Banjir di Kampung Bendungan Mulai Surut, Warga Berharap Solusi Permanen
Banjir yang terjadi di Kampung Bendungan, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, mulai mengalami penurunan setelah dilakukan perbaikan darurat pada tanggul Sungai Citarum yang jebol. Genangan air kini hanya tersisa sekitar 20–30 sentimeter di dekat titik tanggul yang rusak, sedangkan permukiman warga sudah kering.
Pantauan dari lokasi menunjukkan bahwa beberapa petugas tengah melakukan penanganan darurat dengan membawa karung-karung berisi pasir dan menyusun bambu untuk memperkuat tanggul tersebut. Mereka juga menggunakan geobag sebagai bahan utama dalam pemasangan darurat.
Warga setempat, seperti Charli, mengatakan bahwa rumahnya yang sebelumnya terendam hingga 50 sentimeter kini telah surut. Meski genangan masih ada di dekat tanggul, ia berharap adanya solusi permanen agar kejadian serupa tidak terulang.
Penanganan Darurat Dilakukan dalam Tiga Hari
Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWS Citarum), Jaya Sampurna, menjelaskan bahwa penanganan darurat telah dimulai sejak beberapa hari lalu dan ditargetkan rampung dalam tiga hari. Ia menekankan bahwa penanganan ini cukup kompleks karena tanah di wilayah Muara Gembong adalah tanah aluvial, yang membutuhkan perawatan ekstra.
Untuk sementara, BBWS Citarum menggunakan geobag yang diperkuat dengan dolken untuk menutupi titik tanggul yang jebol. Dalam penanganan darurat tersebut, BBWS Citarum menurunkan satu kontainer geobag dengan total sekitar 1.000 unit. Setiap geobag memiliki volume sekitar setengah meter kubik.
Jaya menilai bahwa diperlukan kajian dan simulasi untuk memastikan solusi permanen benar-benar andal. “Penanganan dengan menggunakan sheet pile, ripetment segala macam itu banyak yang memang kalau kondisinya air besar itu banyak yang kolaps juga,” ujarnya.
Rumah Warga Rusak Parah Akibat Banjir
Sebelumnya, banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Citarum menyebabkan satu rumah di Kampung Bendungan mengalami kerusakan parah. Bagian belakang rumah ambruk, tiang-tiang retak, dan peralatan rumah tangga terbawa hanyut.
Pemilik rumah, Sarmina (70), menceritakan bagaimana saat itu dia sedang salat isya dan tiba-tiba mendengar suara dentuman keras dari luar. Suaminya langsung melihat keluar dan menemukan air sungai meluap. Ia dan keluarga langsung dievakuasi ke tempat yang lebih aman.
Saat ini, rumah tersebut tidak dapat ditempati dan Sarmina bersama suami mengungsi ke rumah anaknya. Ia berharap adanya bantuan perbaikan dari pemerintah karena kondisi rumah sangat rusak dan tidak bisa ditempati kembali.
Data Korban dan Penanganan Darurat
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat sebanyak 533 Kepala Keluarga (KK) di lima kampung terdampak banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Citarum. Ketinggian air mencapai 10 hingga 60 sentimeter.
Lima kampung terdampak meliputi:
* Kampung Bendungan RT 03/05 dengan jumlah 141 kepala keluarga (KK)
* Kampung Gedung Cinde RT 01/05 dengan 105 KK
* Kampung Singkil RT 02/06 sebanyak 152 KK
* Kampung Gedung Bokor RT 03/03 dengan 30 KK
* Kampung Biyombong RT 03/06 sebanyak 125 KK
Meskipun ratusan rumah warga terendam, tidak ada korban jiwa atau luka. Saat ini, warga masih bertahan di rumah masing-masing meski kondisi arus air cukup deras.
Bantuan Logistik dan Rekomendasi Pembangunan Turap
BPBD Kabupaten Bekasi telah menyalurkan bantuan logistik ke lokasi terdampak, seperti bronjong, karung, terpal, pop mie, air mineral, serta paket sembako. Selain itu, mereka juga melakukan koordinasi dan pendataan bersama RT, kepala dusun, serta pihak pemerintah desa.
Dodi Supriadi, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, merekomendasikan pembangunan turap permanen di sepanjang bantaran Sungai Citarum guna mencegah kejadian serupa terulang, khususnya saat debit air meningkat.











