Pemerintah Kabupaten Jepara Bergerak Cepat Tangani Bencana di Desa Tempur
Pemerintah Kabupaten Jepara segera merespons bencana yang terjadi di beberapa wilayah, termasuk Desa Damarwulan dan Desa Tempur. Salah satu langkah yang diambil adalah mendirikan Dapur Umum Kebencanaan di Desa Damarwulan, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Tujuannya untuk memastikan kebutuhan makanan siap santap dapat tersalurkan kepada warga yang terdampak bencana.
Dapur Umum ini tidak hanya menyediakan makanan siap saji, tetapi juga berupaya mengantarkan logistik bahan makanan ke penduduk Desa Tempur. Namun, akses jalan menuju desa tersebut masih terputus akibat longsoran dan banjir. Hanya bisa dilalui dengan cara jalan kaki.
Bantuan Logistik dan Kemanusiaan
Menurut Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, logistik sudah disiapkan di posko dapur umum untuk menyuplai makanan. Di antaranya, 100 bungkus makanan telah disalurkan ke warga Sumberejo yang terdampak banjir. Sisanya digunakan untuk konsumsi petugas dan relawan kebencanaan yang sedang membuka akses jalan menuju Tempur.
Selain itu, bantuan kemanusiaan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Jepara juga diberikan dalam bentuk Gas LPG 12 kilogram sebanyak 2 tabung, mie instan 5 dus, telur ayam 2 krat, BBM 100 liter untuk operasional genset, serta air mineral untuk memenuhi kebutuhan darurat warga hingga akses jalan tersambung.
Kewaspadaan Tinggi dari Pemerintah Daerah
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jepara, Ary Bachtiar, mengimbau seluruh camat dan kepala desa di wilayah rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan. Hal ini dilakukan karena bencana serupa juga dilaporkan terjadi di beberapa titik lain seperti banjir di Sumberjo dan longsor di Bungu.
Ribuan warga Desa Tempur terisolir lebih dari 20 jam sejak bencana longsor menutup akses satu-satunya pada Jumat (9/1/2026) sore. Jalur utama penghubung Desa Damarmulan dengan Desa Tempur terputus setelah badan jalan sepanjang kurang lebih 60 meter di satu titik longsoran tersapu banjir.
Hingga Sabtu (10/1/2026), sore, masyarakat Desa Tempur masih terisolasi di desanya sendiri. Tidak hanya itu, akses internet dan listrik juga terputus. Distribusi pasokan makanan pun belum bisa menjangkau penduduk Desa Tempur yang berada di lereng Gunung Muria.
Upaya Membuka Akses Jalan
Terputusnya semua akses menuju Desa Tempur menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Jepara. Ratusan relawan BPBD, PMI, dan berbagai kelompok peduli bencana diterjunkan untuk membuka akses jalan yang tertutup material longsoran. Lima unit alat berat dikerahkan untuk bisa membuka akses jalan dari material longsor.
Satu demi satu titik material longsor yang menutup jalan disingkirkan. Tingginya curah hujan dan akses jalan yang sempit menjadi kendala tim relawan dan petugas untuk membuka 18 jalan yang terputus.
Komunikasi Terhambat
Sekda Ary Bachtiar menegaskan bahwa komunikasi pemerintah kabupaten dengan pemerintah Desa Tempur terputus lantaran listrik dan akses internet mati. Pemerintah Kabupaten Jepara menaruh harapan besar pada Pemerintah Desa Tempur untuk bisa melindungi dan mencukupi kebutuhan makanan masyarakat selama terisolir.
Untuk bisa membuka komunikasi dengan pemerintah dan masyarakat Desa Tempur, pihaknya membuka jalur alternatif di kawasan lahan perhutani. Digunakan untuk mengirimkan logistik untuk kebutuhan makanan dan genset.
Genset akan dikirim agar lampu penerangan darurat menyala di beberapa titik Desa Tempur. Termasuk menyediakan daya listrik bagi perangkat dan masyarakat desa agar komunikasi dengan pemerintah kecamatan dan pemerintah kabupaten tidak terputus.
Strategi Paralel untuk Mengatasi Terisolir
Pemerintah daerah juga menjalankan dua strategi paralel untuk segera mengatasi terisolasinya Desa Tempur. Pertama, melakukan perbaikan permanen pada jalan yang terputus dengan membuka akses jalan tertutup material. Kedua, yaitu membuka jalur alternatif darurat untuk akses masyarakat. Mengingat perbaikan jalan yang putus diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama akibat kerusakan yang cukup parah.
Kami sudah berkoordinasi dengan Perhutani untuk meminjam lahannya guna membuka jalur alternatif sementara. Harapannya, dalam waktu dekat sudah ada akses darurat yang bisa digunakan warga.
Kendala dalam Evakuasi
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, menyampaikan bahwa evakuasi material longsor masih terkendala karena intensitas hujan yang tinggi. Pihaknya tidak bisa memaksakan evakuasi dengan cepat dalam kondisi curah hujan tinggi karena bisa mengancam keselamatan petugas dan relawan jika terjadi longsor susulan.
“Untuk pembukaan jalur darurat Medani ke Kaliombo segera dimulai, nanti sampai ke jalan yang hilang 60 meter. Kalau jalan tersebut tidak diperbaiki, akses ke sana (Desa Tempur) cuma bisa dilalui dengan jalan kaki,” tuturnya.











