Kondisi Darurat Bencana di Bandung Raya dan Wilayah Jawa Barat
Bencana alam seperti banjir dan longsor kembali menjadi ancaman serius bagi wilayah Bandung Raya dan sebagian besar Jawa Barat. Pemerintah setempat terus meningkatkan langkah-langkah tanggap darurat untuk menghadapi situasi ini. Bupati Bandung, Dadang Supriatna, bersama pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) telah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir dan longsor.
Status tersebut berdasarkan Surat Keputusan Bupati Nomor 300.2.1/KEP.731-BPBD/2025 yang berlaku dari tanggal 6 hingga 19 Desember 2025. Dalam SK ini, sebanyak 15 kecamatan di Kabupaten Bandung ditetapkan sebagai wilayah fokus tanggap darurat. Setiap camat di wilayah tersebut wajib memberlakukan piket siaga 1 selama masa tanggap darurat bencana.
“Camat harus tetap berada di wilayah kerja masing-masing. Mereka harus segera mengoordinasikan jajaran dalam merespons laporan kejadian, termasuk melalui informasi di grup aplikasi obrolan,” ujar Dadang Supriatna saat meninjau titik longsor di Kampung Condong, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Sabtu 6 Desember 2025.
Daftar 15 kecamatan yang masuk dalam status tanggap darurat bencana antara lain: Arjasari, Banjaran, Bojongsoang, Cangkuang, Cimaung, Ciwidey, Dayeuhkolot, Katapang, Kertasari, Margaasih, Margahayu, Pameungpeuk, Pangalengan, Pasirjambu, Soreang. Nantinya, SK ini akan direvisi dengan menambahkan satu kecamatan lagi, yakni Baleendah.
Selama masa tanggap darurat bencana, semua kepala organisasi perangkat daerah bekerja sama dengan Forkopimda Kabupaten Bandung dalam penanganan. Dadang juga menyampaikan bahwa Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sudah memberikan dukungan berupa bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, termasuk bantuan dari Basarnas dalam pencarian korban dan evakuasi.
Pembatasan Area Longsor dan Penanganan Darurat
Untuk memitigasi risiko longsoran susulan dan memastikan kelancaran evakuasi warga, Pemkab Bandung bersama Basarnas memberlakukan pembatasan akses di area longsor. Hanya orang dengan kepentingan berkepentingan yang diperbolehkan masuk ke area tersebut.
“Kami turut mengungsikan warga yang terancam dampak longsor. Kami menyiapkan tempat pengungsian dan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan logistik. Lokasi tenda pengungsian berada di titik aman. Warga yang terancam dapat mengungsi ke rumah saudara atau ke tenda-tenda dari Pemkab,” ujar Dadang.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, didampingi Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Noneng Komara Nengsih, melakukan monitoring penanganan bencana longsor di Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, pada hari yang sama.
Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat juga telah memberikan bantuan ke lokasi bencana tersebut. Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat menyalurkan bantuan logistik senilai Rp 270.336.630, yang berasal dari APBN sebesar Rp 230.569.500 dan APBD sebesar Rp 39.767.130 pada Jumat 5 Desember 2025. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan makanan, sandang, perlengkapan keluarga, serta peralatan pengungsian.
Korban dan Kerusakan Akibat Bencana
Bencana longsor di Desa Wargaluyu mengakibatkan korban luka dan kerusakan hunian warga. Berdasarkan data sementara, satu warga bernama Muhammad Ridwan mengalami luka dan telah mendapatkan perawatan medis di RS Welas Asih. Selain itu, masih terdapat tiga warga, yaitu Citra, Aisyah, dan Alfa yang hingga saat ini masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan.
Longsor juga menyebabkan 6 unit rumah mengalami kerusakan berat dan berdampak pada total 20 jiwa dari 7 kepala keluarga, terdiri dari 3 lansia, 14 dewasa, 2 anak, dan 1 balita.
Sebelumnya, Pemda Provinsi Jawa Barat telah bergerak cepat melakukan peninjauan dan penyaluran bantuan bagi warga terdampak banjir di Kabupaten Bandung, Jumat 5 Desember 2025. Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Jabar Akhmad Taufiqurrahman bersama Biro Umum, BPBD, DP3AKB, dan BAZNAS Jabar meninjau sejumlah titik terdampak di Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang.
Akhmad menambahkan, masyarakat berharap adanya penanganan banjir jangka panjang. Wilayah tersebut merupakan titik rendah, sehingga potensi banjir selalu ada. “Harapan masyarakat adalah normalisasi sungai serta penambahan embung retensi. Pak Wakil Bupati menyampaikan bahwa Kabupaten Bandung membutuhkan sekitar 14 embung retensi tambahan,” katanya.
Peristiwa Rumah Roboh di Kota Bandung
Diduga karena fondasi yang rapuh lalu tergerus air saat hujan lebat, sebuah rumah roboh di Jalan Geger Arum, RT 4 RW 6, Kelurahan Isola, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung. Tak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, meski empat orang yang tertimpa reruntuhan mengalami luka-luka.
Camat Sukasari, Suhar Yanto, menyampaikan, rumah itu roboh pada Jumat 5 Desember 2025 petang, sekitar pukul 17.30. Menurut dia, rumah itu ambruk diduga karena pondasi yang rapuh, yang diperparah dengan hujan lebat dan angin kencang yang mengguyur wilayah Sukasari.
“Menurut kajian sementara adalah rumah yang roboh akibat fondasi yang tergerus air, namun nanti dianalisis lebih lanjut oleh tim ahli. Selanjutnya, yang utama bagi kami sekarang melakukan proses evakuasi barang yang menghalangi akses rumah di belakang,” kata Suhar, Sabtu 6 Desember 2025.
Untuk sementara, para korban tinggal di rumah warga terdekat. Banyak warga menawarkan rumahnya untuk tempat tinggal sementara korban, namun korban memilih untuk tinggal sementara di rumah keluarganya.
Longsor di Lembang dan Tindakan Darurat
Tiga rumah warga di Kampung Sukapinggir, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, mengalami kerusakan akibat longsor yang terjadi pada Kamis dan Jumat 5 Desember 2025. Peristiwa yang dipicu jebolnya tembok penahan tanah (TPT) dan kebocoran pipa air bersih tersebut berdampak pada 11 warga, namun tidak menimbulkan korban jiwa.
Material longsor berasal dari lereng permukiman yang tidak mampu menahan tekanan tanah setelah diguyur hujan deras. Kondisi diperburuk oleh rembesan air dari saluran PDAM yang sudah lama dikeluhkan warga setempat. Tiga rumah yang terkena material longsoran masing-masing milik Agus, Sarmi, dan Ayi Bama.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat langsung menerjunkan petugas begitu laporan diterima. Petugas Lapangan BPBD, Suheri, menyampaikan bahwa kerusakan ketiga rumah termasuk dalam kategori sedang dan masih terdapat potensi pergerakan tanah.
Penanganan Bencana di Tasikmalaya
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya telah mengambil langkah tegas menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi, yang diprediksi melanda Indonesia. Bupati Tasikmalaya resmi mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Siaga Darurat Bencana yang berlaku panjang, yakni mulai September 2025 hingga April 2026.
Penetapan status siaga ini mencakup seluruh kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya, sejalan dengan peringatan BMKG dan edaran dari Mendagri serta Gubernur Jawa Barat. Kepala Bidang Darurat Logistik (Darlog) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya, Cahyono Rahmat, menjelaskan bahwa siklus hidrometeorologi mencakup berbagai kategori ancaman. Pihaknya menegaskan telah melakukan langkah-langkah pencegahan dini untuk meminimalisir risiko. Upaya ini mencakup mitigasi, pemahaman tata cara evakuasi, hingga penyelamatan saat terjadi bencana.
“Kawasan Indonesia sedang dalam ancaman siklus bencana Hidrometeorologi. Ini kategorinya banyak, mulai dari gerakan tanah (longsor, retakan), banjir, hingga angin kencang dan puting beliung,” kata Cahyono Rahmat, Minggu 7 Desember 2025.
Ancaman Banjir Rob di Indramayu
Di Indramayu, BPBD setempat memberi peringatan ancaman banjir rob di sepanjang pesisir utara wilayahnya. Selain Eretan Wetan, Eretan Kulon, Kertawinangun di Kecamatan Kandanghaur, Desa Pasekan, Kecamatan Indramayu juga wilayah yang berada dalam ancaman banjir rob. Ancaman banjir rob dari BPBD ini berdasarkan peringatan dari Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Kepala Pelaksana BPBD Indramayu, Dadang Oce Iskandar, mengungkapkan ancaman banjir rob selama bulan Desember atau akhir tahun 2025 ini. Selama Desember 2025, diprediksi ada dua kali puncak gelombang pasang yang berpotensi menyebabkan banjir rob besar. Puncak gelombang pertama sudah terjadi awal Desember 2025 seperti sepekan ini terjadi di Eretan Wetan. Kemudian nanti puncaknya antara tanggal 10 sampai 15 Desember 2025.
“Selain pertengahan Desember, ancaman gelombang pasang kembali muncul di akhir bulan atau akhir tahun,” tutur Dadang Oce.
Peringatan Longsor di Garut
Di Garut, para pengguna jalan diminta meningkatkan kewaspadaan saat melintas di sejumlah ruas jalan yang masuk kategori rawan bencana, terutama longsor. Peringatan itu disampaikan Satuan Lalu Lintas Polres Garut menyusul kembali terjadinya beberapa insiden longsor yang mengganggu arus kendaraan.
Kasatlantas Polres Garut, Iptu Aang Andi Suhandi, mengatakan, sejumlah ruas jalan yang meliputi jalan provinsi, kabupaten, hingga jalan desa kerap terdampak bencana alam. Dalam beberapa kejadian sebelumnya, akses antardaerah bahkan sempat terputus akibat material longsoran yang menutup badan jalan.
Peristiwa terbaru terjadi di wilayah Desa Mekarwangi, Kecamatan Cihurip. Longsor menimpa badan jalan raya Ciparay pada Jumat malam 5 Desember 2025 dan menutup seluruh jalur penghubung. Material berupa tanah, batu, serta pepohonan longsor dari tebing setinggi sekitar 10 meter dan melintang hingga 5 meter.
“Berdasarkan laporan Kapolsek Cihurip, longsoran menutup jalan sepenuhnya sehingga kendaraan tidak bisa melintas. Petugas langsung melakukan pengecekan lokasi untuk memastikan kondisi dan potensi bahaya lanjutan,” ujar Aang, Minggu 7 Desember 2025.
Penanganan Banjir di Bogor
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas PUPR dan Kecamatan Cibinong melakukan inspeksi mendadak dan mencari solusi terhadap luapan air Setu Cikaret, Kelurahan Harapanjaya, Kecamatan Cibinong yang kerap mengakibatkan banjir. Bencana itu yang disebabkan luapan air dari Setu Cikaret terjadi pada Sabtu, 6 Desember 2025 dan merendam permukiman warga yang ada di Kelurahan Harapanjaya.
Camat Cibinong Acep Sajidin mengatakan banjir yang di Kelurahan Harapanjaya diakibatkan karena adanya luapan air dari Setu Cikaret. Luapan air juga terjadi di Kelurahan Pakansari dan Kelurahan Tengah, Kecamatan Cibinong.
“Ada 30 warga di Kelurahan Pakansari dan 50 warga di Kelurahan Tengah yang terdampak banjir pada hari Sabtu malam,” ujar Acep Sajidin.
Ia mengatakan, luapan banjir ini karena diakibatkan intensitas hujan yang sangat tinggi dan merendam pemukiman warga yang ada di tiga Kelurahan di Kecamatan Cibinong.











