JAKARTA – Tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) semakin memengaruhi minat investor asing terhadap pasar Surat Berita Negara (SBN) di Indonesia. Meski demikian, para analis percaya bahwa Indonesia sebagai pasar negara berkembang masih memiliki daya tarik yang kuat di mata investor global.
Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2026, arus keluar dana asing di pasar SBN mencapai Rp31,04 triliun. Hal ini berdampak pada penurunan yield SBN hingga ke level 6,89% per hari ini, Senin (30/3/2026).
Salvian Fernando, Kepala Unit Riset dan Market Informasi PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), mengatakan meskipun terjadi arus keluar dana asing, minat investor tetap ada karena yield obligasi Indonesia masih kompetitif dibandingkan negara-negara lainnya. Dalam data World Government Bonds, yield Indonesia saat ini sebesar 6,89%, sedangkan India memiliki yield sebesar 6,96%, Filipina 6,92%, dan Romania 7,25%.
“Minat investor asing terhadap SBN masih ada karena yield obligasi Indonesia lebih menarik dibandingkan negara berkembang lainnya. Namun, saat ini investor cenderung lebih selektif akibat volatilitas global dan risiko nilai tukar,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (30/3/2026).
Salvian menambahkan bahwa faktor utama yang diperhatikan investor asing tidak hanya imbal hasil, tetapi juga stabilitas makro dan arah kebijakan fiskal pemerintah. Oleh karena itu, ia menilai pemerintah perlu menjaga disiplin fiskal, stabilitas rupiah, serta konsistensi kebijakan agar pasar SBN tetap resilien.
Fudji Rahardjo, Chief Dealer Fixed Income & Derivatives PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), menilai bahwa yield SBN yang saat ini melemah mendekati level 6,90% masih membuat pasar SBN RI menjadi salah satu instrumen yang kompetitif di kawasan Asia Tenggara. Namun, investor asing tidak hanya tergiur oleh angka yield, tetapi juga mempertimbangkan stabilitas nilai tukar, biaya hedging, dan persepsi terkait kesehatan fiskal Indonesia secara keseluruhan.
Di sisi lain, penempatan dana SAL senilai Rp100 triliun ke perbankan dinilai hanya sebagai peredam jangka pendek terhadap arus keluar dana asing dari pasar SBN. Fudji menyebutkan bahwa penempatan dana tersebut belum mampu memberikan kepastian jangka menengah bagi investor asing.
“Untuk membangun kredibilitas fiskal, pemerintah perlu meningkatkan transparansi data anggaran, komitmen terhadap target defisit, serta sinergi kebijakan yang solid antara Kemenkeu dan BI. Kepercayaan investor akan pulih secara bertahap melalui komitmen pemerintah dalam menjaga kondisi perekonomian dalam negeri,” ujarnya.
Putri Nur Astiwi, Portfolio Manager Batavia Prosperindo Aset Manajemen, menilai arus net sell asing dapat mereda jika terjadi normalisasi harga minyak dan stabilnya kinerja rupiah. Terhadap potensi larinya dana asing ke depan, Putri mengatakan aksi ini akan tetap terjadi jika pasar global bersikap risk-off dan investor memilih aset safe haven.
“Durasi net sell sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah. Selama ketidakpastian perang masih berlanjut panjang, di mana menghilangkan ruang pemangkasan suku bunga, maka outflow berpotensi berlanjut,” katanya.











