Kondisi Krisis Layanan Dasar di Aceh Pasca-Bencana Banjir dan Longsor
Setelah bencana banjir dan longsor yang terjadi akhir November 2025, Aceh kini menghadapi krisis layanan dasar yang sangat mengganggu kehidupan masyarakat. Banyak warga terpaksa mencari solusi ekstrem untuk bertahan hidup dalam situasi ini.
Warga Samadua Harus Naik Gunung Cari Sinyal
Di Kecamatan Samadua dan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, pemadaman listrik berdampak serius pada layanan komunikasi. Tidak hanya lampu yang mati berhari-hari, jaringan seluler di Samadua dilaporkan hilang total. Akibatnya, warga terpaksa naik ke puncak Gunung Kerambil, perbatasan antara Tapaktuan dan Samadua, demi mendapatkan sinyal telepon.
Berbeda dengan Tapaktuan, di mana jaringan seluler masih berfungsi karena adanya genset cadangan di BTS Telkomsel, warga Samadua harus mencari sinyal hingga ke atas gunung. Seorang warga setempat, Iwan, menyampaikan kekecewaannya terhadap kondisi ini. Ia menilai bahwa keadaan ini sangat menyulitkan aktivitas sehari-hari.
“Lampu sudah mati berhari-hari, jaringan juga hilang total. Kalau mau telepon atau kirim pesan, kami terpaksa naik ke atas gunung cari sinyal. Ini sangat menyulitkan,” ujarnya. Iwan meminta Telkomsel segera memperbaiki jaringan di Samadua agar aktivitas masyarakat kembali normal.
Warga Abdya Berebut Colokan Genset Warung Kopi
Di Aceh Barat Daya (Abdya), meskipun tidak terdampak langsung oleh bencana, infrastruktur kelistrikan rusak parah. Listrik padam total sejak 9 Desember 2025 hingga Minggu (14/12/2025). Kondisi ini juga melumpuhkan jaringan telekomunikasi dan internet, memicu kelangkaan gas LPG, serta antrean panjang BBM di SPBU.
Munawar, warga Abdya, mengungkapkan bahwa sebelum 9 Desember listrik sempat menyala sebentar dengan sistem bergilir, namun kini benar-benar padam. “Sekarang ke warung kopi tidak cukup bawa charger handphone, tapi sekalian bawa cok sambung, karena kita khawatir tidak kebagian,” ujarnya. Ia menambahkan, colokan di warung kopi terbatas sementara pengunjung meningkat tajam selama pemadaman.
Devia, warga Tangan-Tangan, rela menempuh perjalanan 15 menit ke Blangpidie hanya untuk mengisi daya ponsel. “Kami di sana minim warung kopi yang ada genset, jadi harus ke Blangpidie cas HP. Sampai di sini, warung juga penuh,” katanya.
Pencurian Trafo PLN di Banda Aceh dan Aceh Besar
Sebanyak 14 trafo listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) dilaporkan hilang dicuri di sejumlah lokasi wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar. Peristiwa pencurian ini terjadi sejak 28 November hingga 14 Desember 2025, menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan listrik masyarakat.
Asisten Manajer Keuangan dan Umum PLN UP3 Banda Aceh, Ahmad Denri Polman, membenarkan kejadian tersebut. “Terakhir kami terkonfirmasi ada 14 lokasi kehilangan trafo yang tersebar di wilayah kerja Unit Layanan Pelanggan Merduati, Lambaro, Keudebing, Syiah Kuala, dan Jantho,” ujarnya. PLN telah mengambil langkah cepat dengan berkoordinasi bersama kepolisian dan membuat laporan resmi atas hilangnya aset perusahaan.
Meski demikian, PLN memastikan seluruh trafo yang dicuri telah diganti agar pasokan listrik ke masyarakat tidak terganggu. Lokasi trafo yang hilang tersebar di sejumlah desa, antara lain Pantai Lampuuk, Meunasah Bale, Tibang, Keureuweung Krueng, Lampakuk, Inte Gajah, Weuraya, Beurawe, Punge, Emperom, Lamreh, Aneuk Galong, Lambung, Buga, dan Beurabong.
PLN mengimbau masyarakat untuk turut menjaga keamanan lingkungan dengan melaporkan aktivitas mencurigakan di sekitar tiang, gardu, atau jaringan listrik.
Wali Kota Banda Aceh Luapkan Kekecewaan
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap kondisi kelistrikan di Banda Aceh dan kinerja PT PLN. Ungkapan itu disampaikan melalui sambungan telepon dengan Manajer PLN UP3 Banda Aceh, Rudi Hamiri, yang kemudian diunggah ke akun Instagram pribadinya pada Jumat (12/12/2025).
Illiza menyoroti minimnya komunikasi dari pihak PLN kepada Pemerintah Kota Banda Aceh terkait pemadaman listrik yang hingga kini belum jelas penyelesaiannya. “Harusnya PLN telepon saya, jangan saya yang telepon PLN. Bentuk tanggung jawab saja sebetulnya,” ujarnya.
Menurut Illiza, pemadaman listrik berkepanjangan telah melumpuhkan aktivitas ekonomi di Banda Aceh. Sejumlah pelaku usaha, mulai dari UMKM, restoran, warung kopi hingga jasa katering, terpaksa menutup usaha karena ketiadaan listrik dan gas.
Pemulihan Pascabencana Mulai Terlihat di Aceh Tengah
Upaya percepatan pemulihan pascabencana banjir bandang di Sumatera mulai menunjukkan hasil nyata. Warga Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, melaporkan pasokan listrik kembali normal sejak Sabtu (13/12/2025). “Hari ini listrik aman, hidup dari subuh, jaringan pun ada,” kata Zayn.
PLN Datangkan Genset ke Beutong Ateuh Banggalang Nagan Raya
Sementara itu, PLN mendatangkan tiga unit genset ke Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, Minggu (14/12/2025), untuk memulihkan pasokan listrik setelah wilayah tersebut padam total selama tiga pekan akibat banjir bandang. Genset darurat yang dibawa PLN UP3 Meulaboh bersama PLN ULP Jeuram terdiri dari dua unit berkapasitas 36 kVa dan satu unit 7 kVa.
Bantuan ini dimobilisasi bersama TNI, Polri, dan Pemerintah Nagan Raya. “Tim kami saat ini sedang melakukan pengecekan menyeluruh pada jaringan distribusi,” ujar Manajer PLN ULP Jeuram, Sertino Anggara. Ia menegaskan penormalan dilakukan bertahap dengan mengutamakan keselamatan.
“Mohon doanya agar proses pemulihan berjalan lancar dan aktivitas saudara-saudara kita di Beutong Ateuh bisa segera kembali normal,” jelasnya.
Saat ini, listrik di Beutong Ateuh menyala enam jam per hari, mulai pukul 17.00 WIB hingga 23.00 WIB, untuk mengaliri rumah penduduk dan fasilitas publik. Sertino menambahkan, pasokan listrik wilayah tersebut selama ini berasal dari Takengon, Aceh Tengah.
“PLN sedang memulihkan jaringan semaksimalnya dari Angkup sampai dengan Beutong Ateuh. Kendala di lapangan karena akses jalan masih terbatas, hanya bisa dilalui roda dua, sehingga perbaikan dilakukan bertahap,” ujarnya.
Dengan listrik kembali normal di Aceh Tengah dan bantuan genset darurat yang mulai mengaliri Beutong Ateuh, tanda-tanda pemulihan pascabencana di Aceh semakin nyata, memberi harapan bagi masyarakat untuk segera bangkit dari masa sulit.











