Permintaan Sewa Pabrik dan Gudang di Indonesia Melonjak
Permintaan sewa pabrik dan gudang di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan sepanjang tahun ini. Menurut data dari Leads Property Services Indonesia, sekitar 90% dari permintaan tersebut berasal dari perusahaan-perusahaan asal Tiongkok. Hal ini menjadi angin segar bagi pelaku kawasan industri dan pergudangan, meskipun juga menyimpan potensi risiko jangka panjang akibat dinamika geopolitik global.
Esti Susanti, Head of Industrial Services dari Leads Property, menjelaskan bahwa minat investor China terlihat merata di berbagai sektor, termasuk elektronik, komponen otomotif—terutama kendaraan listrik—dan fashion premium. Ia menambahkan bahwa hingga akhir tahun ini, sebagian besar permintaan masih datang dari Tiongkok, sementara sisanya sekitar 10% berasal dari Eropa.
Alih-alih membeli tanah atau pabrik bekas, investor China lebih memilih untuk menyewa bangunan siap pakai agar produksi dapat segera berjalan. Kebutuhan mendadak ini turut meningkatkan permintaan gudang berukuran fleksibel, mulai dari 2.000 meter hingga lebih dari 10.000 meter persegi.
Data Leads Property mencatat bahwa hingga akhir tahun 2025, permintaan sewa gudang dan pabrik di Jawa mencapai 310.000 meter persegi. Sementara itu, pasokan pergudangan dan pabrik sewa di Jakarta dan sekitarnya hingga akhir tahun ini mencapai total lebih dari 2,5 juta meter persegi. Tingkat hunian pasokan gudang dan pabrik sewa berkisar antara 90%-92%.
Lonjakan investor China ini tidak hanya disebabkan oleh Indonesia sebagai pasar konsumsi besar, tetapi juga karena tekanan ekspor akibat perang dagang dengan Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya. Esti menilai bahwa perang dagang ini memberikan keuntungan bagi Indonesia.
Strategi Pengembang Kawasan Industri
Melihat peluang yang besar, pengembang kawasan industri Indonesia tidak tinggal diam. Banyak dari mereka kini aktif melakukan promosi langsung ke Tiongkok, memetakan sektor-sektor yang belum memiliki basis produksi di Indonesia, lalu mendatangi perusahaan-perusahaan tersebut dengan pendekatan jemput bola.
Menariknya, permintaan dari Eropa, meski jumlahnya kecil, datang dari sektor elektronik yang sebelumnya pernah memiliki basis produksi di Indonesia. Setelah tersingkir akibat kompetisi inovasi dengan Tiongkok, sejumlah pemain Eropa kini kembali melirik Indonesia sebagai lokasi produksi.
Namun demikian, pelaku kawasan industri mengingatkan adanya karakteristik unik dari investor Tiongkok, yakni kemampuan memindahkan pabrik secara cepat. Dengan mesin-mesin berteknologi tinggi dan investasi yang relatif kecil dibandingkan pabrik tradisional, mereka dapat berpindah lokasi hanya dengan kontrak sewa lima tahun.
“Karena inovasi teknologi mereka tinggi, mereka bisa produksi di lahan 5.000 meter yang dulu butuh 10.000 meter. Mereka efisien dan sangat mudah pindah kalau ada lokasi yang lebih murah,” jelas Esti.
Potensi Pertumbuhan Sektor Logistik dan Industri
Managing Director Asia Tenggara JLL, Michael Glancy, memperkirakan bahwa sektor logistik dan industri tetap menjadi area dengan potensi pertumbuhan besar. Data JLL menunjukkan bahwa pasokan gudang logistik modern di wilayah Jabodetabek telah meningkat tiga kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir, dengan tingkat hunian mencapai 94% (dibandingkan 86% di kawasan APAC), serta permintaan baru yang diperkirakan mendekati 1 juta meter persegi dalam tiga tahun ke depan.
Berdasarkan data JLL, sekitar setengah dari total permintaan berasal dari perusahaan Tiongkok. Tren permintaan pabrik juga bergeser dari fasilitas yang dibangun khusus menjadi solusi sewa siap pakai.
Menurutnya, lonjakan permintaan dari perusahaan-perusahaan asal Tiongkok adalah tren signifikan, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga untuk seluruh Asia Tenggara. Hal ini mencerminkan evolusi strategi diversifikasi properti yang dilakukan oleh Tiongkok.
Produsen berpengalaman dari Tiongkok kini aktif mendiversifikasi rantai pasokan mereka, dan sektor industri serta logistik Indonesia yang kuat semakin memantapkan posisinya sebagai tujuan utama dalam jaringan manufaktur dan distribusi yang terus berkembang ini.











