"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

5 Pengakuan Mengejutkan AKBP Basuki: Hubungan Terlarang dengan Dosen, Kekagetan atas Kematian Levi, Detik-detik Kematian Diungkap

Fakta-Fakta Terkait Kematian Dosen Untag Semarang yang Terungkap

Sejumlah fakta terkait kematian Dwinanda, seorang dosen Universitas 17 Agustus 1945 Semarang (Untag Semarang), mulai terungkap setelah AKBP Basuki memberikan pernyataan resmi. Sebelumnya, ia sempat membantah hubungan asmara dengan korban, namun kini mengakui bahwa mereka memiliki hubungan kumpul kebo.

AKBP Basuki, Kasubdit Dalmas Direktorat Samapta Polda Jateng, resmi ditahan setelah namanya terseret dalam kasus kematian Levi (35). Ia disebut sebagai saksi kunci dalam penyelidikan. Berikut adalah beberapa poin penting terkait peristiwa tersebut:

1. Membantah Hubungan Asmara

Melalui keterangan yang diberikan, AKBP Basuki menegaskan bahwa ia tidak memiliki hubungan asmara dengan Levi. Menurutnya, perkenalan mereka terjadi karena rasa simpati setelah kedua orang tua Levi meninggal. Sejak saat itu, ia membantu biaya pendidikan doktoral yang sedang ditempuh oleh Levi.

Ia menekankan bahwa hubungan mereka hanya sebatas bantuan dan tidak seperti yang dipikirkan publik. “Saya sudah tua. Tidak ada hubungan seperti yang orang pikirkan,” ujarnya.

2. Mengantar Ke Rumah Sakit

AKBP Basuki juga mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan Levi sempat menurun sehari sebelum kejadian. Ia menyebut bahwa Levi memiliki riwayat hipertensi serta gula darah tinggi. Saat itu, Levi menunjukkan tanda-tanda lemah hingga muntah-muntah, sehingga AKBP Basuki memutuskan untuk mendampinginya di dalam kamar kostel.

Setelah melihat kondisi Levi semakin menurun, ia membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan. “Saya antar ke rumah sakit dulu. Terakhir saya lihat, dia masih pakai kaus biru-kuning dan celana training,” ungkapnya.

3. Mengaku Kumpul Kebo

Meski awalnya membantah hubungan asmara, AKBP Basuki akhirnya mengakui bahwa dirinya dekat dengan Levi. Pengakuan ini disampaikan di hadapan penyidik Bidpropam Polda Jateng. Ia juga mengaku bahwa dirinya tinggal bersama Levi tanpa ikatan pernikahan, alias kumpul kebo.

Selain itu, keduanya disebutkan berada dalam satu kartu keluarga (KK) dengan alamat Kedungmundu, Tembalang, Kota Semarang. “Iya, mereka ada hubungan itu (asmara) dan tinggal satu rumah,” kata AKBP Basuki.

Pihak kepolisian masih akan mendalami pengakuan tersebut dan melakukan pemeriksaan kembali untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.

4. Kaget Menemukan Levi Tewas

AKBP Basuki diketahui merupakan orang pertama yang melaporkan kematian Levi kepada resepsionis hotel hingga pihak kepolisian. Ia mengaku kaget saat menemukan Levi sudah tewas tanpa busana di lantai kamar. Menurutnya, hidung dan mulut Levi mengeluarkan darah. Ia berdalih bahwa kondisi tersebut dipicu oleh reaksi tubuh menjelang kematian.

5. Tahu Detik-Detik Kematian Levi

Namun, pengakuan AKBP Basuki kembali berbeda saat diperiksa oleh Propam Polda Jateng. Ia ternyata berada satu kamar dengan Levi menjelang detik-detik kematian korban. “Iya tahu (detik-detik Kematian). Jadi AKBP B ini adalah saksi kunci,” kata Kombes Artanto.

Sidang Kode Etik Dilakukan Secepatnya

AKBP Basuki kini telah dilakukan penempatan khusus (patsus) buntut dari kasus kematian Levi. Ia akan ditahan selama 20 hari ke depan, terhitung sejak Rabu (19/11/2025). Pelanggaran yang dimaksud adalah AKBP Basuki tinggal bersama seorang wanita tanpa ikatan pernikahan yang sah.

AKBP Basuki dijadwalkan akan menjalani sidang kode etik sebelum masa penahanannya habis. Kombes Artanto mengatakan sidang kode etik akan dilakukan secepatnya. “Karena ini merupakan pelanggaran etik maka sanksi terberat adalah di PTDH (Pemberhentian Dengan Tidak Hormat/dipecat),” tegasnya.

Hasil Autopsi Korban

Berbeda dari pengakuan AKBP Basuki yang menyebut Levi sakit sehari sebelum tewas, hasil autopsi secara lisan menyatakan korban meninggal karena pecah jantung. Kondisi itu disebutkan terjadi karena Levi melakukan aktivitas berlebihan sebelum tewas.

Meskipun demikian, pihak kepolisian masih menunggu hasil resmi dari autopsi Levi. “Sudah selesai autopsi. Belum dapat hasil tertulis,” ujar Dirreskrimum Polda Jateng, Kombes Dwi Subagio.

Dwi juga mengatakan pihaknya masih akan melakukan pendalaman terkait penyebab kematian Levi. “Masih pendalaman,” ucapnya.

Menurut catatan medisnya, Levi memang diketahui sempat berobat ke rumah sakit di Telogorejo selama dua hari berturut-turut, yaitu 15-16 November 2025. Polisi pun mengungkap dugaan awal Levi tewas karena sakit. “Penyebab kematian korban diduga karena sakit. Sebab, dua hari berturut-turut (15-16 November 2025), korban berobat ke Rumah Sakit Telogorejo, Semarang,” ungkap Kapolsek Gajahmungkur, AKP Nasoir.

Namun, pihak keluarga menilai kematian Levi janggal. Sebab, kerabat Levi, Tiwi, mengaku mendapat kabar mengenai tewasnya korban cukup lama dari waktu jenazah ditemukan. Diketahui, Levi ditemukan tewas pada Senin (17/11/2025) pukul 5.30 WIB, namun pihak keluarga baru mendapat kabar pada Senin petang.

Selain itu, wajah korban dalam foto ketika ditemukan tewas sangat berbeda dari kondisi semasa hidup. “Informasinya keluar darah dari hidung dan mulut korban. Nah, ini yang masih membuat keluarga korban merasa janggal atas kematian ini,” ucap Tiwi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *