"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Daerah  

Pencarian 3 korban longsor di Kampung Condong ditunda hujan, dilanjutkan Senin pagi dengan alat berat

Cuaca Dingin dan Kekhawatiran Warga Kampung Condong

Cuaca di Kampung Condong RW 9, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung pada Jumat 5 Desember 2025 sore masih terasa dingin, meskipun hujan deras yang telah mengguyur sebelumnya mulai reda. Dengan suasana yang masih basah dan dingin, salah seorang warga setempat, Teteng, pulang melewati lereng dengan perasaan cemas. Dia melihat saluran air di wilayah tersebut mengalirkan debit air yang sangat deras.

Setelah sampai di rumah, Teteng mengetahui bahwa cucunya, Alfa, pamit keluar untuk melihat saluran air. Alfa berangkat bersama temannya, Ramdan. “Cucu tinggal di sebelah rumah saya. Setelah hujan berhenti, saya pulang, sedangkan Alfa pergi ke luar. Setelah mengetahui cucu keluar rumah, suasana hati makin tak keruan,” ucap Teteng di Kampung Condong, Desa Wargaluyu, Minggu 7 Desember 2025.

Alfa merupakan salah satu warga yang masih tertimbun material longsor. Selain Alfa, terdapat dua warga lain yang juga belum ditemukan hingga Minggu 7 Desember 2025, yakni Aisyah yang berusia 70 tahun, dan Citra (19).

Menurut penuturan Teteng, Alfa tidur siang setelah menyelesaikan ujian akademik sekolah kelas VI SD. Saat Jumat siang, dia mendengar perkataan Alfa yang senang karena telah menyelesaikan ujian akademik sekolah. “Cucu mengutarakan kegembiraannya, segera lulus sekolah (SD). Dia pun tidur siang di tengah hujan yang mengguyur deras. Setelah cucu bangun, hujan telah berhenti. Sebelum cucu berangkat, keluarga telah melarang. Namun, cucu terus bersikeras ingin keluar rumah,” tutur dia dengan mata berkaca-kaca.

Sekitar pukul 16.00, Teteng mendengar dentuman, segera bergegas melihat ke arah luar. Kakek berusia 60 tahun itu menyaksikan tanah berikut pepohonan yang muncul begitu cepat. Suasana hati Tatang makin kacau, karena tahu cucunya berada di sekitar saluran air. Sesaat setelah itu, dia memanggil-manggil cucunya, tapi tak kunjung ada respons. Sementara itu, Ramdan yang sempat kena terjangan material longsor dapat diselamatkan.

Teteng mencurahkan isi hatinya, masih berharap, cucunya ditemukan dalam kondisi masih bernapas. Namun, andai kata takdir menunjukkan hal lain, Tatang mengaku menguatkan diri untuk menerima kenyataan. “Kami terus berdoa, Allah swt senantiasa memberikan keselamatan bagi cucu. Seumpama tidak bisa selamat, kami ingin jasad cucu bisa ditemukan. Kami tak bisa tenang selama belum melihat cucu,” ucap dia.

Pencarian Korban Masih Berlangsung

Pantauan di lokasi, tim gabungan melakukan pencarian dengan dukungan alat berat pada Minggu 7 Desember 2025. Sebelumnya, tim sempat kesulitan menempatkan alat berat karena akses jalan maupun kondisi tanah di titik longsor. Untuk memastikan kelancaran pencarian korban masih tertimbun, Bupati Bandung Dadang Supriatna pun kembali meninjau ke Kampung Condong RW 9, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Minggu 7 Desember 2025. Sehari sebelumnya, Dadang Supriatna beserta jajaran pun meninjau ke Kampung Condong dan sejumlah titik banjir di wilayah lain.

Belum ditemukan

Pada kesempatan terpisah, Kapolsek Pameungpeuk AKP Asep Dedi menyampaikan, tim gabungan terus melakukan pencarian Alfa, Aisyah, dan Citra. Hujan turun di lokasi longsor mulai pukul 14.45, berisiko menyebabkan longsor susulan. Berkenaan akan hal itu, tim gabungan menghentikan sementara pencarian, dilanjutkan Senin 8 Desember 2025 pagi. “Per Minggu pukul 14.45, para korban belum ditemukan. Pencarian diteruskan pada Senin pagi,” ucap Asep Dedi.

Penyebab Longsoran

Sistem penataan air permukaan atau drainase yang kurang baik dan terakumulasi di sekitar lokasi longsor, serta curah hujan yang tinggi dengan durasi cukup lama diperkirakan menjadi faktor penyebab longsor di Kampung Condong RT 6 dan RT 7 RW 9, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Demikian ucap Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria melalui keterangan tertulis, Minggu 7 Desember 2025.

Lana Saria menyampaikan sejumlah faktor lain yang diperkirakan turut menjadi penyebab longsor. Hal itu, yakni kemiringan lereng yang curam, kondisi tanah pelapukan dengan sirat gembur, sarang, dan mudah luruh terkena air. Gerakan tanah atau longsor di Kampung Kondang, ucap Lana, diperkirakan berupa longsoran tipe rotasional. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Garut dan Pamengpeuk (Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1992), batuan penyusun di lokasi bencana termasuk ke dalam satuan Andesit Waringin-Bedil, Malabar Tua, terdiri atas perselingan lava, breksi, tuf, bersusunan andesit dan hornblenda.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *