Persidangan Dugaan Korupsi Perdana Menteri Israel Dimulai Kembali
Persidangan dugaan korupsi terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, akan kembali digelar pada 12 April 2026. Sidang ini sebelumnya sempat tertunda akibat meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran. Namun, setelah gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran, situasi darurat di Israel dicabut dan aktivitas peradilan kembali normal.
Sidang kali ini akan berlangsung dengan agenda utama mendengarkan kesaksian dari pihak pembela. Pengadilan menyatakan bahwa persidangan akan dilanjutkan dalam kondisi yang lebih stabil dibanding sebelumnya.
Latar Belakang Penundaan Persidangan
Penundaan persidangan sebelumnya terjadi karena situasi darurat yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran. Namun, setelah gencatan senjata sementara antara AS dan Iran disepakati, status darurat di Israel dicabut. Hal ini memungkinkan pengadilan untuk kembali menjalankan proses hukum secara normal.
Netanyahu, yang saat ini berusia 76 tahun, menjadi Perdana Menteri Israel pertama yang tetap menjabat sambil menghadapi persidangan pidana. Kasus korupsi ini telah bergulir sejak 2019 dan mulai disidangkan pada 2020. Namun, prosesnya sering mengalami penundaan, termasuk karena kesibukan resmi sebagai kepala pemerintahan.
Dakwaan yang Dihadapi Netanyahu
Netanyahu menghadapi tiga kasus korupsi berbeda. Dalam dua kasus, ia diduga melakukan negosiasi untuk memperoleh pemberitaan yang menguntungkan dari media Israel. Sementara dalam kasus lainnya, ia dituduh menerima hadiah mewah senilai lebih dari 260.000 dolar AS (sekitar Rp4,4 miliar) dari sejumlah miliarder sebagai imbalan atas bantuan politik. Salah satu dakwaan sebelumnya telah dibatalkan.
Netanyahu secara konsisten membantah seluruh tuduhan tersebut dan menyebut proses hukum yang dihadapinya sebagai “pengadilan politik”. Ia juga mengklaim bahwa proses ini tidak adil dan hanya dimanfaatkan untuk kepentingan politik.
Upaya Pengampunan dan Tuntutan Politik
Di tengah proses hukum ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah meminta Presiden Israel Isaac Herzog untuk memberikan pengampunan kepada Netanyahu. Permintaan ini disampaikan melalui pidato di parlemen Israel dan kemudian diikuti dengan surat resmi.
Selain itu, pengacara Netanyahu juga telah mengajukan permohonan pengampunan. Namun, hingga kini belum ada keputusan resmi, sehingga proses hukum tetap berjalan seperti biasanya.
Jadwal Sidang dan Perkembangan Terbaru
Sidang lanjutan dijadwalkan berlangsung pukul 09.30 pagi di Pengadilan Distrik Yerusalem. Agenda utama sidang kali ini adalah mendengarkan kesaksian dari pihak pembela. Persidangan kembali digelar setelah Iran menyetujui gencatan senjata selama dua pekan, yang turut mengakhiri status darurat di Israel.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araghchi turut menyinggung persidangan ini. Ia menyatakan bahwa salah satu alasan Iran menerima gencatan senjata adalah agar proses hukum terhadap Netanyahu dapat segera berlangsung.
Konsekuensi yang Mengancam
Kasus ini masih terus berkembang, dan Netanyahu tetap menghadapi kemungkinan hukuman berat, termasuk penjara maupun konsekuensi politik lainnya, jika terbukti bersalah di pengadilan. Proses hukum ini diperkirakan masih akan berlangsung panjang tanpa kepastian kapan akan berakhir.









