Persiapan Menghadapi Lonjakan Sampah Selama Libur Lebaran 2026
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sedang mempersiapkan langkah-langkah khusus untuk menghadapi potensi lonjakan sampah selama masa libur Lebaran 2026. Prediksi peningkatan volume sampah mencapai hingga 50 persen dibanding hari normal, terutama di wilayah Yogyakarta. Untuk mengantisipasi hal ini, DLHK DIY telah merancang strategi evakuasi dan pengelolaan sampah yang lebih efektif.
Langkah Evakuasi Sampah
DLHK DIY rencananya akan melakukan evakuasi sebanyak 900 ton sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan. Kepala DLHK DIY, Kusno Wibowo, menjelaskan bahwa skema evakuasi sampah akan dilakukan dalam dua tahap utama. Tahap pertama dilakukan sebelum hari raya, dan tahap kedua setelah masa libur berakhir. “Evakuasi pra lebaran 450 ton dan pascanya sementara direncanakan juga 450 ton,” ujar Kusno.
Sampah yang dievakuasi nantinya akan dikelola dengan sistem semi sanitary landfill. Metode ini melibatkan penimbunan sampah di lokasi cekung, kemudian dipadatkan dan ditutup dengan lapisan tanah harian. Teknik ini bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar. Namun, penggunaan TPA Piyungan hanya dilakukan pada momen tertentu seperti musim libur karena secara operasional, TPA tersebut telah ditutup permanen untuk kiriman sampah harian sejak Januari lalu akibat overcapacity.
Respons Pemda DIY
Menanggapi permintaan kuota evakuasi dari pemerintah kabupaten dan kota, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menyatakan bahwa provinsi tidak bisa langsung memenuhi semua permintaan. Ada syarat dan batasan ketat yang diberlakukan guna menjaga keberlanjutan daya tampung lokasi pengolahan. “Kami bisa bantu tapi tidak bisa seperti kuota yang diminta. Kami mengimbau kepada masyarakat untuk lebih peduli dengan mengurangi produksi sampah dan mengelola sampah,” papar Ni Made.
Target Pemkot Yogyakarta
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menetapkan target agar seluruh depo sampah di wilayahnya bersih dari tumpukan limbah sebelum Idulfitri 2026. Langkah ini dilakukan agar warga dapat merayakan momentum lebaran dengan nyaman, termasuk saat melaksanakan salat Ied. Untuk mencapai target tersebut, ia mengajak warga berperan aktif dalam pengelolaan sampah melalui gerakan lima langkah Mas JOS atau Masyarakat Jogja Olah Sampah.
Program ini merupakan upaya Pemkot Yogyakarta untuk mengurangi volume sampah dengan cara mengolah limbah langsung dari sumbernya. Dengan keterlibatan masyarakat, diharapkan persoalan sampah di Kota Yogyakarta dapat ditangani secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Tren Kenaikan Timbulan Sampah
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta mencatat tren kenaikan timbulan limbah selama Ramadan, terutama yang bersumber dari pasar-pasar tiban pusat perburuan takjil. Namun, Kepala DLH Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, mengungkapkan bahwa kenaikan volume sampah masih dalam kategori terkendali, yaitu sekitar 3 persen. “Kalau naik, ya naik, tapi tidak signifikan. Paling 3 persenan. Dari (rata-rata) 300 ton, tambahannya sebenarnya hanya sekitar 10 ton-an saja,” ujarnya.
Depo Sampah Kondusif
DLH mengklaim bahwa kondisi depo-depo sampah di wilayah Kota Yogyakarta tetap kondusif dan tidak mengalami penumpukan yang berarti. Hal ini karena pihaknya menerapkan skema khusus supaya sampah dari kegiatan Ramadan tidak semuanya lari menuju tempat penampungan sementara. Sampah-sampah dari Pasar Ramadan yang kebanyakan merupakan limbah organik basah, praktis pengolahan di level hulu bisa langsung ditempuh.
“Sesuai SOP kita, baik dari pemukiman maupun lokasi kegiatan Ramadan, sampah itu dimasukkan ke ember-ember organik (kapasitas) 25 kilogram,” jelas Rajwan. Ember-ember tersebut kemudian dikumpulkan di titik kumpul tiap kelurahan oleh penggerobak yang ditugaskan pada masing-masing wilayah. Dari titik inilah, kumpulan sampah organik langsung dijemput oleh offtaker tanpa harus mampir ke depo-depo sampah yang ada di Kota Pelajar.












