"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Budaya  

Jaga Kedamaian Bali, Koster Ajak Jalani Nyepi dan Idulfitri dengan Khidmat

Gubernur Bali Mempersiapkan Kedua Perayaan Suci dengan Toleransi dan Harmoni

Gubernur Bali, Wayan Koster, memaparkan skenario besar untuk memastikan dua perayaan suci Hari Besar Keagamaan dapat berjalan beriringan tanpa mengganggu satu sama lain. Tahun ini, Bali tidak hanya bersiap menyambut arus mudik, tetapi juga menghadapi ujian toleransi yang nyata dalam pertemuan antara kekhidmatan Hari Suci Nyepi Saka 1948 dan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriyah.

Fokus pemerintah adalah kemungkinan malam takbiran yang jatuh tepat saat umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian pada tanggal 19 Maret mendatang. Koster menjelaskan bahwa jika Idulfitri jatuh pada tanggal 20 Maret, hal tersebut belum pasti karena belum ada keputusan dari pemerintah. Oleh karena itu, bisa terjadi adanya takbiran pada tanggal 19 yang bertepatan dengan Hari Suci Nyepi.

Pemprov Bali menyikapi hal ini dengan duduk bersama seluruh majelis umat beragama untuk merumuskan seruan bersama yang mengedepankan toleransi dan empati antarumat beragama. Jika ada yang merayakan Idulfitri tanggal 20 Maret dan takbiran pada tanggal 19 Maret, maka acara takbirannya harus dilaksanakan di rumah seoptimal mungkin.

Namun, Koster menyadari bahwa tradisi keagamaan memiliki dimensi sosial. Jika rumah tidak memungkinkan dan umat harus menuju masjid, Gubernur telah menetapkan aturan main yang sangat spesifik demi menghormati Hari Suci Nyepi. Ia meminta umat Islam yang merayakan untuk tetap dalam koridor kesederhanaan. Jika harus ke masjid, maka sesuai seruan bersama dilaksanakan di masjid terdekat, jalan kaki, tidak menggunakan pengeras suara, lampu penerangan berlebihan, maupun pawai.

Menurut penghitungan Koster, potensi keramaian ini diprediksi tidak akan masif di seluruh Bali. Dari pemetaan Pemprov Bali, ada 4 masjid yang diperkirakan menggelar takbir saat tanggal 19 Maret tersebut. Ia menjelaskan bahwa hanya sedikit terjadi di Bali, terutama yang dilaksanakan oleh semeton kita umat Islam dari Muhammadiyah. Kemarin dihitung ada empat masjid dan pesertanya tidak banyak.

Bagi Koster, momen unik di tahun 2026 ini bukanlah kendala, melainkan pembuktian identitas Bali kepada dunia. Ia menekankan bahwa tugasnya sebagai kepala daerah adalah menjadi jembatan bagi seluruh keyakinan. Sebagai Gubernur, tugasnya adalah memfasilitasi agar semua umat beragama dapat menjalankan perayaan Idulfitri dan terutama bagi umat Hindu adalah perayaan Nyepi dengan tertib, disiplin, dengan tetap menjaga hubungan harmonis.

Pihaknya juga mengingatkan bahwa fenomena serupa pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya dan Bali selalu berhasil melewatinya dengan damai.

Operasi Ketupat 2026: Pengamanan di Seluruh Bali

Polda Bali melalui Operasi Ketupat 2026 mengerahkan 2.169 personel. Langkah ini diambil menyusul adanya irisan jadwal yang sangat rapat antara Nyepi dan Idulfitri. Ribuan personel tersebut mengawal 31 pos strategis serta 308 titik malam takbiran di seluruh Bali.

Kapolda Bali, Irjen Pol Daniel Adityajaya, menegaskan bahwa operasi yang berlangsung selama 13 hari sejak 13 Maret hingga 25 Maret 2026 ini memprioritaskan pemeliharaan Kamtibmas dengan pendekatan preemtif dan preventif. Fokus utama adalah kelancaran arus mudik dan balik Lebaran, serta menjamin situasi kondusif selama rangkaian Nyepi hingga pasca Idul Fitri.

Dari total 31 pos yang disiapkan, kepolisian merinci pembagian tugas menjadi 15 pos pengamanan, 11 pos pelayanan, dan 5 pos terpadu yang tersebar di titik-titik vital seluruh wilayah hukum Polda Bali. Data pemetaan kepolisian menunjukkan skala pengamanan yang sangat luas. Di sektor rumah ibadah, terdapat 256 titik masjid, 539 musala, 351 lokasi sholat Idulfitri, serta 308 titik malam takbiran yang menjadi atensi khusus.

Pengamanan ketat juga dilakukan di 1 bandara, 8 pelabuhan, 11 terminal, serta 77 objek wisata. Sektor ekonomi juga tidak luput dari penjagaan, mencakup 59 pasar tradisional, 7 pasar modern, dan 37 pusat perbelanjaan yang diprediksi akan mengalami lonjakan pengunjung.

Persiapan Jalur Mudik oleh Polda Bali

Direktorat Lalu Lintas Polda Bali bergerak cepat mengamankan urat nadi transportasi di Bali dengan menyisir langsung seluruh jalur mudik dan titik penyeberangan utama. Polda Bali memastikan kesiapan Operasi Ketupat Agung 2026 mengingat adanya tantangan ganda berupa perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 yang waktunya berdekatan dengan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

Penyisiran yang berlangsung selama dua hari ini menyasar lokasi-lokasi vital yang diprediksi akan menjadi titik penumpukan kendaraan. Tim Ditlantas Polda Bali fokus membedah kesiapan di wilayah timur dan selatan. Mulai dari Pos Terpadu Pelabuhan Padangbai di Karangasem, Pos Pelayanan Goa Lawah di Klungkung, hingga Pelabuhan The Angkal Kusamba dan Pos Pengamanan Masceti di Gianyar.

Di titik-titik ini, polisi memastikan sistem pelayanan penyeberangan tidak akan kedodoran saat lonjakan penumpang mulai mengalir. Memasuki hari kedua, fokus beralih sepenuhnya ke jalur utama Denpasar- Gilimanuk yang selama ini menjadi jalur tersibuk saat arus mudik. Pengecekan dilakukan secara detail di Pos Terpadu Terminal Mengwi, Pos Pengamanan Selabih Tabanan, hingga Pos Pelayanan Gilimanuk.

Tidak hanya sekadar memantau posko, tim juga memastikan kesiapan buffer zone atau zona penyangga kendaraan, armada mobil derek hingga bengkel siaga yang disiagakan untuk mengantisipasi kendaraan mogok yang berpotensi memicu kemacetan panjang.

Puncak Arus Mudik Diprediksi Mulai 14 Maret

Ratusan personel gabungan nampak berkumpul di lapangan areal GOR Kresna Jvara Jembrana, Kamis (12/3). Adalah apel gelar pasukan Operasi Ketupat 2026 yang diikuti 816 personel gabungan dalam rangka serangkaian pengamanan Hari Suci Nyepi dan Idulfitri tahun ini.

Di sisi lain, arus mudik menuju Pelabuhan Gilimanuk mulai mengalami pergerakan. Sementara didominasi kendaraan truk logistik serta sebagian lainnya adalah pemudik kendaraan roda dua dan kendaraan kecil atau roda empat pribadi.

Kapolres Jembrana, AKBP Kadek Citra Dewi Suparwati didampingi Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna saat dikonfirmasi mengatakan, operasi ini bertujuan memastikan pelaksanaan arus mudik, Nyepi, Idulfitri hingga arus balik nanti berjalan aman dan lancar. Dia mengimbau agar mudik dilaksanakan lebih awal. Sebab, informasi awal puncak arus mudik atau puncak peningkatan kendaraan terjadi mulai 14 hingga 17 Maret mendatang.

Kepolisian mengimbau agar menghindari mudik di tanggal 18 Maret 2026 mengingat Hari Pangrupukan yang dikenal dengan banyaknya rangkaian upacara serta ritual bahkan pengarakan ogoh-ogoh yang menggunakan jalur nasional nantinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *