering dibicarakan media. Sebaliknya, tanaman lokal yang tidak populer perlahan menghilang dari ingatan kolektif.

Padahal, mengenali perbedaan antara suweg dan porang juga penting secara praktis. Kesalahan identifikasi bisa berujung pada kekeliruan dalam pemanfaatan. Suweg yang diolah tanpa pengetahuan cukup bisa menimbulkan masalah kesehatan. Sebaliknya, mengharapkan nilai ekonomi porang dari tanaman yang ternyata suweg tentu akan berakhir pada kekecewaan.

Dari pengalaman sederhana di kebun kakak ini, saya merasa ada pelajaran yang lebih luas. Literasi tentang tanaman pangan lokal seharusnya tidak berhenti pada apa yang sedang tren. Ia perlu dibangun dari pengenalan dasar: nama, ciri, manfaat, dan keterbatasannya. Dengan begitu, kita tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga penjaga pengetahuan lokal.

Selain itu, suweg bisa menjadi pangan alternatif, namun diperlukan langkah yang lebih konkret dan realistis. Berdasarkan praktik yang pernah dilakukan di beberapa daerah, suweg sebenarnya sudah memiliki jalur pemanfaatan yang jelas, hanya saja belum dikembangkan secara serius.

Beberapa strategi pengembangan suweg:

  • Dari sisi pangan rumah tangga, suweg bisa dimanfaatkan sebagai bahan konsumsi lokal dengan skala kecil. Umbi suweg yang sudah cukup tua dapat diolah melalui proses perendaman dan perebusan berulang untuk menghilangkan getah dan rasa gatal. Setelah itu, suweg bisa dimasak sebagai sayur, digoreng, atau dijadikan irisan kering. Pola ini pernah menjadi praktik umum di desa-desa, terutama saat bahan pangan lain sulit diperoleh.
  • Dari sisi produk olahan sederhana, suweg berpotensi dikembangkan menjadi bahan setengah jadi. Umbi suweg yang telah diiris tipis dan dikeringkan bisa disimpan lebih lama, bahkan digiling menjadi tepung kasar untuk campuran pangan. Skema ini tidak membutuhkan teknologi tinggi, cukup dengan pengetahuan pengolahan dasar dan sanitasi yang baik.
  • Dari sisi ekonomi lokal, suweg tidak harus diposisikan sebagai komoditas ekspor. Pendekatan yang lebih masuk akal adalah menjadikannya sebagai sumber nilai tambah berbasis desa. Produk olahan suweg bisa dipasarkan sebagai pangan lokal, pangan alternatif, atau pangan tradisional yang bernilai budaya.
  • Dari sisi ketahanan pangan, suweg memiliki keunggulan karena tidak menuntut lahan khusus. Ia bisa tumbuh di kebun campuran, di bawah naungan pohon pisang atau tanaman keras, tanpa mengganggu tanaman utama. Artinya, suweg dapat menjadi tanaman cadangan tanpa mengubah pola tanam yang sudah ada. Dalam konteks desa, ini adalah solusi nyata, bukan sekadar konsep.

Dengan pendekatan seperti ini, suweg tidak lagi ditempatkan sebagai “tanaman yang mungkin berguna”, melainkan sebagai sumber daya lokal yang benar-benar bisa dimanfaatkan. Ia tidak perlu menunggu menjadi viral atau bernilai ekspor untuk dianggap penting. Cukup dengan kembali dikenali, dipahami, dan diolah secara tepat, suweg sudah memberi kontribusi nyata bagi pangan dan ekonomi skala kecil.

Suweg di kebun kakak saya mungkin tidak akan pernah menjadi komoditas besar. Ia tumbuh diam-diam, lalu suatu saat mengering dan menghilang mengikuti musimnya. Namun kehadirannya memberi pengingat bahwa alam menyediakan banyak pilihan, bukan hanya yang bernilai jual tinggi. Ada tanaman yang berfungsi sebagai cadangan, sebagai penopang, dan sebagai pengingat sejarah pangan kita.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti memandang tanaman hanya dari sisi ekonomi. Dengan mengenali suweg apa adanya, kita sedang belajar menghargai keberagaman hayati dan pengetahuan lokal yang perlahan terpinggirkan.

Dari kebun kecil di Madiun, saya belajar bahwa memahami alam bisa dimulai dari hal yang paling dekat, paling sederhana, dan sering kali terabaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *