"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

SMA Negeri 1 Kupang Juara LCC Bali Nusra 2026 dalam Final Dramatis

Suasana Grand Final Lomba Cerdas Cermat di Bali Nusra Education Fair 2026

Grand final lomba cerdas cermat dalam ajang Bali Nusra Education Fair 2026 berlangsung dengan penuh semangat dan ketegangan di Atrium Lippo Plaza Kupang, pada hari Sabtu (28/2/2026). Acara ini menampilkan tiga sekolah terbaik yang berhasil melewati babak-babak sebelumnya, yaitu SMA Negeri 1 Kupang, SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang, dan SMA Negeri 7 Kupang. Ketiganya saling bersaing untuk meraih gelar juara pertama.

Laga final dipandu oleh host yang energik dan komunikatif, yaitu Annie Toda. Sementara itu, dua juri berpengalaman, Alfons Nedabang dan Apolonia Matilde Dhiu, memberikan penilaian terhadap kinerja para peserta. Keduanya dikenal luas sebagai juri dalam berbagai lomba karya jurnalistik tingkat kota, provinsi hingga instansi swasta.

Suasana semakin membara karena sorakan dan yel-yel dari pendukung masing-masing sekolah. Ketegangan meningkat saat memasuki sesi rebutan, terutama ketika SMA Negeri 1 Kupang secara cepat dan tepat menjawab dua pertanyaan berturut-turut, mengubah situasi persaingan secara drastis.

Pada sesi soal wajib, SMA Negeri 1 Kupang meraih 60 poin, sedangkan SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang unggul dengan 80 poin. SMA Negeri 7 Kupang mengoleksi 60 poin. Memasuki sesi lemparan strategis, persaingan semakin sengit. SMA Negeri 1 Kupang berhasil mengumpulkan 135 poin, SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang memimpin sementara dengan 150 poin, dan SMA Negeri 7 Kupang meraih 115 poin.

Namun, sesi rebutan menjadi penentu segalanya. Di babak ini, SMA Negeri 1 Kupang tampil impresif dan menutup perlombaan dengan total 205 poin. SMA Santo Arnoldus Janssen Kupang harus puas di posisi kedua dengan 180 poin, sementara SMA Negeri 7 Kupang mengakhiri lomba dengan 105 poin.

Dengan hasil tersebut, SMA Negeri 1 Kupang resmi keluar sebagai juara pertama Lomba Cerdas Cermat Bali Nusra Education Fair 2026.

Pengakuan Peserta dan Strategi yang Digunakan

Salah satu peserta dari SMAN 1 Kupang, Maria Magdalena D. The Firstin Geli, yang tampil bersama Albriliani Nicola Tahun dan Lalu Muhammad Fahrey Alcaisary, mengungkapkan rasa syukur dan harunya usai pengumuman pemenang. Ia menyatakan bahwa mereka sangat senang dan lega setelah melalui momen yang sangat menegangkan.

“Kami bertiga tentunya sangat senang dan juga lega. Jujur tadi di atas kami merasa sangat deg-degan dan takut. Mungkin kalau terlihat di kamera, kami bertiga sangat over ekspresi karena itu benar-benar momen yang sangat menegangkan bagi kami. Apalagi di ronde pertama nilai kami juga sudah rendah,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa timnya sempat tertinggal di awal, namun berhasil bangkit di ronde berikutnya. “Ketika kami berhasil comeback di ronde kedua dan ketiga, kami merasa sangat lega dan juga senang.”

Terkait strategi, ia menegaskan bahwa kunci utama adalah belajar dan konsistensi. “Strategi khusus pastinya belajar. Kami juga berusaha menjawab semua pertanyaan, baik itu lemparan maupun pertanyaan wajib yang diberikan kepada kami, supaya kelompok lain tidak mendapatkan poin dari soal lemparan.”

Ia juga mengakui ada soal yang belum mampu mereka jawab maksimal, terutama terkait OVOP (One Village One Product). “Sebenarnya saya sempat membaca tentang One Village One Product, tapi tidak terlalu mendalami. Jadi kami kurang mengetahui singkatan dan tujuan program tersebut karena fokus ke hal-hal lain yang justru tidak keluar.”

Menurutnya, lomba ini sangat menarik karena mengangkat tema Nusa Tenggara Timur. “Banyak anak muda sekarang belum mengerti atau belum paham tentang daerah mereka sendiri. Dengan adanya lomba seperti ini, mereka bisa belajar untuk mengetahui dan memahami daerahnya sendiri.”

Penilaian dari Juri

Juri Apolonia Matilde Dhiu menilai final kali ini sangat mendebarkan karena kemampuan para peserta yang luar biasa. “Bagi saya, lomba kali ini sangat mendebarkan karena para siswa mampu menjawab soal-soal yang disiapkan panitia. Pertanyaannya menurut saya cukup sulit untuk tingkat SMA, tetapi mereka mampu menguasai dan menjawab dengan benar. Itu luar biasa,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya penguatan literasi dan pengetahuan umum bagi pelajar. “Anak-anak tidak saja mempelajari akademik di sekolah, tapi perlu juga dibekali pengetahuan umum, termasuk tentang daerah sendiri. Kita boleh tahu tentang dunia dan Indonesia, tapi harus tahu tentang daerah sendiri,” katanya.

Matilde juga mendorong sekolah untuk membiasakan program literasi harian. “Membaca bukan hanya buku pelajaran, tapi juga pengetahuan umum melalui media massa atau online. Anak-anak sekarang punya gadget, aksesnya lebih mudah. Gunakan itu untuk hal-hal yang bermanfaat,” harap Matilde.

Ia menegaskan, tiga sekolah finalis memang layak berada di posisi tersebut. “Mereka luar biasa dan benar-benar paham pengetahuan umum. Bagi yang belum masuk final, bukan berarti tidak layak, mungkin hanya kurang konsentrasi dalam mendengarkan soal,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *