"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Bisnis  

Produsen Tahu-Tempe Kebingungan Hadapi Kenaikan Harga Kedelai dan Plastik



Kenaikan Harga Bahan Baku Mengancam Industri Tempe dan Tahu di Semarang

Di tengah situasi kenaikan harga bahan baku seperti kedelai dan plastik, para produsen tempe dan tahu di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), menghadapi tantangan besar. Meski harga bahan baku melonjak, banyak dari mereka enggan menaikkan harga jual produknya karena khawatir akan mengurangi daya beli masyarakat.

Kenaikan Harga Kedelai yang Berdampak pada Produksi

Adib Mukharam, pemilik pabrik tempe di Pandean Lamper, menjelaskan bahwa kenaikan harga kedelai terjadi secara bertahap. Pada Januari 2026 lalu, harga kedelai masih sekitar Rp8.500 per kilogram. Saat ini, harganya telah mencapai Rp10.250 per kilogram. Menurut Adib, kenaikan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan kurs dolar yang saat ini berada di kisaran Rp17 ribu.

Pabrik milik Adib mampu memproduksi rata-rata 650 kilogram tempe dalam sehari. Namun, kenaikan harga kedelai tidak hanya terjadi sekali, tetapi secara bertahap. Bahkan, pada tahun lalu, harga kedelai sempat menyentuh angka Rp14.500 hingga Rp15.000 per kilogram.

Meskipun harga kedelai fluktuatif, saat itu harga plastik tidak mengalami lonjakan signifikan. Kini, situasinya berbeda. Plastik yang digunakan sebagai pembungkus tempe kini naik hingga Rp1.750.000 per rol, padahal sebelumnya hanya Rp550 ribu per rol.

Penyesuaian Ukuran Produk untuk Menghindari Kenaikan Harga

Untuk mengimbangi kenaikan biaya produksi, Adib memilih untuk mengurangi ukuran atau gramasi tempe. Ia menjelaskan, meskipun harga jual tetap sama, berat tempe yang biasanya 450 gram kini dikurangi menjadi 400 gram. Langkah ini dilakukan agar produk tetap bisa dijual dengan harga normal tanpa harus menaikkan harga.

Adib juga menyatakan bahwa produksi tempe di pabriknya tidak menurun karena memiliki pelanggan tetap. Namun, ia berharap pemerintah dapat segera menstabilkan harga komoditas dan bahan baku agar ekonomi tetap berjalan lancar.

Pengusaha Tahu Mengalami Tekanan Serupa

Pemilik pabrik tahu di Jomblang, Joko Wiyatno, juga mengakui tekanan serupa akibat kenaikan harga kedelai. Harga kedelai saat ini mencapai Rp11 ribu per kilogram, naik dari harga normal sekitar tujuh hingga delapan ribu rupiah per kilogram. Kenaikan ini terjadi secara bertahap, dengan fase terbesar setelah Lebaran.

Joko menggunakan kedelai impor dari Amerika Serikat (AS) karena pasokan kedelai lokal tidak cukup. Untuk mengatasi kenaikan harga, ia juga mengurangi ukuran tahu. “Kita kurangi takarannya karena kenaikannya terlalu tinggi. Tapi mengurangi takaran pun tidak bisa banyak, paling hanya berapa ons,” ujarnya.

Joko juga mengakui pendapatannya menurun karena modal pembelian kedelai meningkat. Produksi tahu kini turun dari sekitar 900 kilogram hingga satu ton per hari menjadi antara 600 hingga 700 kilogram per hari.

Penyebab Kenaikan Harga Plastik

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah (Jateng), July Emmylia, menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik disebabkan oleh gangguan pasokan global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan harga naphta, bahan baku plastik, dari sekitar 600 dolar AS per ton menjadi 900 dolar AS per ton, langsung memengaruhi harga plastik.

Menurut July, dampak terberat dirasakan oleh industri kecil menengah (IKM) dan usaha kecil menengah (UKM) sektor pangan yang sangat bergantung pada plastik sebagai kemasan utama. Untuk mengatasi masalah ini, Disperindag Jateng akan melakukan inspeksi dan pengawasan bersama kepolisian guna mencegah praktik penimbunan plastik.

Dalam jangka panjang, pihaknya juga akan mendorong penggunaan bioplastik, salah satunya berbahan baku pati singkong, meskipun harganya lebih mahal dibanding plastik berbasis petrokimia.

Pengusaha Mengeluh Akibat Kenaikan Biaya Produksi

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Frans Kongi, mengungkapkan bahwa harga biji plastik telah mengalami kenaikan 100 persen. Hal ini berdampak pada peningkatan ongkos produksi dan menurunkan produksi karena biaya terlalu tinggi.

Frans juga menyebut bahwa harga poliester, bahan baku lainnya, juga naik 100 persen. Kenaikan ini berpotensi melambungkan harga produk plastik, yang semakin sulit dijangkau masyarakat. Selain itu, sektor garmen juga terkena dampak karena membutuhkan poliester untuk beberapa produknya.

Frans berharap pemerintah dapat memberikan keringanan atau insentif untuk para pengusaha di industri plastik. Misalnya, dalam bentuk insentif pajak, agar mereka tetap bisa bertahan di tengah situasi sulit ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *