Kasus Korupsi Video Profil Desa di Kabupaten Karo
Videografer asal Sumatera Utara, Amsal Christy Sitepu, menjadi sorotan publik setelah dituntut dua tahun penjara dalam kasus dugaan korupsi proyek pembuatan video profil desa di Kabupaten Karo. Kasus ini bermula pada periode anggaran 2020–2022, ketika Amsal, Direktur CV Promiseland, mengajukan proposal pembuatan video profil ke 20 desa di empat kecamatan: Tiganderket, Tigabinanga, Tigapanah, dan Namanteran. Setiap desa dipatok biaya sekitar Rp 30 juta.
Persoalan muncul karena proposal diduga tidak sesuai kondisi sebenarnya atau mengalami mark up. Hasil audit Inspektorat Kabupaten Karo menyebut biaya seharusnya sekitar Rp 24,1 juta per desa, sehingga selisih nilai ini menjadi dasar dugaan kerugian negara senilai Rp 202 juta. Dalam persidangan, kuasa hukum Amsal, Willyam Raja Dev, mempertanyakan perhitungan kerugian tersebut. “Ini yang paling kita garis bawahi. Perhitungan Rp 200 juta ini dari mana,” ujarnya.
Kasus ini ditangani oleh Wira Arizona, Kepala Subseksi Penuntutan, Upaya Hukum Luar Biasa, dan Eksekusi pada Seksi Pidana Khusus. Selain perannya sebagai jaksa penuntut, publik kini juga menyoroti kekayaan Wira Arizona. Berdasarkan laporan harta kekayaan yang tercatat, Wira memiliki total aset Rp 2,016 miliar, terdiri dari:
- Tanah dan Bangunan – Rp 1,182 miliar
- Tanah dan bangunan seluas 41 m⊃2; di Tapanuli Selatan: Rp 1 miliar
- Tanah seluas 4.842 m⊃2; di Batu Bara: Rp 182 juta
- Alat Transportasi dan Mesin – Rp 590 juta
- Mobil Pajero Dakar Tahun 2022, hibah tanpa akta: Rp 590 juta
- Harta Bergerak Lainnya – Rp 150 juta
- Kas dan Setara Kas – Rp 94,093 juta
Total Kekayaan Bersih – Rp 2,016 miliar. Tidak ada laporan mengenai hutang yang dimiliki Wira Arizona, sehingga total harta kekayaannya tetap sebesar Rp 2,016 miliar. Kekayaan Wira dan perannya sebagai jaksa penuntut dalam kasus Amsal menimbulkan perhatian publik terkait transparansi dan akuntabilitas penegakan hukum di kasus dugaan kerugian negara ini.
Profil dan Rekam Jejak Wira Arizona
Wira Arizona menjadi sorotan publik usai pernyataannya viral di media sosial Threads yang menyebut jasa editing video seharusnya gratis. Wira Arizona diketahui merupakan jaksa yang menangani kasus videografer Amsal Christy Sitepu. Ia pernah dilantik sebagai Ajun Jaksa Madya dan kini bertugas di Kejaksaan Negeri Karo. Berdasarkan informasi yang beredar, Wira merupakan lulusan Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) Angkatan LXXIX Gelombang II Tahun 2022. Ia juga sempat mendapat penugasan dari Kejaksaan Negeri Aceh Jaya sebelum dipindahkan ke Kejaksaan Negeri Karo.
Namanya menjadi perbincangan setelah muncul isu di media sosial yang menyebut jasa editing video seharusnya gratis. Isu tersebut memicu pro dan kontra, terutama di kalangan pekerja ekonomi kreatif. Polemik ini semakin mencuat karena berkaitan langsung dengan kasus yang tengah ditanganinya, yakni dugaan korupsi proyek pembuatan video profil desa di Kabupaten Karo yang menjerat Amsal Sitepu.
Dalam kasus tersebut, Amsal mengaku seluruh jasa editing video yang ia kerjakan justru dianggap tidak memiliki nilai oleh jaksa. Hal itu diungkapkan Amsal saat mengadukan kasusnya ke Komisi III DPR RI melalui Zoom dari Sumatera Utara, Senin (30/3/2026). Ia tampak tak kuasa menahan tangis saat menjelaskan perkara yang menjeratnya.
“Tidak perlu saya dipenjarakan. Karena pekerjaan ini kami lakukan tahun 2020 juga saat pandemi hanya untuk bertahan hidup dan untuk mempromosikan Kabupaten Karo,” ujar Amsal. Ia menjelaskan, dalam proposal yang diajukan terdapat rincian biaya produksi video, namun seluruh komponen tersebut disebutnya dianggap bernilai nol.
“Itu ada ide, ide itu besarannya di dalam proposal itu Rp 2 juta. Editing Rp 1 juta, cutting Rp 1 juta, dubbing 1 juta, clip-on atau mikrofon Rp 900.000, yang totalnya Rp 5,9 juta ini semuanya dianggap Rp 0 oleh auditor maupun Jaksa Penuntut Umum,” kata dia. “Jadi seperti itulah singkatnya cerita pembuatan video profil ini yang saya hari ini hanya mencari keadilan,” sambungnya dengan suara tercekat.
Selain itu, Amsal juga mengaku mengalami intimidasi selama proses hukum berlangsung. “Dalam proses hukum yang sedang saya jalani ini, saya pernah mendapatkan intimidasi oleh jaksa secara langsung yang memberikan saya sekotak brownies cokelat,” ujarnya. Ia menyebut mendapat pesan agar tidak membuat kegaduhan terkait kasusnya. “Dia ngomong langsung dengan saya di rutan ini, ‘Udah ikutin aja alurnya, nggak usah ribut-ribut tutup konten-konten itu, ada yang terganggu,’” kata Amsal. Namun, ia menegaskan tetap melawan karena merasa tidak bersalah. “Nggak ada lagi anak-anak muda yang harus dikriminalisasi di Indonesia. Biarkan saya menjadi yang terakhir,” tegasnya. Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari Wira Arizona terkait isu viral yang menyeret namanya tersebut.











